BOJONEGORO — Semangat membangun budaya literasi tidak selalu lahir dari ruang-ruang besar.
Di Bojonegoro, perjuangan itu justru tumbuh dari langkah seorang relawan yang rela menyisihkan waktu dan tenaganya untuk mendampingi masyarakat.
Sosok tersebut adalah Imron Nasir, yang akrab disapa Impong.
Ia merupakan Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Kabupaten Bojonegoro dalam program Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI).
Suasana hangat terlihat dalam sebuah kegiatan di ruang pertemuan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Senin (7/9/2026).
Pelajar, mahasiswa, pemerhati budaya lokal, penulis buku hingga pegiat puisi berkumpul dalam satu ruang.
Di tengah kegiatan tersebut, Impong terlihat aktif menyapa dan berinteraksi dengan para pegiat literasi.
Baginya, literasi bukan sekadar aktivitas membaca buku, tetapi jalan untuk membuka kesempatan dan mencerdaskan masyarakat.
Lebih dari tujuh tahun ia menjalani aktivitas literasi secara sukarela, energi untuk terus bergerak pun belum surut.
Impong menjadi salah satu dari 180 Relima di seluruh Indonesia yang terpilih untuk menjalankan peran tersebut.
Secara umum, Relima merupakan warga negara Indonesia yang secara sukarela menyumbangkan waktu, tenaga dan keahliannya untuk mendampingi pengelolaan serta pemanfaatan perpustakaan sebagai sarana pemberdayaan masyarakat.
Dunia literasi sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi Impong. Ia telah lama berkecimpung dalam kegiatan menulis, khususnya puisi.
Karya-karyanya tidak hanya disimpan untuk diri sendiri, dia aktif membagikan tulisan melalui kelompok-kelompok kecil sekaligus mengajak masyarakat untuk berani menulis dan menciptakan puisi.
Salah satu karya yang lahir dari aktivitas tersebut adalah buku kumpulan puisi berjudul “Ada Empat Kereta Api”.
Buku itu terinspirasi dari kumpulan status kehidupan yang pernah ditulisnya melalui WhatsApp pribadi.
Pengalaman sebagai relawan juga terus berkembang dari tahun ke tahun.
“Tahun 2025 lalu saya dikontrak selama enam bulan dengan syarat minimal lima tahun aktif berkegiatan literasi. Untuk tahun 2026 ini, durasi programnya lima bulan,” tuturnya.
Dari sekian banyak perjalanan ke berbagai wilayah, ada dua desa yang paling membekas bagi Impong, yakni Desa Beji, Kecamatan Kedewan dan Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu.
Di dua tempat tersebut, ia menemukan antusiasme anak-anak yang menurutnya sangat kuat meski dihadapkan pada keterbatasan akses terhadap buku.
“Paling inspiratif itu saat mendampingi anak-anak di Desa Beji dan Ngringinrejo. Antusiasme mereka sangat luar biasa. Sayangnya akses buku masih terbatas,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa tantangan gerakan literasi di setiap desa tidak selalu sama.
Semakin luas gerakan literasi menjangkau pelosok, semakin beragam pula persoalan yang harus dihadapi para pegiatnya.
Impong mengakui, menghidupkan literasi dari tingkat akar rumput bukan pekerjaan mudah.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah semakin terbatasnya anggaran hibah buku dari pusat.
Menurutnya, ketersediaan buku tetap menjadi faktor penting agar masyarakat di wilayah pelosok memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan.
“Tantangannya, anggaran hibah buku terus berkurang. Tugas kita bersama adalah mencari cara agar setiap desa, sampai ke pelosok, tetap memiliki akses yang sama terhadap jendela dunia,” jelasnya.
Selain persoalan buku, ia menilai penguatan gerakan literasi juga membutuhkan payung hukum yang lebih mutakhir.
Gerakan yang dijalankan Impong bersama para pegiat literasi pada dasarnya bertumpu pada kesukarelaan.
Tidak ada sokongan anggaran khusus yang menjadi sumber utama kegiatan.
Karena itu, kolaborasi antarkomunitas di tingkat lokal dinilai menjadi kunci agar gerakan literasi tetap hidup.
“Pesan dan harapan saya sederhana, kolaborasi antar-komunitas lokal harus terus ditingkatkan. Karena kami bekerja tanpa anggaran dan semua serba sukarela, kekuatan utama kita ada pada gotong royong dan kebersamaan,” pungkasnya.
Bagi Impong, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bergerak.
Selama masih ada kemauan untuk berbagi pengetahuan, semangat literasi diyakini tetap bisa tumbuh, bahkan dari desa-desa yang jauh dari pusat kota. (er)






