BIAK – Warga Kompleks Perikanan, Jalan Walter Monginsidi, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua, digemparkan oleh ledakan dahsyat yang terjadi pada Minggu (31/5/2026).
Peristiwa tersebut menimbulkan korban jiwa, merusak sejumlah rumah warga, dan memaksa puluhan orang mengungsi.
Ledakan yang terjadi di kawasan permukiman padat penduduk itu langsung menjadi perhatian publik.
Selain karena besarnya dampak yang ditimbulkan, sumber ledakan juga diduga berasal dari bom peninggalan Perang Dunia II yang masih tersimpan di lokasi kejadian.
Diduga Berasal dari Bom Peninggalan Perang Dunia II
Kapolres Biak Numfor AKBP Ari Trestiawan mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi awal di lapangan, ledakan diduga berasal dari bom sisa Perang Dunia II.
Menurutnya, ledakan terjadi di area salah satu rumah panggung yang berada di lingkungan warga.
Tim kepolisian masih terus melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
Dahsyatnya ledakan membuat warga sekitar panik, rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan sejumlah bangunan mengalami kerusakan parah dan puing-puing rumah berserakan di sekitar lokasi.
Korban jiwa dalam peristiwa ini cukup besar, hingga pendataan awal, sedikitnya lima orang dinyatakan meninggal dunia akibat ledakan tersebut.
Kelima korban yang telah teridentifikasi yakni Deflin Raubaba (41), Moris Raubaba (24), Karmila Ayorbaba (25), Israel Raubaba (7), dan Isril Raubaba (5).
Sementara itu, tiga orang lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian oleh tim gabungan.
Mereka adalah Yulianus Raubaba (26), Lai Madura (45), dan Anis Marandof (27).
Petugas terus menyisir lokasi ledakan untuk memastikan keberadaan para korban yang belum ditemukan.
Selain menimbulkan korban jiwa, ledakan juga menyebabkan kerusakan besar pada kawasan permukiman di sekitar titik kejadian.
Data sementara menunjukkan sedikitnya 12 rumah terdampak, dengan sembilan di antaranya mengalami kerusakan berat.
Beberapa bangunan bahkan dilaporkan nyaris rata dengan tanah akibat kuatnya daya ledak.
Akibat kondisi tersebut, sebanyak 55 warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Dari jumlah tersebut, 52 orang merupakan warga dewasa dan tiga lainnya balita.
Pemerintah setempat bersama aparat keamanan masih melakukan pendataan lanjutan untuk memastikan kebutuhan para pengungsi dapat terpenuhi.
Pasca ledakan, aparat kepolisian langsung memasang garis polisi di sekitar lokasi guna mencegah warga mendekat.
Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya material berbahaya lain yang masih tersisa di area kejadian.
Tim Identifikasi Forensik (Inafis) bersama sejumlah unit teknis juga telah diterjunkan untuk melakukan Tindakan Pertama di Tempat Kejadian Perkara (TPTKP).
Berbagai serpihan dan bukti fisik kini tengah dikumpulkan sebagai bagian dari proses penyelidikan.
Polisi menghimbau masyarakat agar tidak mendekati lokasi sampai proses sterilisasi dan pemeriksaan selesai dilakukan.
Hingga saat ini, penyebab pasti ledakan masih dalam penyelidikan, sementara aparat terus berupaya memastikan kondisi kawasan benar-benar aman sebelum warga diperbolehkan kembali ke lingkungan tersebut. (Tim Pitu)






