Peristiwa

Tol Getaci Mandek Dua Kali Lelang, Investor Enggan Masuk Ada Apa

aksesadim01
6773
×

Tol Getaci Mandek Dua Kali Lelang, Investor Enggan Masuk Ada Apa

Sebarkan artikel ini
IMG 20260426 WA0029

JAKARTA – Nasib Proyek Strategis Nasional (PSN) Jalan Tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap atau Tol Getaci kian menjadi sorotan.

Setelah dua kali proses lelang berujung kegagalan, proyek ambisius yang digadang-gadang menjadi tol terpanjang di Indonesia ini dinilai membutuhkan terobosan baru agar tidak terus terkatung-katung.

Direktur Eksekutif Pusat Kajian Infrastruktur Strategis (PUKIS), M. M. Gibran Sesunan, menilai pemerintah tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan lama dalam menawarkan proyek tersebut kepada investor.

Menurutnya, kegagalan berulang menjadi sinyal kuat bahwa skema yang ada saat ini kurang menarik secara bisnis.

“Kalau terus dilelang tanpa perubahan strategi, hasilnya akan sama. Pemerintah perlu langkah baru agar proyek ini punya daya tarik di mata investor,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (18/4/2026).

Sebelumnya, Tol Getaci sempat memiliki pemenang lelang pada tahap awal.

Namun, konsorsium tersebut gagal memenuhi kewajiban pendanaan atau financial close, sehingga proyek kembali dilelang.

Sayangnya, pada lelang kedua, tidak ada investor yang berminat.

Kondisi ini dinilai berisiko terhadap keberlanjutan proyek yang dirancang menghubungkan wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah tersebut.

Padahal, keberadaan investor sangat penting untuk membentuk Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang akan menggarap pembangunan hingga operasional jalan tol.

Selain bertanggung jawab pada aspek teknis, BUJT juga berperan penting dalam pendanaan awal, termasuk talangan pembebasan lahan jika anggaran pemerintah belum tersedia.

PUKIS mengungkap sejumlah faktor utama yang membuat Tol Getaci kurang diminati.

Salah satunya adalah besarnya nilai investasi yang tidak sebanding dengan potensi lalu lintas kendaraan, khususnya pada ruas Tasikmalaya hingga Cilacap yang diprediksi memiliki volume rendah.

“Kondisi ini membuat potensi pendapatan dari tarif tol menjadi tidak menarik bagi investor. Mereka tentu akan menghitung risiko dan keuntungan secara matang,” jelas Gibran.

Selain itu, situasi ekonomi yang belum stabil turut mempengaruhi minat investasi di sektor infrastruktur.

Proyek jalan tol dikenal membutuhkan modal besar dengan periode balik modal yang panjang, sehingga investor cenderung lebih berhati-hati.

PUKIS juga menilai, persepsi pasar terhadap menurunnya prioritas pembangunan infrastruktur dalam kebijakan pemerintah saat ini ikut memperlemah daya tarik proyek tersebut.

Untuk mengatasi kebuntuan ini, PUKIS menawarkan sejumlah opsi strategis. Pertama, pemerintah dapat terlibat langsung melalui skema dukungan konstruksi (dukon) agar beban investasi tidak sepenuhnya ditanggung badan usaha.

Namun, opsi ini dinilai memiliki tantangan tersendiri mengingat keterbatasan anggaran infrastruktur dalam pemerintahan saat ini, serta kebijakan terbaru yang cenderung mengurangi dukungan langsung pada proyek KPBU.

Alternatif kedua, pemerintah dapat mendorong lembaga investasi milik negara seperti Danantara atau Indonesia Investment Authority (INA) untuk masuk dan memimpin konsorsium proyek.

Langkah ini diharapkan dapat memicu kepercayaan investor lain.

Sementara itu, opsi ketiga dinilai paling realistis, yakni dengan membagi proyek Tol Getaci menjadi dua ruas terpisah, yakni Gedebage–Tasikmalaya dan Tasikmalaya–Cilacap.

Skema ini dinilai dapat menekan nilai investasi per paket sekaligus meningkatkan kelayakan bisnis.

PUKIS meyakini ruas Gedebage–Tasikmalaya memiliki potensi lalu lintas yang lebih tinggi sehingga lebih mudah menarik investor.

Jika ruas ini berhasil berjalan, maka pengembangan ke arah Cilacap akan menjadi lebih menjanjikan.

“Lebih baik fokus pada ruas yang potensial terlebih dahulu daripada proyek terus stagnan. Harus ada terobosan nyata agar Tol Getaci tidak hanya jadi rencana tanpa realisasi,” tegas Gibran.

Dengan kondisi saat ini, masa depan Tol Getaci sangat bergantung pada keberanian pemerintah dalam mengambil langkah strategis.

Tanpa perubahan signifikan, proyek besar ini berisiko terus tertunda tanpa kepastian. (dpw)