BOJONEGORO – Tren wisata berbasis edukasi pertanian semakin diminati masyarakat. Di Kabupaten Bojonegoro, sebuah kebun melon hidroponik yang dikelola El Farm di Desa Sambongrejo, Kecamatan Sumberrejo, sukses menarik perhatian ratusan pengunjung melalui program wisata petik melon yang unik dan menyenangkan.
Berawal dari hobi menanam melon di halaman rumah, pasangan suami istri Erieza dan keluarganya berhasil mengembangkan usaha sederhana tersebut menjadi kebun melon hidroponik modern yang kini menjadi salah satu destinasi agrowisata menarik di Bojonegoro.
Dengan luas lahan sekitar 500 meter persegi, El Farm saat ini membudidayakan sekitar 1.500 tanaman melon dari berbagai varietas unggulan.
Beberapa jenis yang ditanam antara lain Sweet Lavender, Sweet Hammi, Skid Row, dan Pearl Lady yang dikenal memiliki rasa manis, tekstur renyah, serta aroma khas yang berbeda-beda.
Menurut Erieza, metode hidroponik dipilih karena mampu menghasilkan buah berkualitas tinggi dengan proses budidaya yang lebih terkontrol.
Selain itu, penggunaan air juga lebih efisien dibandingkan sistem tanam konvensional.
“Awalnya hanya mencoba menanam sendiri di rumah. Setelah memahami teknik budidayanya dan hasilnya cukup baik, kami memutuskan untuk mengembangkan dalam skala yang lebih besar. Saat ini ada sekitar 1.500 tanaman yang kami kelola,” ujarnya.
Memasuki masa panen kedua, El Farm menghadirkan inovasi baru dengan membuka program wisata petik melon.
Berbeda dengan panen pertama yang seluruh hasilnya dipasarkan melalui distributor, kali ini masyarakat diberi kesempatan memanen sendiri buah melon langsung dari kebun.
Langkah tersebut ternyata mendapat respons luar biasa. Selama pelaksanaan wisata petik melon pada 12 hingga 14 Juni 2026, ratusan pengunjung memadati lokasi untuk merasakan pengalaman memanen buah segar langsung dari pohonnya.
Melihat tingginya antusiasme masyarakat, El Farm kembali membuka wisata petik melon pada Selasa, 16 Juni 2026, mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.
Daya tarik utama yang ditawarkan bukan hanya kesempatan memetik sendiri buah pilihan, tetapi juga pengalaman mencicipi melon segar secara gratis di area kebun.
Pengunjung dapat merasakan langsung kualitas dan rasa buah sebelum membawanya pulang.
“Kami ingin memberikan pengalaman berbeda. Pengunjung bisa menikmati melon langsung di kebun dan mencicipinya sepuasnya. Semua varietas kami jual dengan harga yang sama, yaitu Rp25 ribu per kilogram,” jelas Erieza.
Selain menjadi tempat berburu buah segar berkualitas, wisata ini juga berkembang menjadi sarana edukasi yang menarik bagi keluarga.
Banyak orang tua memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengenalkan anak-anak pada dunia pertanian modern dan proses budidaya tanaman secara langsung.
Salah satu pengunjung, Sulistya, warga Kecamatan Sugihwaras, mengaku sengaja datang kembali bersama anaknya setelah sebelumnya berkunjung bersama teman-temannya.
Menurutnya, konsep wisata seperti ini sangat bermanfaat karena mampu memberikan pengalaman belajar yang tidak didapatkan di ruang kelas.
“Anak-anak bisa melihat langsung bagaimana tanaman melon dirawat hingga siap panen. Ini menjadi pengalaman edukatif yang menyenangkan. Apalagi buahnya manis, segar, dan dibudidayakan tanpa pestisida berlebihan,” tuturnya.
Keberhasilan El Farm menjadi bukti bahwa sektor pertanian memiliki peluang besar untuk berkembang melalui inovasi.
Perpaduan antara teknologi hidroponik, produksi buah berkualitas, dan konsep wisata edukasi terbukti mampu menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus meningkatkan minat masyarakat terhadap dunia pertanian.
Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat dan wisata berbasis pengalaman, kebun melon hidroponik di Desa Sambongrejo berpotensi menjadi salah satu ikon agrowisata baru di Bojonegoro yang layak dikunjungi sekaligus menjadi inspirasi bagi petani lain untuk terus berinovasi. (er)






