Infotaiment

Diabetes Bisa Dicegah, Ini Pesan Penting IDI Bojonegoro

aksesadim01
7847
×

Diabetes Bisa Dicegah, Ini Pesan Penting IDI Bojonegoro

Sebarkan artikel ini
IMG 20260719 WA0057

BOJONEGORO – Kesadaran masyarakat terhadap bahaya diabetes melitus terus menjadi perhatian berbagai pihak.

Dalam rangka memperingati World Diabetes Day (WDD) 2026, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bojonegoro berkolaborasi dengan Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) Jawa Timur menggelar seminar bertajuk “Hidup Sehat Sejahtera dengan Diabetes Terkontrol” di Pendopo Malowopati Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Minggu (19/7/2026).

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat kapasitas tenaga medis dalam menghadapi meningkatnya kasus diabetes.

Seminar diawali dengan sesi ilmiah yang diikuti dokter umum dan dokter spesialis penyakit dalam, kemudian dilanjutkan dengan edukasi bagi masyarakat mengenai pencegahan, pengendalian, hingga penanganan komplikasi diabetes.

Kolaborasi antara IDI Cabang Bojonegoro, PERSADIA Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Kesehatan diharapkan mampu memperluas akses informasi kesehatan yang akurat serta meningkatkan kualitas pelayanan bagi penyandang diabetes.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Alvi Chomariyati, menegaskan bahwa peringatan World Diabetes Day bukan hanya seremoni tahunan, melainkan kesempatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit yang jumlah penderitanya terus bertambah setiap tahun.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam pengendalian diabetes bukan hanya penyakit itu sendiri, tetapi masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai faktor risiko, pencegahan dan pengelolaannya.

“Musuh terbesar diabetes bukan penyakitnya, tetapi ketidaktahuan masyarakat. Karena itu kami berkomitmen menghadirkan informasi yang valid, ilmiah dan mudah dipahami agar masyarakat mampu mengendalikan diabetes melalui edukasi, pengaturan nutrisi, aktivitas fisik dan kepatuhan menjalani terapi,” jelas dr. Alvi.

Sementara itu, Ketua IDI Cabang Bojonegoro, dr. Pramono Apriawan Wijayanto, mengatakan seminar tersebut merupakan bentuk nyata pengabdian profesi kedokteran kepada masyarakat.

Menurutnya, sinergi antara organisasi profesi, pemerintah daerah, dan berbagai pihak menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa diabetes bukan hanya persoalan tingginya kadar gula darah, tetapi juga ancaman komplikasi serius yang dapat menyerang berbagai organ tubuh apabila tidak ditangani secara tepat.

“Kami ingin terus bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan seluruh organisasi terkait untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan bermartabat. Masyarakat juga perlu mendapatkan pendampingan tenaga kesehatan yang benar serta tidak mudah mempercayai informasi kesehatan yang belum terverifikasi,” ujar dr. Pramono.

Mewakili Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, Sekretaris Daerah Bojonegoro Edi Susanto memberikan apresiasi kepada IDI Cabang Bojonegoro dan PERSADIA Jawa Timur atas penyelenggaraan seminar tersebut.

Dia menilai kolaborasi organisasi profesi dengan pemerintah merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit tidak menular, khususnya diabetes melitus.

Dalam sambutan Bupati Bojonegoro Setyo Wahono yang dibacakan Sekretaris Daerah Bojonegoro Edi Susanto
menyebut diabetes sebagai “silent killer” karena sering berkembang tanpa gejala yang disadari hingga akhirnya menimbulkan berbagai komplikasi serius.

Dirinya juga mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini termasuk lima negara dengan jumlah penyandang diabetes terbanyak di dunia.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh perubahan pola hidup, tingginya konsumsi makanan dan minuman manis, minimnya aktivitas fisik, serta rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Sebagai bentuk komitmen, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus memperkuat upaya promotif dan preventif melalui Dinas Kesehatan bersama seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.

Berbagai program seperti Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dan deteksi dini penyakit tidak menular terus digencarkan, disertai ajakan kepada masyarakat untuk menerapkan perilaku CERDIK, yaitu cek kesehatan secara berkala, menghindari asap rokok, rajin beraktivitas fisik, menjalani pola makan sehat dengan gizi seimbang, beristirahat cukup, serta mengelola stres.

Edi menegaskan bahwa keberhasilan mengendalikan diabetes tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja.

Dibutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, termasuk organisasi profesi, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat.

“Kami berharap IDI dan PERSADIA terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam memberikan edukasi kesehatan sehingga semakin banyak masyarakat yang mampu mencegah, mendeteksi lebih dini, dan mengendalikan diabetes secara optimal,” tuturnya.

Seminar kemudian dilanjutkan dengan paparan dari sejumlah narasumber yang membahas berbagai aspek penting mengenai diabetes. dr. Hermina Novida menyampaikan materi tentang hubungan diabetes dengan osteoporosis atau pengeroposan tulang.

Selanjutnya dr. Sekar Ayu mengulas retinopati diabetik sebagai salah satu komplikasi yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan, sedangkan Erni Ernawati memberikan edukasi mengenai pentingnya memilih makanan sehat sebagai langkah efektif dalam mengendalikan diabetes.

Melalui kegiatan ini, IDI Cabang Bojonegoro bersama PERSADIA Jawa Timur berharap masyarakat semakin memahami bahwa diabetes dapat dicegah dan dikendalikan melalui pola hidup sehat, pemeriksaan kesehatan secara rutin, serta kepatuhan menjalani terapi medis sehingga risiko komplikasi dapat diminimalkan dan kualitas hidup penyandang diabetes tetap terjaga. (er)