TRENGGALEK – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, memicu bencana tanah longsor di Kecamatan Munjungan.
Dampaknya cukup luas, dengan 19 titik longsor dilaporkan terjadi di lima desa dan menyebabkan puluhan rumah warga mengalami kerusakan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek mencatat sedikitnya 34 kepala keluarga (KK) atau 103 jiwa terdampak akibat bencana tersebut.
Tingkat kerusakan rumah bervariasi, mulai dari kategori ringan hingga sedang.
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Triadi Atmono, menyampaikan bahwa proses pendataan dan penanganan masih terus dilakukan untuk memastikan kondisi masyarakat serta mengidentifikasi dampak kerusakan di setiap lokasi.
Menurutnya, Desa Craken menjadi wilayah dengan jumlah kejadian longsor terbanyak dibandingkan empat desa lainnya.
Di desa tersebut, BPBD mencatat delapan titik longsor yang mengakibatkan 20 rumah warga mengalami kerusakan ringan.
Sementara itu, Desa Masaran mencatat empat titik longsor dengan dampak lima rumah rusak ringan.
Adapun di Desa Munjungan, satu titik longsor dilaporkan berdampak terhadap dua rumah warga.
Kerusakan dengan kategori sedang juga ditemukan di dua desa lainnya, yakni Desa Sobo dan Desa Ngulungkulon.
Di Desa Sobo, terdapat dua titik longsor yang menyebabkan dua rumah warga mengalami kerusakan sedang.
Sedangkan di Desa Ngulungkulon, empat titik longsor berdampak terhadap empat rumah dengan tingkat kerusakan serupa.
“Di Desa Sobo ada dua titik longsor dan berdampak ke dua rumah, di Desa Ngulungkulon empat rumah terdampak tanah longsor, kerusakan sedang,” papar Triadi.
Bencana tanah longsor dan banjir di Kecamatan Munjungan dipicu hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut sejak Kamis (29/10/2026) hingga Jumat (30/10/2026) pagi.
Curah hujan yang tinggi menyebabkan sejumlah wilayah mengalami longsor.
Kondisi geografis berupa kawasan perbukitan dan akses menuju lokasi terdampak turut menjadi tantangan bagi petugas dalam melakukan pendataan.
Triadi menjelaskan, tim BPBD menghadapi sejumlah kendala ketika menjangkau lokasi bencana, khususnya di Desa Sobo dan Desa Ngulungkulon.
Jarak antarlokasi yang cukup jauh, medan jalan terjal, serta kondisi cuaca yang tidak mendukung membuat proses pendataan tidak bisa diselesaikan pada malam hari.
“Kendala yang dialami tim di lapangan, lokasi Desa Sobo dan Desa Ngulungkulon jarak cukup jauh dan terjal, serta cuaca yang kurang mendukung, ditambah hari sudah malam, sehingga pendataan dilakukan besok harinya,” jelasnya.
Di tengah penanganan bencana, BPBD Trenggalek terus melakukan pemantauan terhadap sejumlah wilayah terdampak.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi longsor susulan, terutama jika hujan deras kembali mengguyur Kecamatan Munjungan.
Masyarakat yang tinggal di sekitar lereng perbukitan maupun kawasan rawan longsor diminta meningkatkan kewaspadaan.
Warga juga diimbau memperhatikan kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggal, terutama apabila muncul retakan tanah, perubahan kondisi lereng, atau tanda-tanda pergerakan tanah lainnya.
Apabila menemukan indikasi yang berpotensi membahayakan, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada petugas agar dapat dilakukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Dengan tercatatnya 19 titik longsor di lima desa, penanganan dan pendataan menjadi langkah penting untuk memastikan keselamatan warga serta mengetahui kebutuhan penanganan di masing-masing lokasi.
BPBD Trenggalek pun terus berupaya memantau perkembangan situasi guna meminimalkan risiko dampak bencana apabila cuaca ekstrem kembali terjadi. (suf)






