Infotaiment

Mukhlis Arif Buka Pameran 40 Tahun Berkarya di Kota Batu

aksesadim01
1
×

Mukhlis Arif Buka Pameran 40 Tahun Berkarya di Kota Batu

Sebarkan artikel ini
IMG 20260906 WA0033

KOTA BATU — Empat dekade bergelut dengan tanah liat, tungku pembakaran, seni, dan dunia pendidikan mengantarkan Mukhlis Arif pada sebuah pengakuan penting.

Seniman sekaligus akademisi senior tersebut resmi menggelar pameran seni keramik retrospektif sekaligus peluncuran buku biografi bertajuk Jatuh Cinta Totalitas Sebuah Pengabdian di Studio Matahati Ceramic, Kompleks Perum Wastu Asri, Junrejo, Kota Batu, Sabtu (5/9/2026).

Pameran tersebut menjadi penanda perjalanan panjang Mukhlis Arif berkarya sejak 1986 hingga 2026.

Selama satu bulan, mulai 5 September sampai 5 Oktober 2026, rekam jejak kreativitasnya dipamerkan di sejumlah ruang seni di Kota Batu, di antaranya Studio Matahati Ceramic dan Sukahati Art Space di kawasan Kaliwatu Group.

Pembukaan pameran berlangsung dalam suasana hangat dengan mempertemukan seniman, budayawan, akademisi dan berbagai kalangan yang memiliki perhatian terhadap perkembangan seni dan kebudayaan.

Rangkaian pembukaan juga diisi pertunjukan musik gitar dan biola serta pembacaan puisi bertema kebudayaan, membuat momentum empat dekade perjalanan Mukhlis Arif terasa semakin istimewa.

Yang membuat pameran ini semakin bermakna adalah pengakuan negara terhadap kiprah Mukhlis Arif.

Predikat “Maestro” diberikan melalui program Dokumentasi Karya dan Pengetahuan Maestro yang diinisiasi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Pengantar pameran sekaligus peluncuran buku maestro, Dr. Joko Susilo, M.Hum., menyebut predikat tersebut menjadi kebanggaan bagi masyarakat Malang Raya sekaligus Indonesia.

Menurut Joko, istilah maestro memiliki posisi penting dalam tradisi kebudayaan. Dalam konteks Jawa, maestro dapat dimaknai sebagai empu, yakni sosok yang memiliki kepakaran tinggi dan karya yang mendapatkan pengakuan luas.

“Maestro itu dalam tradisi Jawa identik dengan Empu, derajat tertinggi bagi seseorang yang kepakarannya dalam menciptakan karya konkret diakui secara luas. Jika di bidang spiritual ada Begawan atau Kiai, maka di bidang karya rupa ada Empu,” ujar Joko Susilo.

Ia menilai perjalanan Mukhlis Arif memenuhi berbagai aspek untuk mendapatkan pengakuan tersebut, mulai dari rekam jejak akademik hingga pencapaian dan apresiasi terhadap karyanya di tingkat nasional maupun internasional.

Joko juga menilai judul buku Jatuh Cinta Totalitas Sebuah Pengabdian menggambarkan perjalanan Mukhlis dalam menekuni dunia seni selama puluhan tahun.

“Tajuk ‘Jatuh Cinta Totalitas Sebuah Pengabdian’ bukan sekadar jargon, melainkan bukti integritas dan komitmen penuh. Karyanya tidak berhenti pada art for art’s sake, tetapi juga berorientasi pada kemaslahatan dan nilai manfaat bagi masyarakat luas,” tambahnya.

Guru Besar Seni Rupa sekaligus pengamat seni, Prof. Dr. Djuli Djatiprambudi, M.Sn., yang membuka pameran secara resmi, menyoroti tantangan yang dihadapi profesi keramikus di Indonesia.
Menurutnya, seni keramik membutuhkan ketekunan dan kesabaran tinggi.

Proses pembentukan karya juga menuntut penguasaan teknik yang tidak sederhana, terutama karena proses pembakaran memiliki risiko tersendiri.

“Banyak anak muda hari ini lebih tertarik pada dunia digital dan layar visual. Padahal kerja keramik adalah kerja fisik yang membutuhkan soul, berinteraksi langsung dengan tanah, air, dan api tungku pembakaran,” ungkap Prof. Djuli.

Dia mengapresiasi konsistensi Mukhlis Arif yang selama 40 tahun tidak berhenti berkarya sekaligus mengenalkan seni keramik kepada masyarakat.

Konsistensi tersebut dinilai menjadi salah satu alasan penting hingga kiprahnya mendapat apresiasi dari pemerintah pusat.

Mukhlis Arif sendiri menerima pengakuan tersebut dengan sikap sederhana.

Bagi dirinya, seni tidak semata-mata mengenai penciptaan karya, tetapi juga bagaimana karya dan pengetahuan yang dimiliki dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Prinsip saya sederhana: sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang banyak. Lempung tidak hanya kita olah menjadi karya fisik atau seni murni (pure art), tetapi juga dikembangkan untuk terapi (clay therapy bekerja sama dengan medis), creativity training, hingga ruang edukasi publik,” jelas Mukhlis.

Empat puluh tahun perjalanan tersebut tidak selalu berada di jalur yang mudah.

Seni keramik pernah dianggap sebagai bidang yang sepi peminat. Namun, kondisi tersebut justru mendorong Mukhlis untuk terus membangun ruang apresiasi dari bawah.

Dirinya mengaku memegang prinsip untuk berani menjadi yang pertama dan konsisten menghabiskan waktu di studio.

“Dulu dianggap jalan sunyi karena orang belum kenal. Maka yang saya bangun bukan sekadar menumpuk karya, melainkan membangun ekosistem seni sendiri (self-sustaining ecosystem). Orang diajak mencoba, paham prosesnya, lalu tumbuh rasa apresiasi,” paparnya.

Pameran retrospektif tersebut menghadirkan perjalanan visual Mukhlis Arif dalam berbagai fase.

Pengunjung dapat melihat sketsa, karya lukisan dari era 1980-an, instalasi bertajuk Sejiwa, hingga karya keramik fungsional dan kontemporer.

Tak hanya menampilkan karya pribadi, rangkaian acara juga diperkuat dengan agenda kolaborasi internasional.

Di Sukahati Art Space digelar pameran keramik internasional bertajuk “Adarasa”.

Kegiatan tersebut merupakan hasil program residensi seni selama dua bulan yang melibatkan seniman dan akademisi dari lima negara.

Program tersebut juga melibatkan sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan UIN Malang.

Pameran ini pada akhirnya bukan hanya menjadi ruang untuk melihat perjalanan karya seorang seniman selama empat dekade.

Lebih jauh, momentum tersebut memperlihatkan bagaimana seni keramik dapat terus berkembang ketika karya, pendidikan, kreativitas, dan manfaat sosial dibangun dalam satu ekosistem.

Dari Kota Batu, perjalanan Mukhlis Arif menunjukkan bahwa konsistensi selama puluhan tahun mampu mengubah “jalan sunyi” menjadi jejak pengabdian yang mendapat pengakuan sebagai maestro. (Fur)