Daerah

Dari Kandang ke Lapak, Begini Efek GAYATRI di Bojonegoro

aksesadim01
4
×

Dari Kandang ke Lapak, Begini Efek GAYATRI di Bojonegoro

Sebarkan artikel ini
IMG 20260909 WA0012

BOJONEGORO – Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (GAYATRI) yang digulirkan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mulai menunjukkan efek berantai bagi ekonomi masyarakat.

Manfaat program tersebut tidak hanya dirasakan penerima bantuan, tetapi juga ikut menghidupkan aktivitas usaha warga di sekitarnya.

Salah satu penerima manfaatnya adalah Indah Ratnasari, warga RT 03 Desa Prayungan, Kecamatan Sumberrejo.

Indah menjadi penerima program GAYATRI sejak 2025,
dari ternak yang dikelolanya, Indah kini bisa memanen telur untuk kemudian dipasarkan kepada masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.

Hasil penjualan tersebut menjadi tambahan pemasukan bagi keluarganya.

Ia mengaku keberadaan program GAYATRI cukup membantu kondisi ekonomi keluarganya.

Setiap hari telur yang dihasilkan dapat dijual, dengan keuntungan bersih yang menurutnya berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per bulan.

“Alhamdulillah, sangat membantu. Telurnya bisa dijual setiap hari dan hasilnya dapat menambah pemasukan,” ungkap Indah.

Menariknya, manfaat GAYATRI tidak berhenti di kandang peternak.

Telur hasil produksi warga juga masuk ke dalam perputaran ekonomi pelaku usaha lain, salah satunya pedagang lauk-pauk.

Suharti, salah satu penjual lauk-pauk di sekitar Desa Prayungan, memilih membeli telur produksi peternak GAYATRI untuk memenuhi kebutuhan dagangannya.

Selain mudah diperoleh, telur tersebut dinilai masih segar karena dipanen setiap hari.

Bagi Suharti, membeli telur dari peternak di sekitar tempat tinggal juga membuat aktivitas usahanya lebih praktis.

“Telurnya fresh karena dipanen setiap hari. Selain itu, tidak perlu jauh-jauh membeli di tempat lain, cukup membeli dari tetangga sendiri,” jelasnya.

Rantai ekonomi lokal tersebut semakin terasa dengan adanya aktivitas industri di Desa Prayungan.

PT Shoufong memberikan kesempatan kepada pedagang dari lingkungan sekitar untuk masuk ke area pabrik dan menjajakan makanan kepada para pekerja setiap hari.

Kesempatan tersebut menjadi pasar tersendiri bagi masyarakat.

Pedagang dapat menawarkan berbagai makanan dan lauk-pauk tanpa harus mencari lokasi berjualan yang jauh dari tempat tinggal.

Dalam rantai tersebut, telur hasil program GAYATRI turut mengambil peran.

Komoditas yang dihasilkan peternak tidak hanya menjadi sumber pemasukan bagi keluarga penerima bantuan, tetapi juga menjadi bahan yang mendukung usaha pedagang makanan di sekitar kawasan industri.

Kondisi ini memperlihatkan bagaimana sebuah program pemberdayaan dapat menciptakan manfaat yang lebih luas ketika hasil produksinya terserap oleh pasar lokal.

Dari kandang ayam milik warga, telur dipanen dan dijual kepada tetangga.

Selanjutnya, telur tersebut digunakan pedagang untuk memenuhi kebutuhan jualan, termasuk melayani pekerja di kawasan industri.

Dengan pola seperti itu, GAYATRI tidak hanya mendorong masyarakat memiliki usaha peternakan ayam petelur secara mandiri.

Program ini juga berpotensi membangun mata rantai ekonomi desa yang melibatkan peternak, pedagang, hingga konsumen di lingkungan sekitar.

Bagi warga Prayungan, telur GAYATRI kini bukan hanya hasil ternak.

Di balik setiap butir telur, terdapat aktivitas ekonomi yang terus berputar dan membuka peluang tambahan penghasilan bagi masyarakat. (er)