BOJONEGORO – Sisa lahan di belakang rumah ternyata bisa menjadi sumber penghasilan.
Hal itu dibuktikan Mujianto, warga Desa Gedongarum, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, yang berhasil mengembangkan usaha ayam petelur secara mandiri.
Menariknya, usaha yang dijalankan Mujianto tumbuh setelah dirinya mengenal program Gayatri (Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri) yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
Meski terinspirasi program tersebut, Mujianto membangun peternakannya menggunakan modal pribadi.
Kini, terdapat 98 ekor ayam petelur yang dipeliharanya, produktivitas ternak tersebut terbilang tinggi, dengan tingkat produksi telur mencapai sekitar 98 persen setiap hari.
Bukan hanya memenuhi kebutuhan telur, usaha tersebut juga berkembang menjadi bagian dari jejaring pemasaran bersama sejumlah penerima program Gayatri di lingkungannya.
Ketertarikan Mujianto terhadap ayam petelur muncul setelah mengetahui program Gayatri.
Dari sana, ia kemudian mencoba memulai usaha sendiri dengan membeli ayam petelur dan membangun kandang menggunakan bahan sederhana.
Keterbatasan modal tidak menyurutkan langkahnya, bambu dimanfaatkan sebagai bahan utama pembuatan kandang di lahan belakang rumah.
“Awalnya tertarik dengan program Gayatri. Kemudian saya mencoba membeli ayam sendiri dan membuat kandang dari bambu,” ujar Mujianto.
Seiring usaha berjalan, Mujianto tidak hanya mengandalkan cara pemeliharaan biasa.
Ia mencoba melakukan berbagai inovasi untuk menjaga kondisi ayam sekaligus menekan biaya produksi.
Salah satunya dengan membuat vitamin alami menggunakan bahan yang mudah diperoleh, seperti jahe, serai, gula batu, dan gula merah.
Racikan tersebut diberikan sekitar dua kali dalam sebulan atau menyesuaikan kondisi ternaknya.
Efisiensi juga diterapkan dalam urusan pakan, Mujianto memilih meracik pakan sendiri dengan memadukan sentrat, jagung dan dedak.
Cara tersebut membuat kebutuhan pakan dapat disesuaikan dengan kondisi ternak sekaligus membantu mengoptimalkan biaya pemeliharaan.
Bagi Mujianto, keberhasilan beternak bukan hanya soal jumlah ayam yang dipelihara.
Perawatan, efisiensi biaya dan menjaga produktivitas menjadi bagian penting agar usaha tetap berjalan dan berkembang.
Menariknya, manfaat usaha tersebut kemudian diperluas melalui kerja sama pemasaran.
Mujianto turut membantu memasarkan telur bersama peternak lain yang menerima program Gayatri.
Kolaborasi ini dinilai dapat memperluas jangkauan pasar sekaligus memperkuat hubungan antarpelaku usaha ayam petelur di tingkat desa.
Untuk menjaga keberlanjutan usahanya, Mujianto juga mulai menyiapkan generasi berikutnya.
Saat ini, ia telah memiliki anakan ayam berusia sekitar tiga minggu.
Anakan tersebut dipersiapkan sebagai regenerasi untuk menggantikan ayam yang nantinya memasuki masa tidak produktif.
Kisah Mujianto menunjukkan bahwa usaha peternakan tidak selalu membutuhkan lahan luas maupun modal besar.
Lahan sederhana di belakang rumah pun bisa menjadi ruang produktif jika dikelola dengan tekad, inovasi dan perhitungan yang tepat.
Terinspirasi dari program pemerintah, kemudian bergerak dengan modal sendiri dan membangun jejaring pemasaran bersama, Mujianto membuktikan bahwa budidaya ayam petelur dapat berkembang menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan di tingkat rumah tangga dan desa. (er)






