BOJONEGORO – Cerita tentang Bojonegoro tidak hanya bisa dituangkan melalui tulisan sejarah atau berita.
Kali ini, kekayaan lokal daerah tersebut akan diolah menjadi karya sastra melalui Kelas Menulis Bojonegoro dalam Sepotong Puisi yang digelar Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Kabupaten Bojonegoro.
Kegiatan perdana berlangsung di Aula Perpustakaan Daerah (Perpusda) Bojonegoro, Senin (7/9/2026).
Kelas menulis ini dirancang dalam enam kali pertemuan dengan konsep yang cukup menarik, yakni peserta akan berpindah atau touring ke sejumlah lokasi.
Sebanyak 20 peserta dari berbagai latar belakang ambil bagian dalam program tersebut.
Mereka berasal dari masyarakat umum, Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM), mahasiswa hingga pelajar.
Kelas tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bojonegoro, Erick Firdaus.
Pada pertemuan pertama, peserta diajak menggali materi mengenai lokalitas Bojonegoro.
Materi disampaikan Nanang Fahrudin, founder mastumapel.com sekaligus penulis buku Bojonegoro Tempo Doeloe.
Peserta diajak melihat potensi cerita, sejarah, karakter, hingga berbagai sisi lokal Bojonegoro yang dapat menjadi sumber inspirasi dalam menciptakan puisi.
Erick Firdaus mengapresiasi langkah Relima yang menghadirkan kegiatan literasi kreatif tersebut.
Menurutnya, budaya literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca, tetapi harus dilanjutkan dengan kemampuan memahami, mengolah, serta mengaplikasikan informasi yang diperoleh.
“Literasi bukan hanya membaca, melainkan juga mengaplikasikan dan membedah apa yang dibaca,” tegas Erick.
Ia juga menilai proses menulis puisi membutuhkan penghayatan.
Puisi, kata dia, bukan sebatas permainan kata, tetapi menjadi media untuk menyampaikan makna, menggambarkan kondisi sekaligus mengekspresikan gagasan penulis.
Karena itu, Erick berharap enam kali pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi mampu melahirkan karya baru yang memiliki nilai dan merepresentasikan Bojonegoro.
“Nanti hasil output nya membuat puisi yang belum pernah ada dan kemudian dibukukan sebagai bentuk apresiasi. Semoga selama enam kali pertemuan bisa memberikan dampak pada para peserta,” ujarnya.
Sementara itu, Relima Bojonegoro, Imron Nasir atau yang akrab disapa Impong, menyampaikan apresiasi atas dukungan Perpusda dan berbagai pihak yang telah terjalin sejak 2025.
Menurutnya, pelaksanaan kelas menulis ini sekaligus menjadi bagian dari momentum Bulan Hari Kunjung Perpustakaan.
Konsep kegiatan yang berpindah lokasi diharapkan membuat peserta mendapatkan pengalaman langsung dalam menggali berbagai inspirasi dari lingkungan sekitar.
“Kegiatan ini rencananya selama enam kali pertemuan. Dilaksanakan secara bergilir atau touring di beberapa lokasi,” jelas Impong.
Lebih jauh, Relima menargetkan kegiatan tersebut menghasilkan buku antologi puisi bertema lokalitas Bojonegoro.
Buku tersebut diharapkan dapat diterbitkan bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro pada Oktober 2026.
Dengan demikian, kelas menulis ini bukan sekadar aktivitas belajar merangkai kata.
Program tersebut diarahkan menjadi ruang bagi masyarakat untuk merekam wajah Bojonegoro melalui perspektif sastra sekaligus menghasilkan karya yang dapat menjadi bagian dari dokumentasi budaya daerah. (er)







