LAMONGAN — Angin kencang menerjang wilayah Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, hingga menyebabkan sebuah rumah warga di Dusun Blumbungan, Desa Wonokromo, roboh total, Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 21.00 WIB.
Rumah milik Tarom tersebut tak mampu bertahan setelah dihantam angin kencang.
Kondisi bangunan yang sebagian besar menggunakan material kayu dan telah mengalami pelapukan diduga membuat rumah semakin rentan terhadap terpaan angin.
Akibat kejadian itu, bangunan mengalami kerusakan berat hingga tidak lagi layak ditempati.
Tarom bersama penghuni rumah untuk sementara mengungsi ke rumah tetangga demi memastikan keselamatan.
Beruntung, peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka.
Namun, kerusakan total pada bangunan menyebabkan kerugian materiil yang cukup besar bagi pemilik rumah.
Begitu menerima laporan, Babinsa Koramil 0812/04 Tikung Sertu Nur Kosim bersama anggota Koramil langsung mendatangi lokasi kejadian.
Petugas melakukan pengecekan kondisi warga, melihat tingkat kerusakan bangunan sekaligus melakukan pendataan awal sebagai bagian dari penanganan pascabencana.
Di lokasi, Sertu Nur Kosim juga berkoordinasi dengan unsur Tiga Pilar Kecamatan Tikung dan Desa Wonokromo.
Koordinasi melibatkan Koramil 0812/04 Tikung, Polsek Tikung, Trantib Kecamatan Tikung, kepala desa beserta perangkat Desa Wonokromo.
Penanganan turut dikoordinasikan dengan BPBD Kabupaten Lamongan dan Agen Bencana BPBD Provinsi Jawa Timur.
Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat penanganan kondisi darurat sekaligus membantu proses pembersihan material bangunan yang roboh.
“Koordinasi dan pelaporan terus kami lakukan agar penanganan dapat segera dilaksanakan. Kami juga berkoordinasi dengan perangkat desa dan warga sekitar untuk membantu proses pembersihan puing-puing bangunan,” ujar Sertu Nur Kosim.
Respon cepat Babinsa tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan masyarakat terdampak bencana mendapat penanganan dan pendampingan di tengah situasi darurat.
Selain mengecek kondisi rumah, aparat juga memastikan komunikasi antara warga, pemerintah desa dan instansi terkait berjalan dengan baik sehingga kebutuhan penanganan dapat segera ditindaklanjuti.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan ketika cuaca ekstrem melanda.
Kondisi rumah, terutama bangunan yang menggunakan material kayu dan telah berusia cukup lama, perlu diperiksa secara berkala untuk mengetahui potensi kerusakan yang dapat membahayakan penghuni.
Babinsa bersama unsur Tiga Pilar juga menghimbau masyarakat agar segera melaporkan kondisi bangunan yang dinilai rawan, terutama ketika muncul tanda-tanda kerusakan atau cuaca ekstrem mulai terjadi.
Kesiapsiagaan, koordinasi, dan gotong royong menjadi langkah penting dalam menghadapi dampak bencana.
Dengan respon cepat di lapangan dan sinergi lintas sektor, penanganan terhadap warga terdampak diharapkan dapat dilakukan secara cepat dan tepat. (er)






