Daerah

Dari 116 Jadi 219 Inovasi, Bojonegoro Bidik Prestasi di Tingkat Nasional

aksesadim01
×

Dari 116 Jadi 219 Inovasi, Bojonegoro Bidik Prestasi di Tingkat Nasional

Sebarkan artikel ini
IMG 20261029 WA0029

BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro memberikan tantangan kepada para inovator agar tidak berhenti pada penciptaan gagasan, tetapi mampu membuktikan manfaat nyata dari setiap inovasi yang dikembangkan.

Inovasi yang berkualitas harus menghasilkan perubahan yang bisa dirasakan masyarakat, bukan hanya menjadi karya untuk meraih penghargaan.

Pesan tersebut mengemuka dalam ajang Bojonegoro Inovatif Award (BIA) 2026 yang digelar Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kabupaten Bojonegoro di Hall Hotel Griya Dharma Kusuma, Kamis (29/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Pemkab Bojonegoro memberikan apresiasi kepada para inovator dari berbagai bidang yang dinilai berkontribusi melalui gagasan dan solusi untuk mendukung pembangunan daerah.

BIA 2026 mencakup enam kategori, yakni organisasi perangkat daerah (OPD), pemerintah kecamatan, pemerintah desa/kelurahan, pelajar/mahasiswa, bidang usaha dan masyarakat umum.

Penghargaan ini menjadi bentuk pengakuan atas kreativitas sekaligus momentum untuk mendorong lahirnya inovasi yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, hadir bersama Ketua Dewan Pembina Inspira Risbo (Inspirasi Akademisi dan Periset Bojonegoro), Cantika Wahono.

Dalam sambutannya, Nurul menyampaikan salam dari Bupati Bojonegoro Setyo Wahono.

Ia menegaskan bahwa penilaian inovasi tidak semestinya hanya berorientasi pada banyaknya karya yang dihasilkan.

Menurutnya, kualitas inovasi harus menjadi perhatian utama, terutama dari segi perubahan dan manfaat yang dihasilkan setelah inovasi diterapkan.

“Penghargaan kali ini jangan menekankan kuantitas, tetapi kualitas. Maka, before-after-nya harus terlihat,” ungkap Nurul.

Pesan tersebut menegaskan bahwa inovasi perlu memiliki hasil yang dapat diukur.

Perubahan sebelum dan sesudah penerapan menjadi salah satu cara untuk melihat apakah sebuah gagasan benar-benar mampu menyelesaikan persoalan.

Dalam konteks pemerintahan, inovasi dapat diwujudkan melalui peningkatan kualitas pelayanan publik, pemberdayaan masyarakat, hingga penyederhanaan proses kerja yang selama ini dinilai kurang efektif.

Sementara di tingkat masyarakat, inovasi diharapkan mampu membuka peluang usaha, meningkatkan produktivitas dan memberikan solusi atas berbagai persoalan di lingkungan sekitar.

Nurul menjelaskan bahwa pembentukan Brida memiliki peran strategis dalam mengembangkan riset dan inovasi yang mendukung pencapaian target pembangunan Kabupaten Bojonegoro.

Sejumlah sasaran yang menjadi perhatian meliputi penurunan angka kemiskinan, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pertumbuhan ekonomi, pengurangan pengangguran, serta peningkatan konektivitas wilayah.

Karena itu, inovasi diharapkan tidak berhenti sebagai ide kreatif atau dokumen perencanaan.

Setiap gagasan perlu diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata dan mendukung penyelesaian persoalan pembangunan.

Sektor pertanian dan kesehatan menjadi dua bidang yang turut mendapat perhatian dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pengembangan inovasi pada kedua sektor tersebut diharapkan mampu memperkuat produktivitas, meningkatkan kualitas pelayanan dan memberikan dampak yang lebih luas bagi warga.

Nurul juga mengingatkan agar semangat berinovasi tetap terjaga meskipun terjadi pergantian pimpinan atau perubahan kebijakan.

“Inovasi ini jangan berhenti hanya karena pergantian pimpinan, karena inovasi adalah pemecahan masalah yang ada. Harapannya, dari para penerima penghargaan ini ada yang maju di tingkat nasional,” pesannya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa inovasi yang baik seharusnya dapat diterapkan secara berkelanjutan, tidak bergantung pada sosok atau periode kepemimpinan tertentu.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Bojonegoro, Dili Tri Wibowo, mengungkapkan bahwa jumlah inovasi yang masuk dalam ajang BIA 2026 mengalami peningkatan signifikan.

Pada penyelenggaraan tahun ini, tercatat sebanyak 219 inovasi masuk, meningkat dari 116 inovasi pada periode sebelumnya.

Kenaikan tersebut menunjukkan semakin banyak gagasan yang diajukan oleh berbagai unsur, mulai dari perangkat daerah hingga masyarakat.

Namun, bertambahnya jumlah inovasi juga menjadi tantangan tersendiri.

Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa karya yang dihasilkan tidak berhenti pada tahap pengajuan atau kompetisi, tetapi dapat dikembangkan menjadi solusi yang benar-benar bermanfaat.

Dili menekankan bahwa inovasi harus menjadi salah satu instrumen untuk mendukung keberhasilan pembangunan, baik di lingkungan OPD maupun pemerintahan desa.

Dengan demikian, keberhasilan inovasi tidak hanya dilihat dari penghargaan yang diperoleh, tetapi juga dari penerapan, keberlanjutan dan dampaknya terhadap masyarakat.

Penyelenggaraan Bojonegoro Inovatif Award juga menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kesiapan Kabupaten Bojonegoro dalam mengikuti kompetisi inovasi pemerintahan di tingkat nasional melalui Innovative Government Award (IGA).

Ajang tersebut diharapkan mendorong pemerintah daerah dan para inovator untuk terus meningkatkan kualitas karya, memperluas penerapan inovasi, serta mengembangkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan daerah.

Menurut Dili, inovasi yang telah dihasilkan perlu terus dikembangkan dan direplikasi agar manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

Artinya, sebuah inovasi tidak seharusnya hanya berhasil di satu tempat.

Jika terbukti efektif, penerapannya dapat diperluas ke wilayah atau unit pelayanan lain dengan menyesuaikan kebutuhan masing-masing.

Langkah ini menjadi penting agar inovasi tidak berhenti sebagai pencapaian individual atau kelembagaan, melainkan berkembang menjadi budaya kerja yang mendukung peningkatan kualitas pemerintahan.

Selain mendorong peningkatan kualitas inovasi, Dili menyoroti sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian melalui kegiatan riset dan pengembangan.

Salah satunya adalah konservasi sumber daya air, yang berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan dan kebutuhan masyarakat.

Di sektor pertanian, ia juga mendorong pengembangan riset tanaman yang memiliki nilai jual di pasar dengan masa tanam kurang dari tiga bulan.

Pengembangan tanaman berumur pendek dengan nilai ekonomi yang menjanjikan berpotensi menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan produktivitas lahan dan membuka peluang pendapatan bagi petani.

Meski demikian, pengembangan komoditas tersebut perlu didukung kajian yang tepat, termasuk kesesuaian lahan, kebutuhan pasar, biaya produksi dan potensi keuntungan.

Dengan pendekatan berbasis riset, inovasi diharapkan tidak hanya menghasilkan gagasan baru, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang lebih terukur bagi masyarakat.

“Insyaallah Bojonegoro bisa menjadi simbol ekonomi yang sangat kuat. Inovasi harus terus dikembangkan untuk menjawab kebutuhan dan tantangan daerah,” pungkas Dili.

Bojonegoro Inovatif Award 2026 menjadi momentum untuk memperkuat budaya inovasi di lingkungan pemerintahan maupun masyarakat.

Enam kategori yang diperlombakan membuka ruang bagi berbagai kelompok untuk menyampaikan gagasan dan menunjukkan kontribusinya terhadap pembangunan daerah.

Namun, pesan utama dari penyelenggaraan BIA tahun ini terletak pada pentingnya memastikan setiap inovasi memiliki manfaat nyata, dapat diterapkan dan mampu bertahan dalam jangka panjang.

Peningkatan jumlah peserta dan karya menjadi modal awal, tantangan berikutnya adalah mengubah gagasan menjadi solusi yang terukur, memperluas penerapan inovasi yang terbukti efektif, serta memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Dengan riset yang tepat, kolaborasi lintas sektor dan komitmen untuk terus memperbaiki kualitas pelayanan, inovasi diharapkan menjadi salah satu penggerak pembangunan Kabupaten Bojonegoro menuju masyarakat yang lebih sejahtera, bahagia, makmur dan membanggakan. (Er)