JAKARTA – Pergerakan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi sorotan setelah harganya merosot tajam dalam empat hari perdagangan sejak batas minimum harga Rp50 dibuka.
Hingga penutupan perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026, saham GOTO berada di level Rp28.
Harga tersebut turun Rp4 atau sekitar 12,50 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp32.
Jika dibandingkan dengan level Rp50 sebelum perubahan ketentuan perdagangan, harga saham GOTO telah turun sekitar 44 persen.
Penurunan tersebut berlangsung bertahap, pada Senin (28/9), GOTO ditutup di Rp43, kemudian turun menjadi Rp37 pada Selasa (29/9), Rp32 pada Rabu (30/9), dan kembali melemah ke Rp28 pada Kamis (1/10).
Pergerakan tersebut terjadi setelah perubahan mekanisme perdagangan saham yang memungkinkan harga saham tertentu diperdagangkan di bawah level Rp50.
BEI juga menetapkan batas auto rejection bawah (ARB) berbeda berdasarkan rentang harga dan papan pencatatan.
Di tengah tekanan harga saham, laporan keuangan GOTO menunjukkan perkembangan berbeda.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim yang belum diaudit sebagaimana data dalam laporan perseroan, GOTO membukukan laba konsolidasian Rp423,25 miliar pada semester I 2026.
Pada periode yang sama tahun sebelumnya, perseroan masih mencatat rugi Rp741,96 miliar.
Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp607,49 miliar, berbalik dari rugi Rp580,01 miliar pada semester I 2025.
Dari sisi pendapatan, GOTO mencatat pendapatan bersih sekitar Rp10,99 triliun, meningkat sekitar 28,5 persen dibandingkan Rp8,56 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pendapatan tersebut turut mendorong perbaikan laba usaha.
Perseroan membukukan laba usaha Rp781,88 miliar, sementara setahun sebelumnya masih mencatat rugi usaha Rp171,60 miliar.
Arus kas dari aktivitas operasi juga berbalik positif, pada semester I 2026, kas bersih dari aktivitas operasi mencapai sekitar Rp1,72 triliun, dibandingkan posisi negatif Rp612,05 miliar pada semester I 2025.
Manajemen GoTo sebelumnya menyatakan penurunan harga saham setelah perubahan batas harga tidak serta-merta menggambarkan perkembangan fundamental perusahaan.
Head of Corporate Affairs GoTo, Audrey Prottireny, menyebut pergerakan tersebut berkaitan dengan aspek teknis setelah BEI mengubah ketentuan batas bawah harga saham.
Sementara itu, Aditya Prayoga dari Phintraco Sekuritas menilai pasar membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan mekanisme pembentukan harga setelah batas Rp50 dibuka.
Perubahan tersebut memungkinkan saham dengan harga di bawah Rp50 diperdagangkan sehingga proses pembentukan harga berlangsung pada rentang yang lebih luas.
BEI sendiri mencantumkan mekanisme harga minimum Rp1 untuk saham dalam kondisi tertentu pada papan pemantauan khusus.
Di balik perbaikan laba, laporan keuangan GOTO juga memperlihatkan sejumlah pos biaya yang mengalami kenaikan.
Pendapatan pinjaman tumbuh sekitar 64,7 persen menjadi Rp2,70 triliun.
Namun, beban penurunan nilai piutang pembiayaan dan pinjaman juga meningkat sekitar 78,9 persen menjadi Rp691,39 miliar.
Biaya keuangan turut naik menjadi Rp388,30 miliar dari sebelumnya Rp240,53 miliar.
Perseroan juga mencatat keuntungan kurs bersih Rp315,14 miliar.
Pada sisi lain, terdapat penyesuaian nilai wajar instrumen keuangan yang tercatat negatif Rp328,10 miliar.
Dengan demikian, laporan semester I menunjukkan perbaikan sejumlah indikator keuangan, sementara beberapa beban dan risiko pembiayaan juga meningkat.
Hingga penutupan perdagangan 1 Oktober 2026, kondisi tersebut belum tercermin dalam pemulihan harga saham GOTO.
Dari level Rp50 sebelum perubahan batas minimum perdagangan, saham GOTO telah berada di Rp28 pada akhir perdagangan Kamis. (dpw)






