Peristiwa

5 Jurnalis Hilang Saat Liputan Erupsi Gunung Anak Krakatau, Bojonegoro Gelar Doa Bersama

aksesadim01
2
×

5 Jurnalis Hilang Saat Liputan Erupsi Gunung Anak Krakatau, Bojonegoro Gelar Doa Bersama

Sebarkan artikel ini
IMG 20260911 WA0002

BOJONEGORO – Kabar hilangnya lima jurnalis saat menjalankan tugas peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mengundang keprihatinan mendalam dari insan pers di Kabupaten Bojonegoro.

Solidaritas itu diwujudkan melalui doa bersama yang digelar para jurnalis Bojonegoro di Masjid DPRD Bojonegoro, Kamis (10/9/2026) malam.

Doa dipanjatkan agar seluruh jurnalis yang masih dalam pencarian segera ditemukan dalam keadaan selamat.

Kelima jurnalis yang dikabarkan hilang tersebut yakni M Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhistiro dari iNews, Firdaus dari Anadolu, serta Donal, jurnalis lepas.

Selain lima jurnalis, tiga orang lainnya juga dilaporkan hilang, mereka adalah Warta, selaku kapten kapal, Surakman, anak buah kapal (ABK) dan Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu.

Dalam doa bersama tersebut, para jurnalis Bojonegoro juga mendoakan keluarga para korban agar diberi ketabahan dan kekuatan selama menanti hasil pencarian.

Harapan yang sama disampaikan agar seluruh proses pencarian yang tengah dilakukan tim terkait segera menemukan titik terang dan membawa kabar baik bagi keluarga maupun rekan-rekan mereka.

Peristiwa tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi para jurnalis mengenai pentingnya aspek keselamatan ketika menjalankan tugas di lapangan.

Risiko pekerjaan jurnalistik semakin besar ketika reporter harus berada di lokasi bencana atau kondisi ekstrem.

Karena itu, keberanian mencari informasi harus tetap dibarengi dengan perhitungan matang terhadap kondisi dan potensi bahaya di lapangan.

“Memang banyak hal harus kita perhitungkan ketika liputan di lapangan. Terutama ketika liputan bencana,” ungkap jurnalis iNews Bojonegoro, Dedi Mahdi.

Menurutnya, terdapat satu prinsip yang tidak boleh diabaikan dalam menjalankan tugas jurnalistik di tengah situasi berbahaya yakni tidak ada berita yang seharga dengan nyawa.

Meski demikian, tugas jurnalistik tetap membutuhkan keberanian, ketelitian dan komitmen untuk menggali serta menyampaikan informasi kepada publik.

Namun, keselamatan harus tetap menjadi pertimbangan utama sebelum maupun selama peliputan.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro M. Suaeb menilai peristiwa tersebut juga menjadi momentum untuk kembali memperkuat perhatian terhadap perlindungan jurnalis dalam menjalankan pekerjaan.

Menurutnya, risiko kerja jurnalistik di lapangan tidak boleh dipandang sebelah mata.

Salah satu bentuk perlindungan yang perlu menjadi perhatian perusahaan media adalah jaminan asuransi bagi para jurnalis.

“Dalam beberapa kasus, kerja-kerja jurnalistik di lapangan sangatlah riskan. Maka, jurnalis harus dilindungi asuransi. Perusahaan media wajib memberikan asuransi itu,” tutur Suaeb.

Sementara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bojonegoro Sasmito Anggoro berharap doa bersama tersebut tidak berhenti sebagai bentuk solidaritas terhadap lima jurnalis yang tengah dalam pencarian.

Menurutnya, momentum tersebut juga penting untuk mempererat hubungan antar jurnalis di Bojonegoro sekaligus mendorong peningkatan profesionalitas dalam menjalankan tugas.

“Makin aktif dalam bersinergi dan berkolaborasi. Makin profesional dalam menunaikan kerja-kerja jurnalistik,” kata Pemimpin Redaksi Suara Bojonegoro tersebut.

Kegiatan doa bersama ini diinisiasi oleh PWI Bojonegoro, AJI Bojonegoro, dan IJTI Korda Pantura Raya.

Di tengah penantian kabar dari Selat Sunda, doa dan solidaritas dari para jurnalis Bojonegoro pun terus dipanjatkan.

Harapannya adalah kelima jurnalis beserta tiga orang lainnya yang masih dalam pencarian dapat segera ditemukan dalam kondisi selamat. (er)