Daerah

Tak Hanya Sawah, Air untuk Masak dan Mandi Pun Sulit di Mojoranu Bojonegoro

aksesadim01
3
×

Tak Hanya Sawah, Air untuk Masak dan Mandi Pun Sulit di Mojoranu Bojonegoro

Sebarkan artikel ini
IMG 20260912 WA0010

BOJONEGORO – Kemarau panjang mulai terasa berat bagi warga Desa Mojoranu, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro.

Kekeringan tidak hanya mengancam lahan pertanian, tetapi juga membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Sejumlah sumur milik warga dilaporkan mulai mengering. Kondisi tersebut membuat kebutuhan air untuk memasak, mandi hingga keperluan rumah tangga lainnya menjadi persoalan yang harus segera dicarikan solusi.

Bagi para petani, situasinya bahkan lebih sulit. Ketika air untuk kebutuhan rumah tangga saja terbatas, harapan untuk mendapatkan pasokan air bagi tanaman di sawah juga semakin berat.

Di tengah kondisi tersebut, warga berupaya bertahan dengan membuat tandon sebagai tempat penampungan air bantuan.

Setiap kali truk tangki datang membawa air bersih, warga langsung berkumpul untuk mengambil air dan memenuhi kebutuhan masing-masing.

Kepala Desa Mojoranu, Lukman Khakim, mengatakan pemerintah desa terus berupaya mencari solusi agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau.

“Kita berupaya, khususnya teman-teman dan para santri, untuk mengupayakan air bersih bagi warga. Dalam musim kemarau ini banyak sumur warga mengalami kekeringan. Sehingga kami berusaha agar kebutuhan air bersih warga tetap tercukupi,” ujar Lukman saat ditemui di sela pengisian bantuan air bersih.

Untuk mendukung distribusi air, pemerintah desa juga telah berkoordinasi dengan pihak kamtibmas terkait pemanfaatan kendaraan truk Merah Putih yang belum digunakan.

Menurut Lukman, langkah tersebut dilakukan agar proses pengangkutan dan penyaluran air kepada warga dapat berjalan lebih mudah.

Ia juga menegaskan bahwa bantuan air bersih yang disalurkan kepada masyarakat tidak dipungut biaya.

“Kami beritahukan kepada semua pihak bahwa bantuan air bersih ini tidak bayar. Dari sumber air murni bantuan dan tidak ada pembayaran sama sekali. Ada yang berusaha membayar agar air tersebut dibeli, tetapi kami tolak. Semuanya murni bantuan,” tegasnya.

Lukman meminta masyarakat tidak saling berebut ketika bantuan air datang. Ia berharap warga tetap menjaga kerukunan dan menggunakan air sesuai kebutuhan.

“Kami selaku kepala desa berharap bantuan air bersih ini bisa bermanfaat dan digunakan secukupnya. Tidak perlu berebut. Kami akan berupaya agar setiap hari bantuan air bersih ini selalu ada. Warga harus guyup, rukun dan damai,” katanya.

Di sisi lain, Pemerintah Desa Mojoranu juga berharap perhatian dari para wakil rakyat di DPRD yang memiliki wilayah pemilihannya di daerah tersebut.

Lukman menilai kondisi kekeringan yang dialami warga membutuhkan perhatian berkelanjutan, bukan hanya bantuan satu kali.

“Kami berharap kepada seluruh anggota DPRD yang meliputi wilayah kami agar juga memperhatikan kebutuhan warganya. Ini kesempatan untuk memperhatikan rakyat, turun langsung memberikan bantuan air bersih,” ungkapnya.

Dia menambahkan, kebutuhan air bersih masyarakat Mojoranu tidak bersifat sementara.

Selama musim kemarau berlangsung, warga membutuhkan pasokan air secara rutin karena banyak sumur tidak lagi mengeluarkan air.

“Kebutuhan air bersih ini tidak hanya sekali. Setiap hari warga sangat membutuhkan karena mengalami kekeringan. Banyak sumur warga kering dan tidak keluar airnya,” pungkas Lukman. (er)