Infotaiment

Banjarnegara atau Bojonegoro, Mana Yang Lebih Sejahtera

aksesadim01
×

Banjarnegara atau Bojonegoro, Mana Yang Lebih Sejahtera

Sebarkan artikel ini
IMG 20260930 WA0013

BOJONEGORO – Banjarnegara dan Bojonegoro sama-sama merupakan kabupaten di Pulau Jawa.

Namanya pun sekilas terdengar mirip, namun, jika melihat sejumlah indikator pembangunan dan ekonomi, keduanya ternyata memiliki karakter yang cukup berbeda.

Perbedaan paling mencolok terlihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita.

Berdasarkan data yang dirangkum dari BPS Jawa Tengah dan BPS Jawa Timur, PDRB per kapita Bojonegoro mencapai sekitar Rp78,89 juta per kapita pada 2025.

Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan Banjarnegara yang berada di kisaran Rp29,37 juta per kapita.

Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah struktur ekonomi kedua daerah.

Bojonegoro dikenal memiliki kontribusi besar dari sektor pertambangan dan penggalian, terutama karena aktivitas minyak dan gas bumi.

Sementara itu, perekonomian Banjarnegara lebih banyak memiliki karakter berbasis sektor pertanian.

Perbedaan juga terlihat dari jumlah penduduk, Banjarnegara memiliki sekitar 1,06 juta jiwa, sedangkan Bojonegoro mencapai sekitar 1,33 juta jiwa.

Dari sisi kepadatan, kondisinya justru berbalik, Banjarnegara tercatat memiliki kepadatan sekitar 941 jiwa per kilometer persegi, sementara Bojonegoro sekitar 577 jiwa per kilometer persegi.

Data kemiskinan juga menarik untuk dibandingkan, secara jumlah, penduduk miskin di Bojonegoro mencapai sekitar 144,9 ribu jiwa, lebih banyak dibandingkan Banjarnegara yang berada di angka 124,66 ribu jiwa.

Namun, ketika dihitung berdasarkan persentase terhadap total penduduk, kondisinya berbeda.

Persentase penduduk miskin Bojonegoro tercatat 11,49 persen, sedangkan Banjarnegara mencapai 13,28 persen.

Artinya, jumlah absolut penduduk miskin perlu dibaca bersama dengan jumlah keseluruhan penduduk.

Kabupaten dengan populasi lebih besar bisa memiliki jumlah penduduk miskin lebih banyak, tetapi persentasinya belum tentu lebih tinggi.

Perbandingan berlanjut pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Bojonegoro mencatat IPM sebesar 73,74, sedangkan Banjarnegara berada di angka 70,61.

Indikator lain juga menunjukkan perbedaan, untuk Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), Bojonegoro tercatat 18,11, sementara Banjarnegara 11,49.

Dari sisi Umur Harapan Hidup (UHH), Bojonegoro mencapai sekitar 75,2 tahun, sedikit di atas Banjarnegara yang berada di angka 74,86 tahun.

Sementara untuk indikator pendidikan, Harapan Lama Sekolah (HLS) Bojonegoro tercatat 13,27 tahun, sedangkan Banjarnegara berada di angka 12,04 tahun.

Pada indikator pertumbuhan ekonomi berdasarkan PDRB ADHK kuartal II 2026, Banjarnegara tercatat tumbuh 4,91 persen.

Sementara itu, Bojonegoro mencatat angka -3,66 persen pada indikator yang sama.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa tingginya PDRB per kapita tidak otomatis berarti seluruh indikator ekonomi dalam suatu periode bergerak dengan arah yang sama.

Struktur ekonomi, komoditas unggulan, serta perubahan aktivitas sektor tertentu turut memengaruhi dinamika pertumbuhan.

Dari berbagai indikator tersebut, Banjarnegara dan Bojonegoro memperlihatkan karakter yang berbeda.

Banjarnegara lebih lekat dengan basis ekonomi pertanian, sedangkan Bojonegoro memiliki kontribusi besar dari sektor pertambangan dan penggalian.

Data tersebut sekaligus menunjukkan bahwa untuk melihat kondisi sebuah daerah secara utuh, tidak cukup hanya menggunakan satu indikator.

PDRB per kapita, pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, IPM, pendidikan, hingga kesehatan perlu dibaca secara bersama-sama. (er)

Sumber: BPS Jawa Tengah dan BPS Jawa Timur.