Infotaiment

Pesona Negeri Atas Angin Bojonegoro, Misteri Sejarah Geologi Purba

aksesadim01
6861
×

Pesona Negeri Atas Angin Bojonegoro, Misteri Sejarah Geologi Purba

Sebarkan artikel ini
IMG 20260805 WA0031

BOJONEGORO – Di balik hijaunya perbukitan selatan Kabupaten Bojonegoro, terdapat sebuah kawasan yang bukan hanya menawarkan panorama alam memukau, tetapi juga menyimpan jejak sejarah bumi yang terbentuk sejak jutaan tahun silam.

Itulah Geosite Atas Angin Formasi Kalibeng yang berada di Desa Deling, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro.

Berlokasi di ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut, Geosite Atas Angin menjadi salah satu destinasi unggulan Bojonegoro Selatan sekaligus laboratorium alam bagi para peneliti geologi.

Dari puncaknya, hamparan perbukitan hijau berpadu dengan bentang alam khas Zona Kendeng menghadirkan panorama yang memanjakan mata sekaligus menyimpan nilai ilmiah tinggi.

Pada akhir Juli 2026, tim redaksi bersama akademisi dari UPN Veteran Yogyakarta melakukan penelusuran langsung ke kawasan tersebut.

Kunjungan itu bertujuan mempelajari lapisan batuan penyusun kawasan sekaligus menikmati salah satu titik panorama terbaik di Bojonegoro.

Dari puncak Atas Angin, pengunjung dapat menyaksikan bentangan Gunung Pandan di sisi selatan dan Bukit Lawang di bagian timur.

Kedua bentang alam tersebut menjadi daya tarik utama sekaligus objek penting dalam kajian geologi Pulau Jawa.

Menurut kajian para ahli, kawasan Atas Angin terbentuk dari material vulkanik purba yang dahulu mengendap di dasar laut dan kemudian berkembang menjadi bagian dari Formasi Kalibeng.

Aktivitas tektonik selama jutaan tahun mengangkat dan melipat lapisan batuan tersebut hingga membentuk perbukitan struktural yang masih dapat diamati hingga sekarang.

Keunikan geologi tersebut juga berpengaruh terhadap sistem tata air di kawasan ini.

Lapisan batugamping Formasi Klitik mengalami proses karstifikasi sehingga terbentuk rongga dan rekahan yang mampu menyimpan air hujan dalam jumlah besar.

Air yang tersimpan di dalam batuan kemudian mengalir melalui rekahan alami dan muncul sebagai mata air di lereng-lereng bukit.

Mata air inilah yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat Desa Deling dan wilayah sekitarnya.

Dosen Teknik Geologi UPN Veteran Yogyakarta sekaligus Tim Pendamping Teknis, C. Prasetyadi, menjelaskan bahwa Atas Angin merupakan titik tertinggi di kawasan tersebut.

“The highest point the land stood. ‘Negeri’ berarti tanah atau negeri, ‘Atas’ berarti puncak, dan ‘Angin’ berarti angin,” jelasnya saat memberikan penjelasan mengenai sejarah geologi dan lapisan batuan Geosite Negeri Atas Angin.

Sambil menikmati secangkir kopi di gardu pandang, pengunjung dapat melihat secara jelas dua fitur geologi penting, yakni Intrusi Pandan dan Bukit Lawang.

Intrusi Pandan diyakini sebagai sisa aktivitas gunung api purba yang kini muncul di permukaan akibat proses erosi selama jutaan tahun.

Keberadaan batuan tersebut menjadi bukti ilmiah penting mengenai pergeseran jalur gunung api Pulau Jawa ke arah utara atau dikenal sebagai back-arc volcanic shift.

Sementara itu, Bukit Lawang menawarkan pemandangan yang tak kalah menarik.

Bukit ini memiliki celah alami di bagian tengah sehingga membentuk dua tebing tinggi yang saling berhadapan layaknya sebuah gerbang raksasa.

Nama “Lawang” sendiri berarti pintu atau gerbang, secara geologi, bentuk unik tersebut terbentuk akibat proses erosi yang mengikuti bidang sesar sehingga menyisakan dua dinding batu vertikal yang sejajar.

Fenomena alam ini menjadi salah satu ciri khas Geosite Bukit Lawang yang sulit ditemukan di tempat lain.

Dengan kekayaan panorama, nilai ilmiah, serta sejarah geologi yang tersimpan di dalamnya, Geosite Atas Angin Formasi Kalibeng menjadi salah satu aset wisata edukasi unggulan Kabupaten Bojonegoro.

Kawasan ini tidak hanya menarik bagi wisatawan pencinta alam, tetapi juga menjadi lokasi penting untuk penelitian mengenai evolusi geologi Zona Kendeng dan sejarah pembentukan Pulau Jawa. (er)