BOJONEGORO – Kepulan asap kemenyan, semerbak bunga, lantunan doa, hingga arak-arakan gunungan hasil bumi mewarnai tradisi Sedekah Bumi di Desa Sidodadi, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, Rabu (9/9/2026).
Sejak pagi, warga berbondong-bondong mengikuti rangkaian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut.
Suasana semakin semarak ketika gunungan hasil bumi mulai diarak dari Balai Desa Sidodadi menuju punden yang berjarak sekitar dua kilometer.
Gunungan menjadi salah satu pusat perhatian dalam kegiatan tersebut.
Berbagai hasil bumi, mulai sayur-mayur, buah-buahan hingga ayam panggang, ditata dan dihias sedemikian rupa sebelum dibawa dalam kirab bersama warga.
Bagi masyarakat Sidodadi, gunungan bukan hanya susunan hasil panen.
Di dalamnya terkandung simbol kemakmuran, kesuburan, sekaligus ungkapan syukur atas rezeki dan hasil bumi yang diberikan Tuhan.
Rangkaian ritual kemudian berlangsung dalam suasana khidmat.
Ketika doa dipanjatkan, warga mengikuti prosesi dengan penuh penghayatan.
Tradisi tersebut menjadi salah satu cara masyarakat menjaga hubungan dengan warisan budaya sekaligus mempererat persaudaraan antarwarga.
Kegiatan Sedekah Bumi Sidodadi turut dihadiri Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro, jajaran Forkopimcam, Pemerintah Desa Sidodadi, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga setempat.
Dalam kesempatan tersebut, Nurul Azizah mengapresiasi konsistensi masyarakat dalam menjaga tradisi sekaligus mempertahankan semangat keguyuban.
Menurutnya, Sedekah Bumi memiliki pesan penting tentang rasa syukur setelah masyarakat melewati masa panen.
Tradisi tersebut juga menjadi momentum untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan memanjatkan doa bersama.
“Sedekah bumi merupakan wujud rasa syukur. Setelah panen, masyarakat berkumpul, bersilaturahmi, dan bersama-sama memanjatkan doa agar hasil bumi semakin melimpah serta masyarakat dijauhkan dari bala dan bencana,” tutur Nurul Azizah.
Sedekah Bumi Sidodadi mempertemukan berbagai unsur kehidupan masyarakat.
Nilai spiritual, budaya, seni, gotong royong, dan kebersamaan berpadu dalam satu kegiatan.
Keterlibatan warga dari berbagai generasi juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi.
Warisan leluhur tidak hanya disimpan sebagai cerita masa lalu, tetapi terus dikenalkan dan dijalankan dalam kehidupan masyarakat.
Semangat kebersamaan juga terlihat dalam berbagai kegiatan Desa Sidodadi untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Rangkaian kegiatan desa melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk pedagang dan pelaku UMKM.
Dengan demikian, kemeriahan kegiatan budaya dan perayaan kemerdekaan turut membuka ruang bagi aktivitas ekonomi warga.
Sedekah Bumi Sidodadi akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan.
Tradisi ini menjadi ruang bertemunya masyarakat, budaya, alam, dan harapan.
Di balik gunungan hasil bumi yang diarak, tersimpan pesan sederhana namun kuat, yakni bersyukur atas rezeki, menjaga kebersamaan, serta merawat warisan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Sebab tradisi tidak akan bertahan hanya karena diwariskan.
Tradisi akan tetap hidup ketika masyarakat terus menjaga, menghayati dan merayakannya bersama-sama. (Pro/er)













