SURABAYA — Operasi pencarian dan evakuasi korban kecelakaan KM Virgo Transport 8 memasuki fase penuh tantangan.
Kapal feri penumpang yang melayani rute Surabaya-Banjarmasin itu ditemukan dalam kondisi terbalik di perairan Laut Jawa pada Senin, 14 September 2026.
Kapal tersebut sebelumnya dilaporkan hilang kontak saat dalam perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin pada Minggu, 13 September 2026 dini hari.
Hingga Senin malam, Tim SAR Gabungan telah menemukan 114 orang dari total 243 orang yang berada di dalam KM Virgo Transport 8.
Dari jumlah tersebut, 108 orang ditemukan dalam kondisi selamat, sementara enam orang dinyatakan meninggal dunia. Artinya, masih ada 129 orang yang belum ditemukan.
Upaya pencarian pun terus dilakukan, namun kondisi kapal yang terbalik kini menjadi persoalan serius bagi operasi SAR.
Bukan hanya posisi kapal yang menyulitkan, KM Virgo Transport 8 ternyata juga telah bergeser sekitar 1,6 mil laut ke arah barat akibat pengaruh arus.
KM Virgo Bergeser 1,6 Mil
Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengungkapkan adanya perubahan posisi kapal berdasarkan pemantauan datum atau titik lokasi kapal dalam operasi SAR hari kedua.
“Posisi datum atau titik letak dari kapal Virgo Transport 8 ini ada pergeseran,” kata Syafii dalam keterangan resminya, Selasa, 15 September 2026.
Menurut dia, kapal saat ini telah bergeser sekitar 1,6 nautical mile atau mil laut ke arah barat.
“Saat ini (posisi KM Virgo) sudah bergeser kira-kira 1,6 nautical mile (mil laut) ke arah barat dalam kondisi terbalik,” ujarnya.
Pergeseran tersebut membuat pencarian harus dilakukan dengan perhitungan lebih matang.
Tim tidak hanya berhadapan dengan badan kapal yang tengkurap, tetapi juga kondisi arus laut yang terus memengaruhi posisi kapal.
Basarnas juga menduga masih terdapat sejumlah sekat atau ruang kosong di bagian dalam kapal.
Kondisi itu diduga menjadi salah satu faktor yang memungkinkan badan kapal terus bergerak mengikuti arus.
Kondisi kapal yang terbalik membuat upaya masuk ke bagian dalam tidak dapat dilakukan secara terburu-buru.
Syafii menegaskan keselamatan penyelam menjadi pertimbangan utama sebelum operasi bawah air dilaksanakan.
“Kalau misalkan posisinya tengkurap pada saat tim penyelam itu masuk, tentunya memiliki risiko tersendiri,” jelasnya.
Karena itu, operasi penyelaman hanya akan dilakukan ketika seluruh aspek keselamatan telah terpenuhi.
“Dan operasi hanya bisa dilaksanakan apabila memenuhi ketentuan dan safety first, artinya jaminan aman,” tambah Syafii.
Dengan kondisi tersebut, Tim SAR tidak bisa sekedar memaksakan penyelam masuk ke dalam kapal demi mengejar waktu pencarian.
Selain posisi kapal, keberadaan ruang kosong di dalam badan KM Virgo Transport 8 juga menjadi perhatian serius.
Basarnas mempertimbangkan risiko perubahan tekanan apabila sekat atau bagian tertentu dari kapal dibuka secara paksa.
“Begitu juga pada saat ada ruang-ruang di kapal yang kosong ini, kalau kita sampai memaksakan untuk masuk,” tutur Syafii.
“Apabila kita membuka misalkan salah satu sekat dari ruang kosong ini, di situ ada perubahan tekanan yang luar biasa, tentunya ini akan sangat membahayakan,” imbuhnya.
Kondisi tersebut membuat operasi pencarian di dalam kapal membutuhkan metode khusus.
Terlebih, cuaca buruk dan arus laut yang kuat turut menjadi kendala dalam pelaksanaan operasi bawah air.
Menghadapi kondisi tersebut, Basarnas kini melibatkan personel yang memiliki pengalaman dan kemampuan khusus untuk menentukan strategi pencarian berikutnya.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan operasi tetap berjalan, tetapi tidak mengorbankan keselamatan para personel SAR.
“Kita akan melaksanakan diskusi dan kita melibatkan personel-personel yang memang memiliki kemampuan, baik itu pengalaman atau pendidikan di kondisi-kondisi ini. Ini yang akan kita kembangkan,” ujar Syafii.
Salah satu opsi yang tengah dikaji adalah mengubah posisi KM Virgo Transport 8 yang kini berada dalam kondisi tengkurap.
Jika posisi kapal dapat dibuat lebih memungkinkan untuk diakses, pencarian terhadap korban yang mungkin masih berada di bagian dalam diharapkan dapat dilakukan dengan lebih aman.
Namun, opsi tersebut belum menjadi keputusan final, setiap langkah harus mempertimbangkan banyak faktor, mulai dari kekuatan arus laut, tekanan di dalam kapal, kondisi struktur badan kapal, hingga risiko yang dapat dihadapi para penyelam.
Di tengah pencarian 129 orang yang masih belum ditemukan, Tim SAR kini berpacu dengan waktu sekaligus harus memastikan setiap langkah evakuasi dilakukan dengan perhitungan keselamatan yang ketat. (sh)






