PEMALANG – Kasus meninggalnya siswa kelas 2 SD Negeri 01 Kebondalem, Pemalang, berinisial MHAQ (7), menjadi perhatian publik.
Korban diduga mengalami perundungan atau bullying yang melibatkan kakak kelasnya.
MHAQ meninggal dunia pada Rabu, 30 September 2026, sebelum meninggal, korban sempat mengeluhkan sakit pada bagian perut hingga akhirnya dibawa orang tuanya ke RSUD Ashari Pemalang sekitar pukul 16.00 WIB.
Namun, sekitar satu jam kemudian, korban dinyatakan meninggal dunia.
Polisi masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kematian serta mendalami dugaan peristiwa kekerasan yang dialami korban.
Kasat Reskrim Polres Pemalang AKP M. Faizal Wildan Umar Rela mengatakan, penyidik telah meminta keterangan dari pihak keluarga dan melakukan autopsi terhadap jenazah korban.
“Setelah autopsi, anak korban akan diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan,” ungkapnya kepada awak media, Kamis, 1 Oktober 2026.
Menurutnya, autopsi dilakukan untuk membantu mengetahui penyebab kematian korban.
Polisi juga masih meminta keterangan sejumlah saksi dan berkoordinasi dengan instansi terkait.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Pemalang, Nurkholes, membenarkan adanya perselisihan antara korban dengan pihak yang diduga sebagai pelaku.
Nurkholes mengatakan informasi tersebut diperoleh setelah dirinya mendatangi sekolah dan meminta penjelasan mengenai kronologi kejadian.
“Tadi ke sekolahan dan mendapat laporan kronologi kejadian, memang ada perselisihan antara korban dan pelaku, kemudian terjadilah pemukulan,” ujar Nurkholes dalam keterangan resminya, Jumat, 2 Oktober 2026.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari informasi yang kini tengah didalami oleh aparat kepolisian.
Dugaan kekerasan juga disampaikan oleh ibu korban, Diah Indriyanti.
Ia mengatakan anaknya sempat bercerita mengalami pukulan dan tendangan.
“Dia (MHAQ) menjawab itu setelah diperiksa sama dokter, katanya dipukul di perut, ada yang nendang pakai sepatu,” terang Diah.
Menurut Diah, selama beberapa hari sebelum meninggal, anaknya lebih sering mengeluhkan kondisi tubuh yang tidak nyaman.
Dia juga menyebut korban mengalami sejumlah gangguan kesehatan dan membutuhkan perhatian dari keluarga.
“Selama sembilan hari yang sering dikeluhkan itu perut, sama seluruh badan kalau diangkat itu nangis,” jelasnya.
Diah juga menyebut anaknya sempat mengalami muntah, buang air besar berdarah, kehilangan nafsu makan, serta mengalami kesulitan buang air besar.
Meski demikian, penyebab pasti meninggalnya korban masih menjadi bagian dari proses penyelidikan dan pemeriksaan medis yang dilakukan aparat.
Polisi menegaskan kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan.
Apabila nantinya ditemukan unsur pidana berdasarkan hasil pemeriksaan dan alat bukti, perkara akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. (dtw)






