Infotaiment

Prof Fernadya Susuri Sejarah Paser, Museum Sadurengas hingga Datuk Tunggang Parangan

aksesadim01
×

Prof Fernadya Susuri Sejarah Paser, Museum Sadurengas hingga Datuk Tunggang Parangan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260919 WA0047

PASER – Perjalanan ke Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, dimanfaatkan Prof. Dr. H. Fernadya Sima Antasari, Lc., M.A., M.Sc., M.B.A. bukan sekadar untuk menikmati suasana daerah.

Ia memilih menyusuri jejak sejarah, mengenal kebudayaan lokal, sekaligus melakukan ziarah ke salah satu tokoh yang memiliki tempat penting dalam sejarah penyebaran Islam di wilayah tersebut.

Salah satu lokasi yang disambangi adalah Museum Sadurengas di kawasan Pasir Belengkong, Kabupaten Paser.

Museum tersebut menjadi ruang untuk mengenali berbagai peninggalan yang berkaitan dengan perjalanan sejarah dan kebudayaan masyarakat Paser.

Bagi Prof. Fernadya, mendatangi tempat bersejarah memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan wisata biasa.

Setiap peninggalan menyimpan cerita tentang kehidupan masyarakat pada masa lalu sekaligus menjadi pengingat bagi generasi sekarang mengenai pentingnya menjaga warisan budaya.

“Perjalanan akan lebih bermakna ketika bukan hanya melihat keindahan suatu daerah, tetapi juga belajar dari sejarah, budaya, dan nilai-nilai spiritual yang hidup di tengah masyarakat,” ujar Prof. Fernadya.

Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan agenda ziarah ke makam Habib Hasyim bin Musaiyah bin Abdullah bin Muhammad bin Alwi bin Achmad bin Yahya, yang dikenal dengan gelar Datuk Tunggang Parangan.

Nama dan silsilah tersebut tercantum pada papan informasi di lokasi ziarah yang dikunjungi.

Ziarah tersebut menjadi bagian dari perjalanan spiritual Prof. Fernadya.

Selain mendoakan para pendahulu, momentum itu dimaknai sebagai kesempatan untuk kembali mengingat nilai-nilai keagamaan, akhlak, serta penghormatan terhadap sejarah.

Menurutnya, sejarah dan spiritualitas memiliki keterkaitan dalam membentuk cara manusia memandang kehidupan.

Dari peninggalan sejarah, seseorang dapat mengetahui perjalanan sebuah masyarakat.

Sementara melalui ziarah, manusia diajak mengingat jasa orang-orang terdahulu sekaligus mengambil pelajaran dari perjalanan hidup mereka.

“Generasi hari ini perlu mengenal sejarahnya. Dari sejarah kita belajar tentang identitas, dari budaya kita belajar menghargai warisan, dan dari ziarah kita diingatkan bahwa kehidupan pada akhirnya harus meninggalkan nilai serta manfaat bagi sesama,” ungkapnya.

Kunjungan Prof. Fernadya ke Paser pun menjadi perjalanan yang memadukan sejarah, budaya, dan spiritualitas.

Museum menjadi pintu untuk mengenali masa lalu, sedangkan ziarah menjadi ruang refleksi atas kehidupan dan warisan nilai yang ditinggalkan para pendahulu.

Perjalanan tersebut juga menjadi pengingat bahwa kekayaan Nusantara tidak hanya terletak pada panorama alam, tetapi juga pada situs sejarah, tradisi masyarakat, serta tokoh-tokoh yang turut membentuk perjalanan peradaban di berbagai daerah.

Melalui perjalanan semacam ini, Prof. Fernadya berharap generasi muda semakin memiliki kepedulian terhadap situs-situs bersejarah dan warisan budaya di Indonesia.

“Mengenal sejarah, bukan hanya melihat masa lalu, tetapi juga memahami identitas dan nilai yang dapat menjadi bekal untuk menatap masa depan,” pungkasnya. (dpw)