BOJONEGORO – Kecamatan Purwosari kembali menunjukkan potensi dan kreativitasnya dalam menghadirkan pelayanan publik yang inovatif.
Tak tanggung-tanggung, lima penghargaan berhasil dibawa pulang dalam ajang Bojonegoro Innovative Award (BIA) 2026 yang digelar pada 29 Oktober 2026 di Griya Dharma Kusuma (GDK) Hotel Bojonegoro.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa inovasi dan terobosan pelayanan publik di Kecamatan Purwosari terus berkembang.
Menariknya, inovasi yang mendapat apresiasi tidak hanya berasal dari lingkungan pemerintahan kecamatan, tetapi juga melibatkan pemerintah desa, sekolah, hingga fasilitas pelayanan kesehatan.
Lima penghargaan tersebut diraih melalui sejumlah terobosan yang dinilai mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memberikan solusi terhadap berbagai persoalan di lingkungan masing-masing.
Capaian tertinggi diraih Kecamatan Purwosari melalui inovasi Purwosari Connect yang berhasil memperoleh Terbaik II kategori inovasi tingkat kecamatan.
Inovasi yang digagas Camat Purwosari, Ike Widiyaningrum, ini mengintegrasikan Sistem Informasi Desa (SID) dengan website kecamatan.
Selanjutnya, Desa Donan berhasil meraih Terbaik II kategori inovasi tingkat desa/kelurahan melalui inovasi Ember Komposter.
Terobosan tersebut dikembangkan oleh Febty Nugraha Ningrum selaku Ketua TP PKK Desa Donan.
Prestasi berikutnya datang dari Desa Sedahkidul, desa ini memperoleh penghargaan Harapan I kategori inovasi tingkat desa berkat inovasi alat tebar pupuk bernama TEBARING.
Sementara itu, dari sektor pendidikan dan dunia usaha, Bella Ayu Fitriana dari SMK Purwosari sukses meraih Terbaik II kategori inovasi badan usaha melalui inovasi teknik pengelasan fabrikasi logam dengan kayu jati.
Satu penghargaan lainnya diperoleh Puskesmas Purwosari.
Calvin Sina Al Khajhaz meraih Harapan II kategori inovasi tingkat perangkat daerah melalui inovasi Sistem Geospasial untuk Analitik Prediktif.
Camat Purwosari, Ike Widiyaningrum, mengaku bangga atas capaian lima penghargaan tersebut.
Dia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi melahirkan berbagai inovasi dan terobosan pelayanan.
Menurut Ike, keberhasilan ini bukan hasil kerja satu pihak saja.
Ada kolaborasi antara pemerintah kecamatan, pemerintah desa, sekolah, dan puskesmas yang sama-sama memiliki semangat untuk terus berkembang dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Ia menilai, kreativitas dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan menjadi modal penting bagi setiap elemen dalam menciptakan pelayanan publik yang semakin berkualitas.
“Kami memberikan apresiasi kepada semua pihak, baik lingkup kecamatan, sekolah, desa, maupun puskesmas yang senantiasa mau mengembangkan diri dan melakukan berbagai terobosan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Ini menjadi salah satu bukti bahwa masyarakat semakin berkomitmen untuk terus mengasah kemampuan, memiliki pemikiran visioner, serta adaptif terhadap perubahan,” ungkapnya.
Ike menjelaskan bahwa salah satu inovasi yang terus dikembangkan adalah Purwosari Connect.
Program ini menjadi langkah Kecamatan Purwosari dalam mengoptimalkan pemanfaatan Sistem Informasi Desa (SID) dengan menghubungkannya ke website kecamatan.
Melalui integrasi tersebut, berbagai informasi penting dapat disajikan berdasarkan kebutuhan masyarakat.
Data yang dihimpun mencakup anak tidak sekolah, pedagang, hingga rumah tidak layak huni (RTLH).
Keunggulan sistem ini terletak pada kemampuannya mendukung pembaruan data secara dinamis.
Dengan demikian, perkembangan kondisi di tingkat desa dapat dipantau secara lebih mudah dan informasi yang tersedia diharapkan semakin akurat.
Tidak hanya sebatas penyediaan informasi, data yang terkumpul juga dapat dimanfaatkan sebagai basis data atau baseline bagi perangkat daerah dalam menyusun program intervensi dan menentukan kebijakan.
Dengan dukungan data yang lebih terintegrasi, pemerintah diharapkan mampu mengidentifikasi kebutuhan masyarakat secara lebih tepat sehingga program pembangunan maupun bantuan dapat menyasar kelompok yang benar-benar membutuhkan.
Ike menegaskan bahwa pengembangan inovasi di Kecamatan Purwosari sejalan dengan arahan Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah.
Seluruh jajaran pemerintahan didorong untuk menghadirkan pelayanan yang responsif dan mampu menjawab keresahan maupun persoalan masyarakat.
Karena itu, lima penghargaan dalam BIA 2026 diharapkan tidak menjadi titik akhir dari proses berinovasi.
Sebaliknya, capaian tersebut harus menjadi motivasi untuk terus menyempurnakan program agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
“Harapan kami, inovasi-inovasi ini tidak hanya berhenti pada penghargaan, tetapi benar-benar mampu menjawab permasalahan yang ada dan menjadi sarana pengabdian kepada masyarakat. Ke depan, inovasi tersebut harus terus dikembangkan dan dijaga keberlanjutannya,” himbuhnya.
Ike juga berharap keberhasilan tersebut dapat memicu semangat lebih luas bagi masyarakat Purwosari untuk berani menciptakan perubahan.
Mulai dari pemerintahan desa, lembaga pendidikan, hingga fasilitas kesehatan diharapkan terus melahirkan gagasan kreatif yang memberikan dampak nyata.
Lima penghargaan ini sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi tidak harus selalu dimulai dari program besar.
Terobosan sederhana yang berangkat dari persoalan sehari-hari, apabila dikembangkan secara tepat dan berkelanjutan, dapat menjadi solusi penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. (er)






