Infotaiment

ODHIV Se-Jatim Berkumpul di Bojonegoro, Bahas Kesehatan Mental dan Masa Depan

aksesadim01
8842
×

ODHIV Se-Jatim Berkumpul di Bojonegoro, Bahas Kesehatan Mental dan Masa Depan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260418 WA0022

BOJONEGORO – Suasana penuh makna dan semangat terasa dalam Workshop Kesehatan Mental bagi Orang dengan HIV (ODHIV) yang digelar Sabtu (18/4/2026) di Ruang Angling Dharma, Gedung Pemkab Bojonegoro.

Kegiatan ini menjadi ruang aman bagi para peserta untuk berbagi, belajar, sekaligus menguatkan diri menghadapi tantangan hidup.

Workshop yang diinisiasi Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Lentera Sebaya ini mengusung tema kuat, “Dari Rentan Menjadi Bertahan, Menjaga Kesehatan Mental Aman dan Berani Menghadapi Masa Depan.”

Tema tersebut mencerminkan realita sekaligus harapan bagi para ODHIV agar mampu bangkit dan menjalani hidup lebih berkualitas.

Kegiatan ini diikuti peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur, serta dihadiri perwakilan instansi seperti RSUD Sosodoro Djatikoesoemo, RSUD Padangan, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Kominfo, PMI, dan sejumlah undangan lainnya.

Hadir pula narasumber utama, Niken Mahendra, seorang konselor profesional di bidang komunikasi dan kesehatan mental.

Sub Koordinator Penyakit Menular dan Tidak Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro, Paiman, menegaskan bahwa HIV/AIDS membutuhkan kepatuhan dalam pengobatan untuk menekan jumlah virus di dalam tubuh.

Ia menyoroti bahwa hingga kini belum ada obat yang benar-benar menghilangkan virus, sehingga aspek mental dan psikososial menjadi sangat penting.

Menurutnya, stigma terhadap ODHIV masih menjadi tantangan besar. Oleh karena itu, perubahan harus dimulai dari lingkungan terdekat, yakni diri sendiri dan keluarga.

Dukungan sosial yang positif dinilai mampu membantu ODHIV menjalani pengobatan dengan lebih baik.

“KDS Lentera Sebaya mengambil peran penting melalui workshop ini. Kita juga mengarah pada target eliminasi HIV/AIDS 2030 dengan konsep Three Zero,” jelasnya.

Target tersebut mencakup tidak ada kasus baru, tidak ada kematian akibat AIDS, serta tidak adanya stigma dan diskriminasi.

Dengan demikian, diharapkan para ODHIV dapat menjalani pengobatan sesuai standar dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Bojonegoro, pada tahun 2025 tercatat 358 kasus HIV/AIDS. Sementara hingga April 2026, terdapat tambahan 31 kasus baru.

Saat ini, seluruh puskesmas dan 11 rumah sakit di Bojonegoro telah menyediakan layanan pengobatan bagi ODHIV.

Paiman juga mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam mendukung penanganan HIV/AIDS.

Dia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi non-pemerintah untuk menghapus stigma yang masih melekat.

Sementara itu, sesi materi yang dibawakan Niken Mahendra berlangsung interaktif dan menyentuh.

Melalui pendekatan personal seperti sesi “Who Am I”, “Yang Rentan Yang Bertahan”, hingga “Sehat Mental Untuk Masa Depan”, peserta diajak mengenali diri, berbagi beban, serta membangun kekuatan mental.

Workshop ini tidak hanya menjadi ajang edukasi, tetapi juga ruang pemulihan emosional.

Pesannya jelas dengan kesehatan mental yang kuat, ODHIV tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berani melangkah menuju masa depan yang lebih baik tanpa stigma. (Er)