Infotaiment

2 Juta Orang Diprediksi Alami Demensia, Ini Langkah Pencegahannya Menurut Dokter Bojonegoro

aksesadim01
2
×

2 Juta Orang Diprediksi Alami Demensia, Ini Langkah Pencegahannya Menurut Dokter Bojonegoro

Sebarkan artikel ini
IMG 20260904 WA0030

BOJONEGORO – Demensia masih kerap dianggap warga Bojonegoro sebagai bagian normal dari proses penuaan.

Padahal, kondisi tersebut bukan hanya persoalan mudah lupa, melainkan gangguan fungsi otak yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari.

Hal itu menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) bersama RSUD Sosodoro Djatikoesoemo.

Memanfaatkan momentum September sebagai Bulan Demensia, edukasi mengenai kesehatan otak digencarkan melalui dialog kesehatan dalam program SAPA Bojonegoro di Radio Malowopati FM, Rabu (2/9/2026).

Dialog tersebut menghadirkan dokter spesialis saraf RSUD Sosodoro Djatikoesoemo, dr. Muhammad Naqvi Al Farisi, Sp.N, sebagai narasumber dengan host Lia Yunita.

Dalam dialog itu, masyarakat diajak memahami demensia secara lebih tepat, termasuk mengenali gejala awal, pentingnya deteksi dini, hingga cara keluarga memberikan dukungan kepada orang yang mengalami gangguan tersebut.

Dr. Naqvi menegaskan bahwa anggapan mengenai pikun sebagai sesuatu yang otomatis terjadi akibat usia perlu diluruskan.

“Pikun itu intinya adalah sebuah penyakit. Kita tidak boleh menganggap itu normal atau biasa-biasa saja,” ujarnya.

Menurutnya, demensia berkaitan dengan penurunan fungsi otak yang dapat berdampak pada kemampuan mengingat, berkomunikasi, beraktivitas, hingga mempertahankan kemandirian.

Perubahan perilaku maupun kemampuan pada penderita juga bukan sesuatu yang dilakukan secara sengaja.

Karena itu, keluarga dan lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam memberikan pendampingan sekaligus menghindari stigma terhadap penderita demensia.

Dr. Naqvi juga menilai pemahaman masyarakat mengenai demensia masih perlu terus ditingkatkan.

Salah satu langkah penting yang didorong adalah memperkuat deteksi dini melalui fasilitas kesehatan yang dekat dengan masyarakat.

Peran dokter puskesmas, perawat desa, dan bidan desa dinilai penting karena mereka berinteraksi langsung dengan masyarakat sehingga dapat membantu mengenali perubahan kondisi kesehatan sejak awal.

Selain deteksi dini, menjaga kesehatan otak juga perlu dilakukan sedini mungkin.

Gaya hidup aktif, aktivitas fisik, bekerja, menjalankan kegiatan rumah tangga, menjaga hubungan sosial, hingga melakukan aktivitas yang melatih kemampuan berpikir dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan fungsi kognitif.

Perhatian terhadap demensia dinilai semakin penting seiring bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia.

Berdasarkan prediksi Alzheimer Indonesia yang disampaikan dalam dialog tersebut, jumlah penderita demensia di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar dua juta orang pada 2030.

Melalui momentum Bulan Demensia, Pemkab Bojonegoro mengajak masyarakat tidak lagi memandang pikun sebagai keluhan yang otomatis wajar karena usia.

Kesadaran untuk mengenali perubahan fungsi kognitif, melakukan pemeriksaan lebih awal, serta memberikan dukungan kepada penderita dan keluarga diharapkan dapat membangun lingkungan yang lebih ramah terhadap demensia.

Dengan edukasi yang semakin luas, masyarakat diharapkan tidak hanya lebih waspada terhadap kesehatan otak, tetapi juga mampu memberikan perhatian dan pendampingan yang tepat ketika menemukan tanda-tanda demensia di lingkungan keluarga maupun sekitar. (er)