BOJONEGORO – Kabar kurang sedap datang dari petani tembakau di Kabupaten Bojonegoro.
Di tengah meningkatnya luas tanam pada 2026, harga tembakau rajangan kering justru mulai mengalami penurunan.
Petani menyebut harga tembakau rajangan kering untuk petikan kedua saat ini rata-rata berada di kisaran Rp32.000 hingga Rp33.000 per kilogram.
Sementara harga tertinggi yang bisa diperoleh sekitar Rp36.000 per kilogram.
Kondisi tersebut semakin berat karena aktivitas pembelian di tingkat petani dinilai belum ramai.
Bahkan, tidak semua tembakau yang dibawa petani dapat terserap oleh gudang pembeli.
Situasi ini membuat petani khawatir hasil panen tahun ini hanya cukup untuk menutup biaya produksi.
Mereka berharap pemerintah daerah ikut melakukan pengawasan terhadap tata niaga tembakau sekaligus membantu menciptakan kondisi harga yang lebih menguntungkan petani.
Salah seorang petani tembakau asal Desa Bayemgede, Kecamatan Kepohbaru, Kadir (55), mengatakan harga jual saat ini belum sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan selama masa tanam hingga panen.
Menurutnya, musim kemarau yang cukup panjang membuat kebutuhan air meningkat drastis.
Jika sebelumnya kebutuhan pengairan masih relatif mudah dipenuhi, tahun ini petani harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli air dari sumur bor.
“Tidak ada hujan, jadi harus membeli air dari sumur bor. Kebutuhannya bisa sampai sepuluh kali lipat dibanding tahun sebelumnya,” keluh Kadir, Sabtu, (5/9/2026).
Beban petani juga bertambah akibat mahalnya sarana produksi pertanian, terutama pupuk.
Ia menyebut pupuk ZA saat ini berada di kisaran Rp18.000 per kilogram.
Sementara pupuk NPK Tawon dan NPK Kuda rata-rata mencapai Rp18.500 per kilogram.
Menurut Kadir, kondisi tersebut membuat ongkos perawatan tembakau semakin tinggi.
Cuaca panas dan minimnya hujan juga berdampak pada pertumbuhan tanaman sehingga ukuran tanaman tidak maksimal dan hasil panen ikut berkurang.
“Pokoknya tahun ini petani wes menang sorone,” ujarnya.
Di sisi lain, Kadir mengatakan pembeli tembakau saat ini juga cenderung sepi.
Ketika petani membawa hasil panen ke gudang, tidak semuanya dapat diterima sehingga sebagian tembakau harus kembali dibawa pulang.
“Pembeli juga agak sepi. Di gudang ketika setor tidak semuanya bisa masuk, jadi barang masih banyak yang kembali,” katanya.
Karena itu, dia berharap harga tembakau dapat berada di kisaran Rp45.000 hingga Rp50.000 per kilogram.
Menurutnya, harga tersebut lebih memungkinkan petani menutup tingginya biaya produksi sekaligus memperoleh keuntungan yang layak.
“Kalau bisa harga sekitar Rp50.000 atau Rp45.000 supaya petani bisa seimbang mendapatkan hasil. Kalau harga sekarang mungkin hanya bisa balik modal,” harapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Basuni, petani tembakau asal Desa Betet, Kecamatan Kepohbaru.
Dirinya turut berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap kondisi harga tembakau di tingkat petani agar hasil panen tidak justru menjadi beban setelah biaya produksi yang dikeluarkan cukup besar.
“Saya berharap Bupati Wahono atau Wakil Bupati Ibu Nurul turun kelapangan, untuk melihat kondisi petani tembakau saat ini,” ucapnya.
Sebelumnya, berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, luas tanam tembakau pada 2026 hingga Agustus telah mencapai 15.672,68 hektare.
Angka tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan realisasi luas tanam pada 2025 yang tercatat sekitar 12.041 hektare.
Pengawas Mutu Hasil Pertanian Ahli Muda sekaligus Subkoordinator Tanaman Perkebunan DKPP Bojonegoro, Bambang Wahyudi, mengatakan kondisi iklim menjadi salah satu faktor yang turut mendorong peningkatan luas tanam tembakau tahun ini.
“Untuk tahun 2026 sampai hari ini luas tanam tembakau mencapai 15.672,68 hektare. Ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 12.041 hektare,” kata Bambang.
Dengan luas tanam yang terus bertambah, petani kini berharap peningkatan produksi tersebut juga diikuti penyerapan hasil panen dan harga jual yang lebih berpihak kepada mereka.
Bagi petani, kestabilan harga menjadi sangat penting, sebab, ketika biaya air, pupuk, perawatan, hingga proses panen meningkat, harga jual yang terlalu rendah berisiko membuat keuntungan petani semakin tergerus. (er)





