BOJONEGORO – Sampah di Bojonegoro selama ini kerap dipandang sebagai persoalan lingkungan.
Namun, di Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, sampah justru diubah menjadi sesuatu yang bernilai dan bahkan bisa membantu warga membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Gagasan tersebut dijalankan melalui Bank Sampah Berkah Desa Sudu.
Hingga kini, bank sampah tersebut telah memiliki sebanyak 194 anggota dan terus mendorong masyarakat untuk memilah sampah dari rumah.
Ketua Bank Sampah Berkah Desa Sudu, Khoirul, mengatakan setiap sampah yang disetorkan warga terlebih dahulu ditimbang.
Hasil penimbangan kemudian dicatat dalam buku tabungan masing-masing anggota.
Menariknya, nilai dari sampah yang dikumpulkan tidak hanya menjadi catatan tabungan.
Hasilnya dapat dimanfaatkan untuk membantu membayar PBB.
“Hasilnya bisa digunakan untuk bayar PBB,” jelas Khoirul.
Dari 194 anggota yang terdaftar, sebanyak 125 orang telah melakukan penyetoran sampah perdana.
Sementara itu, jumlah sampah yang sudah berhasil dikumpulkan Bank Sampah Berkah mencapai lebih dari 600 kilogram.
Pengelolaan sampah di Desa Sudu juga tidak berhenti pada kegiatan mengumpulkan dan memilah.
Warga didorong untuk mengolah berbagai jenis limbah menjadi barang yang bisa digunakan kembali sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Salah satunya adalah bungkus minuman bekas yang diolah menjadi tas.
Kemudian plastik kresek dimanfaatkan sebagai bahan rajut untuk menghasilkan berbagai kerajinan, seperti gantungan kunci, dompet hingga tas.
Sedangkan limbah kain perca tidak langsung dibuang, bahan tersebut dimanfaatkan kembali menjadi sarung bantal.
Inovasi juga merambah limbah hasil pertanian, klobot atau kulit jagung yang biasanya menjadi limbah dimanfaatkan menjadi bahan untuk membuat bunga hiasan rumah.
“Inovasi juga dilakukan dari limbah pertanian. Klobot jagung kami manfaatkan menjadi bunga hiasan rumah,” imbuh Khoirul.
Pengelolaan tersebut mendapat apresiasi dari Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, saat berkunjung ke Bank Sampah Berkah Desa Sudu.
Cantika menilai keberadaan bank sampah memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Selain membantu menjaga kebersihan lingkungan, hasil pengelolaan sampah juga dapat memberikan nilai ekonomi bagi warga.
Menurutnya, pemanfaatan hasil penjualan sampah untuk membayar PBB menjadi salah satu contoh bahwa pengelolaan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Hasil penjualan sampah ini untuk PBB, sangat membantu masyarakat Desa Sudu, Kecamatan Gayam,” ujar Cantika.
Dalam kunjungan tersebut, Cantika melihat langsung proses penimbangan sampah yang disetorkan warga.
Ia juga menyaksikan kreativitas masyarakat dalam mengolah limbah pertanian berbahan klobot jagung menjadi bunga hiasan untuk rumah.
Kegiatan Bank Sampah Berkah menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dari tingkat desa dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai bisa dipilah, diolah, kemudian menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Dengan keterlibatan warga, aktivitas bank sampah tidak hanya membantu mengurangi sampah yang berakhir sebagai limbah, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan barang bekas menjadi produk bernilai guna sekaligus membantu kebutuhan masyarakat, termasuk pembayaran PBB. (er)






