Infotaiment

Dari Bojonegoro ke Singapura, Kisah Sukses UMKM Perempuan

aksesadim01
8842
×

Dari Bojonegoro ke Singapura, Kisah Sukses UMKM Perempuan

Sebarkan artikel ini

BOJONEGORO – Peringatan Hari Kartini ke-147 tahun 2026 di Kabupaten Bojonegoro tak sekedar seremoni.

Momentum ini dimanfaatkan untuk mendorong penguatan ekonomi perempuan melalui gelaran bazar produk UMKM Bojonegoro yang berlangsung di Halaman Pendopo Malowopati, Selasa (21/4/2026).

Mengusung tema “Perempuan Berdaya Tanpa Perkawinan Anak” dengan subtema “Anak Berhak Bermimpi Bukan Menikah Terlalu Dini”, kegiatan di Bojonegoro ini menggabungkan semangat pemberdayaan ekonomi sekaligus kampanye sosial.

Bazar menghadirkan berbagai produk unggulan dari pelaku UMKM perempuan Bojonegoro serta kelompok UPPKA (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor).

Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa perempuan memiliki peran penting dalam menggerakkan roda ekonomi keluarga hingga daerah.

Tak hanya itu, Aparatur Sipil Negara (ASN) juga didorong untuk berpartisipasi aktif dengan membeli produk lokal Bojonegoro sebagai bentuk dukungan konkret terhadap UMKM.

Salah satu pelaku usaha, Nur asal Desa Sumbang, Kecamatan Trucuk, mengaku kegiatan bazar memberikan dampak signifikan bagi perkembangan usahanya.

Ia memproduksi berbagai olahan seperti wader, peyek udang, udang krispi, hingga aneka lauk siap saji di bawah brand Sego Padang 88.

“Sekarang pemasaran sudah berkembang. Selain dijual di toko, produk kami juga dikirim ke Jakarta dan Bandung. Bazar seperti ini sangat membantu memperluas jangkauan pasar,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Devi, pelaku UMKM asal Desa Bangilan, Kecamatan Kapas.

Dia mengandalkan produk kue kering, khususnya nastar, sebagai unggulan.

Bahkan, produknya telah menembus pasar luar negeri seperti Singapura.

Menurutnya, bazar UMKM dalam rangka Hari Kartini menjadi peluang strategis untuk memperluas jaringan sekaligus meningkatkan penjualan.

“Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut. Akan lebih menarik jika pengunjung diberi voucher khusus belanja UMKM, sehingga dampaknya lebih terasa bagi pelaku usaha,” ujarnya.

Kegiatan ini juga membawa pesan kuat terkait pencegahan perkawinan anak.

Perempuan didorong untuk mandiri, berdaya, dan mampu berkontribusi dalam pembangunan tanpa harus terjebak dalam pernikahan dini.

Melalui sinergi antara pemerintah, pelaku UMKM, dan masyarakat, diharapkan UMKM perempuan di Bojonegoro semakin berkembang, naik kelas, serta mampu bersaing di pasar yang lebih luas, bahkan hingga tingkat internasional. (er)