Olahraga

Bukan Tim Unggulan, Kepohkidul Bojonegoro Angkat Trofi

aksesadim01
7
×

Bukan Tim Unggulan, Kepohkidul Bojonegoro Angkat Trofi

Sebarkan artikel ini
IMG 20260906 WA0008

BOJONEGORO — Kejutan mewarnai final Kedungadem Cup 2026, tim sepak bola Desa Kepohkidul, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, yang sejak awal tidak banyak dijagokan justru berhasil keluar sebagai kampiun setelah menaklukkan Desa Kedungadem dengan skor 3-1.

Partai final digelar di Lapangan Mban Gurdo, Desa Tumbrasanom, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu sore (5/9/2026).

Laga berlangsung sengit dengan dukungan ratusan suporter dari kedua desa yang membuat atmosfer pertandingan semakin panas dan meriah.

Kepohkidul tampil efektif sepanjang pertandingan, permainan kolektif yang ditunjukkan para pemain mampu meredam perlawanan Kedungadem hingga akhirnya kemenangan 3-1 mengantarkan mereka mengangkat trofi Kedungadem Cup 2026.

Turnamen tersebut digelar Pemerintah Kecamatan Kedungadem dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bagi masyarakat Kepohkidul, keberhasilan ini terasa istimewa.

Pasalnya, tim mereka bukanlah skuad yang sejak awal diprediksi bakal menjadi juara.

Kepala Desa Kepohkidul, Samudi, menyebut kekompakan menjadi senjata utama timnya.

Menurut dia, para pemain mungkin tidak memiliki keunggulan individu dibandingkan sejumlah tim lain, tetapi mampu menutupinya melalui kerja sama yang solid.

“Tim kami ini bukan tim yang hebat-hebat secara individu. Tetapi, tim kami sangat solid. Meskipun secara level pemain kami bisa dikatakan berada di bawah rata-rata pemain dari tim lain, karena lebih kompak dan solid, akhirnya kami tetap bisa menjadi juara,” ujar Samudi.

Ia menilai keberhasilan tersebut juga tidak lepas dari dukungan penuh masyarakat.

Sejak babak awal hingga pertandingan final, warga Kepohkidul terus memberikan semangat kepada tim kebanggaan mereka.

Dukungan itu datang dari berbagai kalangan, tidak hanya laki-laki, perempuan, anak-anak hingga ibu-ibu turut hadir memberikan dukungan dari pinggir lapangan.

“Ini semua bukan atas satu atau dua orang saja, tetapi hasil dari sekumpulan warga, hasil dari segenap masyarakat. Mereka betul-betul sangat kompak mendukung tim kesebelasan. Dukungan itulah yang membuat kami semakin bersemangat dan percaya diri,” jelasnya.

Menurut Samudi, sorakan dan dukungan warga menjadi energi tambahan bagi pemain.

Kepercayaan diri mereka semakin tumbuh sehingga mampu menjalani pertandingan dengan lebih tenang dan percaya pada kekuatan tim sendiri.

Dari perjalanan di Kedungadem Cup 2026, Samudi mengatakan ada satu pelajaran penting yang didapat, yakni sepak bola bukan hanya tentang siapa pemain yang paling hebat.

Tim yang dipenuhi pemain berkualitas, menurutnya, belum tentu mampu meraih kemenangan apabila tidak dibarengi kerja sama.

Sebaliknya, pemain dengan kemampuan rata-rata bisa tampil luar biasa ketika memiliki visi bermain dan kekompakan yang kuat.

“Sepak bola itu membutuhkan kekompakan. Meskipun mungkin tidak ada pemain yang benar-benar menonjol, tetapi karena kompak, kita bisa menjadi luar biasa. Intinya, kemampuan individu bukan hal yang utama dalam sebuah tim. Kekompakan dan keselarasan itu yang terpenting,” tegas Samudi.

Dia pun memberikan gambaran sederhana, menurutnya, beberapa pemain yang dianggap jago belum tentu lebih kuat dibandingkan pemain dengan kemampuan biasa apabila mereka tidak mampu bekerja sama.

“Jangan melihat siapa yang punya kemampuan lebih atau siapa yang dianggap jagoan. Apa gunanya empat orang yang mahir dan katanya jagoan, dibandingkan dengan sepuluh orang yang kemampuannya rata-rata tetapi bisa bermain kompak, saling mengisi dan mampu berimprovisasi di lapangan,” pungkasnya.

Bagi Samudi, trofi Kedungadem Cup 2026 bukan hanya simbol kemenangan di lapangan. Gelar tersebut menjadi bukti bahwa kekuatan sebuah tim dapat tumbuh dari kebersamaan, kerja sama, dan dukungan masyarakat.

Kemenangan Kepohkidul sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan olahraga di tingkat desa.

Semangat tersebut diharapkan mampu membuka ruang lebih luas bagi generasi muda untuk mengembangkan bakat dan potensi mereka melalui olahraga.

Kepohkidul mungkin tidak datang sebagai tim unggulan, namun, di partai puncak mereka membuktikan bahwa sepak bola tidak selalu dimenangkan oleh nama besar atau pemain bintang.

Kekompakan justru menjadi kunci yang membawa mereka pulang dengan trofi juara. (er)