Daerah

Kompak Banget, Warga Krapyak Kedungadem Bojonegoro Hidupkan Tradisi Sedekah Bumi

aksesadim01
×

Kompak Banget, Warga Krapyak Kedungadem Bojonegoro Hidupkan Tradisi Sedekah Bumi

Sebarkan artikel ini
IMG 20260919 WA0014

BOJONEGORO – Tradisi Sedekah Bumi kembali berlangsung semarak di Dusun Krapyak, Desa Kedungadem, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).

Ratusan warga dari berbagai RT larut dalam Kirab Budaya yang digelar sebagai bagian dari rangkaian Bersih Desa.

Bukan hanya menghadirkan suasana meriah, kegiatan ini juga menjadi wujud rasa syukur masyarakat sekaligus upaya menjaga tradisi warisan leluhur agar tetap lestari.

Kirab tersebut diikuti warga dari 10 RT yang berada di wilayah RW 02 Desa Kedungadem.

Mereka tergabung dalam paguyuban “Singo Dipo” dan secara bersama-sama menampilkan beragam kreasi budaya serta membawa hasil bumi dalam arak-arakan.

Yang menarik, kegiatan tersebut sepenuhnya mendapat dukungan dari masyarakat.

Persiapan yang dilakukan dalam waktu relatif singkat tidak menyurutkan semangat warga untuk bergotong royong menyukseskan kirab.

Kepala Desa Kedungadem, Agus Hari Purwanto, mengapresiasi kekompakan masyarakat yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

“Alhamdulillah, saya atas nama Pemerintah Desa mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini,” ujar Agus.

Menurutnya, Sedekah Bumi memiliki makna lebih dari sekadar kegiatan tahunan.

Tradisi tersebut menjadi sarana masyarakat untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil bumi sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap dikenal oleh generasi muda.

“Tujuan pawai budaya dalam rangka Sedekah Bumi adalah bentuk mensyukuri hasil bumi yang melimpah dan nguri-uri budaya. Harapan kami, mudah-mudahan kegiatan tahun depan bisa kita adakan dengan lebih meriah lagi,” ungkapnya.

Sementara itu, Imam, salah satu warga Dusun Krapyak, menyebut antusiasme masyarakat menjadi kunci terselenggaranya kegiatan tersebut.

Menurutnya, meskipun persiapan dilakukan secara mendadak, warga tetap menunjukkan semangat gotong royong. Pembiayaan kegiatan juga berasal dari swadaya masyarakat.

“Pawai budaya Sedekah Bumi ini berkat kekompakan warga masyarakat Dusun Krapyak. Seluruh warga ikut andil dalam kegiatan yang serba mendadak. Biaya untuk kegiatan ini murni dari warga masyarakat,” kata Imam.

Salah satu daya tarik dalam kirab tersebut adalah gunungan hasil pertanian yang diarak bersama rombongan.

Gunungan menjadi simbol rasa syukur masyarakat terhadap hasil tanah yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan warga.

Arak-arakan pun mendapat perhatian masyarakat di sepanjang jalur yang dilalui.

Warga tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga turut menyaksikan kemeriahan kirab yang menampilkan berbagai kreasi dari masing-masing kelompok.

Kebersamaan 10 RT dalam satu paguyuban “Singo Dipo” membuat kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi pertunjukan budaya.

Kirab juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, membangun kekompakan, dan menghidupkan kembali semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Dari sisi keamanan, jalannya kegiatan mendapat pengawalan dari Babinsa, Bhabinkamtibmas, Satpol PP, dan Linmas bersama perangkat Desa Kedungadem. Pengamanan dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kirab berjalan aman dan tertib.

Kirab Budaya Sedekah Bumi di Dusun Krapyak menjadi gambaran bahwa tradisi lokal masih mendapat tempat kuat di tengah masyarakat.

Di balik gunungan hasil pertanian dan kemeriahan arak-arakan, tersimpan pesan tentang rasa syukur, kebersamaan, serta tekad warga untuk menjaga budaya lokal agar terus diwariskan kepada generasi berikutnya. (er)