BOJONEGORO – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Tahun 2026 kembali digelar di Kabupaten Bojonegoro dengan Desa Kesongo, Kecamatan Kedungadem, sebagai lokasi utama pelaksanaan.
Program yang berlangsung hingga 13 Agustus 2026 ini menjadi bukti nyata kolaborasi antara TNI, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan masyarakat dalam mempercepat pembangunan desa sekaligus memperkuat semangat gotong royong.
Mengusung tema “TMMD Satukan Langkah Membangun Negeri dari Desa”, TMMD ke-129 tidak hanya mengejar pembangunan fisik, tetapi juga membangun kebersamaan, memperkuat ketahanan sosial, serta mendorong kemandirian masyarakat sebagai fondasi pembangunan nasional.
Komandan Satgas TMMD ke-129 Kodim 0813 Bojonegoro, Letkol Inf Dedy Dwi Wijayanto, menegaskan bahwa TMMD merupakan program terpadu yang mengombinasikan pembangunan infrastruktur dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, personel Satgas akan hidup berdampingan dengan warga Desa Kesongo selama pelaksanaan TMMD sehingga terbangun hubungan yang erat antara TNI dan masyarakat.
“TMMD bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun kebersamaan dan memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat. Kehadiran kami di tengah masyarakat diharapkan benar-benar memberikan manfaat yang bisa dirasakan secara langsung,” ujar Letkol Inf Dedy Dwi Wijayanto, Minggu (19/7/2026).
Pada sektor fisik, TMMD ke-129 mengerjakan sejumlah proyek strategis, di antaranya pembangunan jalan cor beton, rehabilitasi ruang kelas sekolah, peningkatan kualitas Rumah Tinggal Layak Huni (RTLH) melalui Program Aladin, pembangunan drainase, pembuatan sumur bor, hingga normalisasi sungai.
Sementara itu, sasaran non fisik meliputi penyuluhan wawasan kebangsaan, edukasi kesehatan termasuk pencegahan stunting, pelatihan bagi pelaku UMKM, penyuluhan hukum, keamanan, serta berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat lainnya.
Letkol Dedy menilai, kekuatan utama TMMD terletak pada keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap tahapan pembangunan. Kolaborasi antara dukungan anggaran pemerintah daerah, tenaga personel TNI dan semangat gotong royong warga dinilai mampu menghasilkan pembangunan yang lebih efektif, efisien dan tepat sasaran.
“Ketika TNI dan masyarakat bekerja bersama, mengangkat material, mengecor jalan, dan menyelesaikan pembangunan secara bergotong royong, di situlah fondasi pertahanan bangsa sesungguhnya sedang dibangun. TMMD bukan sekadar proyek pembangunan, tetapi wujud nyata kemanunggalan TNI dan rakyat,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa manfaat TMMD tidak berhenti pada selesainya pembangunan fisik. Infrastruktur yang lebih baik akan memperlancar distribusi hasil pertanian, menekan biaya transportasi dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.
Di sisi lain, berbagai program sosial yang dijalankan selama TMMD turut mempererat hubungan antara TNI dan warga, menciptakan lingkungan yang aman, harmonis, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui perbaikan sanitasi, rehabilitasi rumah dan edukasi kesehatan.
Menurut Letkol Dedy, seluruh hasil pembangunan nantinya harus dijaga dan dirawat bersama agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh masyarakat Desa Kesongo.
“Harapan kami, setelah TMMD selesai, semangat gotong royong tidak ikut berakhir. Justru semangat itu harus terus hidup sebagai penggerak pembangunan desa yang mandiri, maju, dan sejahtera. Mari kita terus bersatu membangun negeri, dimulai dari desa,” pungkasnya.
Melalui TMMD ke-129, Desa Kesongo tidak hanya mendapatkan pembangunan infrastruktur yang lebih baik, tetapi juga memperkuat budaya gotong royong, kepedulian sosial dan kemanunggalan TNI dengan rakyat sebagai modal utama mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. (Er)






