BOJONEGORO – Kemarau panjang menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian di Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro.
Mayoritas lahan pertanian di wilayah ini masih mengandalkan air hujan, sehingga keterbatasan sumber air berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman hingga hasil produksi petani.
Kondisi tersebut mendorong Kecamatan Purwosari mencari solusi jangka panjang.
Koordinasi dilakukan bersama Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), serta Koordinator Wilayah Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Purwosari.
Wilayah Purwosari memiliki lahan pertanian sekitar 3.376 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 95 persen merupakan lahan tadah hujan.
Saat musim kemarau, petani umumnya mengandalkan komoditas seperti tembakau dan jagung.
Namun, terbatasnya pasokan air membuat potensi produktivitas lahan belum bisa digarap secara maksimal.
Salah satu sumber air yang selama ini dimanfaatkan adalah Kali Gandong.
Namun, untuk memenuhi kebutuhan pengairan dalam jangka panjang, pemerintah kecamatan bersama sejumlah pihak menyiapkan beberapa alternatif.
Camat Purwosari Ike Widiyaningrum mengatakan setidaknya ada tiga skenario yang tengah dibahas.
Skenario pertama berupa pembangunan cek dam di Kali Gandong yang dilengkapi pintu air.
Infrastruktur tersebut diharapkan dapat menampung sekaligus mengatur distribusi air menuju lahan pertanian.
Alternatif kedua yakni membangun jaringan pengairan dari Bendungan Karangnongko dengan memanfaatkan jalur Solo Valley.
Namun, opsi tersebut masih menunggu penyelesaian pembangunan fisik Bendungan Karangnongko.
Sedangkan skenario ketiga adalah mengambil air dari Sungai Bengawan Solo melalui pembangunan intake.
Air kemudian dialirkan melalui jaringan pengairan yang diperluas dan dioptimalkan untuk mengisi embung-embung yang sudah tersedia di sejumlah desa.
Dari ketiga opsi tersebut, pengairan dari Bengawan Solo dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan karena sudah terdapat sejumlah tampungan air sekaligus mempertimbangkan luasnya lahan pertanian yang membutuhkan pasokan air.
“Dari beberapa diskusi yang dilakukan dengan beberapa pihak, pengairan dari Sungai Bengawan Solo yang dirasa paling memungkinkan karena sudah tersedia tampungan air berupa embung dan juga mempertimbangkan luasan areal pertanian,” ujar Ike.
Untuk mendukung rencana tersebut, Kecamatan Purwosari telah melakukan pemetaan awal jalur jaringan pengairan.
Pemetaan dimulai dari titik pangkal di Sungai Bengawan Solo dan diarahkan menuju sejumlah embung yang telah tersedia.
Jalur tersebut antara lain melewati Embung Blibis di Desa Purwosari, Embung Oro-Oro Geneng di Desa Gapluk, embung Desa Pojok, embung Desa Punggur, embung Desa Sedahkidul, hingga embung Desa Pelem.
“Kami telah melakukan pemetaan jaringan pertanian mulai titik pangkal di Sungai Bengawan Solo sampai melewati embung di beberapa desa. Hasil pemetaan jaringan ini tentunya membutuhkan kajian dari dinas terkait, termasuk untuk alokasi anggaran dan kewenangannya,” jelas Ike.
Menurutnya, pemetaan tersebut menjadi langkah awal untuk melihat kemungkinan pengembangan sistem pengairan yang dapat menjangkau lebih banyak areal pertanian di wilayah Purwosari.
Ia berharap pembahasan lintas sektor itu tidak berhenti pada pemetaan, tetapi dapat berlanjut hingga tahap pembangunan.
“Harapannya hal ini bisa terealisasi agar permasalahan pengairan wilayah barat segera ada solusi,” tambahnya.
Rencana tersebut kini mulai mendapat tindak lanjut. Pada 10 September 2026, konsultan dari Kementerian Pekerjaan Umum didampingi DKPP telah melakukan survei lapangan.
Hasil survei itu selanjutnya akan menjadi bahan pembahasan bersama jajaran pemerintah dan perangkat daerah terkait untuk menentukan langkah berikutnya.
Koordinator Wilayah BPP Kecamatan Purwosari Etty Nurdariyanti menilai pemenuhan kebutuhan air dari Bengawan Solo dapat memberikan dampak besar terhadap sektor pertanian apabila jaringan pengairan benar-benar terwujud.
Menurutnya, ketersediaan air yang lebih stabil tidak hanya berpotensi meningkatkan produksi, tetapi juga memungkinkan petani meningkatkan indeks pertanaman (IP).
“Dengan adanya strategi pemenuhan air dari Sungai Bengawan Solo ini, harapannya bisa meningkatkan produksi pertanian dan meningkatkan indeks pertanaman. Dari IP 1 bisa menjadi 2 atau bahkan 3,” ungkap Etty.
Ia menjelaskan, kebutuhan sarana produksi pertanian seperti pupuk dan bibit pada dasarnya telah tersedia.
Karena itu, persoalan air menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian untuk mendorong peningkatan produktivitas.
“Karena saat ini dengan kebutuhan pupuk dan bibit yang sudah terpenuhi, masalahnya tinggal kecukupan air,” pungkasnya.
Jika jaringan intake Bengawan Solo dapat direalisasikan, keberadaan embung di sejumlah desa tidak hanya menjadi tampungan air, tetapi dapat terintegrasi dalam sistem pengairan yang lebih luas.
Langkah ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap curah hujan, memperluas peluang tanam, serta meningkatkan produktivitas lahan pertanian di wilayah barat Kabupaten Bojonegoro.
Bagi Purwosari, persoalan air bukan sekadar urusan irigasi. Ketersediaan air menjadi salah satu kunci agar ribuan hektare lahan pertanian dapat terus produktif sekaligus memperkuat peran wilayah tersebut sebagai penyangga ketahanan pangan Bojonegoro. (er)






