BOJONEGORO – Di tengah derasnya budaya modern, masih ada anak muda yang memilih merawat kesenian tradisional.
Salah satunya Ki Ngesti Adi Anggoro, dalang muda asal Desa Punggur, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro.
Pemuda yang akrab disapa Angga ini tidak hanya menekuni dunia pedalangan.
Ia juga aktif menghidupkan kesenian tradisional di desanya dengan mengajak anak-anak dan remaja belajar seni gamelan.
Upaya tersebut dilakukan melalui Sanggar Seni Sekar Jati yang didirikannya.
Di sanggar itu, Angga berbagi ilmu sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal gamelan dan seni tradisional sejak dini.
Desa Punggur memang memiliki lingkungan yang cukup kental dengan kesenian.
Sejumlah warga dikenal sebagai seniman, terutama dalam bidang pedalangan dan gamelan.
Suasana tersebut ikut menumbuhkan kecintaan Angga terhadap dunia pewayangan.
Menariknya, kecintaan itu sudah tumbuh ketika Angga masih duduk di bangku sekolah dasar.
Kala itu, ia belum memiliki seperangkat wayang seperti sekarang.
Dengan uang saku yang disisihkan, Angga membeli kardus untuk dibuat menjadi wayang sederhana.
Wayang kardus tersebut kemudian dimainkan sendiri, dari permainan sederhana itu, ketertarikannya terhadap dunia pewayangan justru semakin kuat hingga akhirnya berkembang menjadi keseriusan untuk menekuni seni pedalangan.
Seiring waktu, Angga bahkan berhasil memiliki seperangkat gamelan.
Peralatan tersebut tidak hanya menjadi media untuk mengasah kemampuannya sendiri, tetapi juga dimanfaatkan anak-anak dan remaja di Desa Punggur untuk belajar memainkan gamelan.
Di tengah aktivitas berkesenian, pendidikan tetap menjadi perhatian Angga.
Saat ini, Angga tercatat sebagai mahasiswa semester V di IKIP PGRI Semarang, dia juga mengajar Bahasa Jawa di SMPN 2 Purwosari.
Sebelumnya, Angga pernah menempuh pendidikan di ISI, namun, pandemi COVID-19 membuat perjalanan pendidikannya di kampus tersebut terhenti.
Kondisi itu tidak membuat semangatnya untuk belajar seni padam.
Dirinya kemudian melanjutkan pendidikan di IKIP PGRI Semarang.
Pengalaman di atas panggung pun terus bertambah, Angga telah tampil dalam sejumlah pagelaran wayang kulit, baik di Bojonegoro maupun di luar daerah.
Salah satunya saat ia tampil dalam pagelaran wayang kulit untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Punggur.
Pertunjukan tersebut menjadi semakin menarik karena bukan hanya menampilkan seorang dalang.
Masyarakat Desa Punggur dan sejumlah desa lain di Kecamatan Purwosari turut mengambil bagian dalam kegiatan seni tersebut.
Bagi Angga, wayang memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar tontonan.
Cerita dan tokoh pewayangan dapat menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda.
Karena itu, ia ingin kesenian tradisional tidak hanya bertahan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk belajar, berkarya, dan berkreasi.
“Saya punya cita-cita ingin membuat festival seni yang melibatkan anak-anak serta melatih ibu-ibu juga agar punya keahlian dan bisa ikut tampil di lingkungan,” ujar Angga.
Cita-cita tersebut memperlihatkan arah perjuangan Angga dalam berkesenian.
Ia tidak ingin pelestarian budaya berhenti pada dirinya sebagai dalang.
Lebih jauh, ia ingin semakin banyak warga memiliki kesempatan untuk belajar dan terlibat dalam kegiatan seni.
Camat Purwosari, Ike Widiyaningrum, mengapresiasi semangat dan konsistensi Angga dalam mempertahankan sekaligus mengembangkan kesenian tradisional.
Menurut Ike, kepedulian anak muda terhadap seni tradisi seperti yang dilakukan Angga merupakan sesuatu yang patut diapresiasi.
Terlebih, Angga tidak hanya mengembangkan kemampuannya sendiri, tetapi juga mengajarkannya kepada anak-anak di desa.
“Kami sangat bangga dan mengapresiasi minat, bakat, serta kegigihan Angga terhadap kesenian wayang. Tidak banyak anak muda yang memiliki kepedulian seperti ini,” ungkap Ike.
Dirinyaa juga menilai keterlibatan Angga dalam melatih anak-anak memainkan gamelan menjadi langkah penting untuk memastikan kesenian tradisional tetap memiliki penerus.
“Yang lebih membanggakan, Angga tidak hanya tampil sendiri, tetapi juga mau berbagi ilmu dengan anak-anak. Ini menjadi bagian penting dalam menjaga kesenian tradisional agar tidak terputus di generasi berikutnya,” tambahnya.
Perjalanan Angga menunjukkan bahwa kecintaan terhadap budaya tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Baginya, semuanya berawal dari kardus sederhana yang dibentuk menjadi wayang saat masih kecil.
Kini, dari wayang kardus tersebut, Angga tumbuh menjadi dalang muda yang terus memperluas pengalaman sekaligus membangun ruang belajar seni bagi anak-anak dan masyarakat di Desa Punggur.
Langkah kecil itu perlahan menjadi gerakan regenerasi. Desa Punggur pun memiliki peluang untuk terus mempertahankan identitasnya sebagai salah satu kantong kesenian tradisional di Kecamatan Purwosari, sekaligus melahirkan generasi baru yang tidak malu dan tidak ragu mencintai budaya daerah. (er)






