Daerah

Sedekah Bumi Sawahan Kedungadem Bojonegoro Meriah, Warga Empat RT Tumpah Ruah Ikut Kirab

aksesadim01
×

Sedekah Bumi Sawahan Kedungadem Bojonegoro Meriah, Warga Empat RT Tumpah Ruah Ikut Kirab

Sebarkan artikel ini
IMG 20261001 WA0005

BOJONEGORO — Tradisi leluhur kembali menggeliat di Dusun Sawahan, Desa Kedungadem, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro.

Warga setempat menggelar Kirab Budaya dalam rangka Sedekah Bumi atau Bersih Desa, Rabu (30/9/2026).

Kegiatan tahunan tersebut berlangsung meriah, warga dari empat RT ikut ambil bagian, menampilkan beragam kreativitas sekaligus menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Kirab diawali dengan kesenian tradisional Reog Ponorogo Gembong Singo Joyo dari Desa Panjang, Kecamatan Kedungadem.

Penampilan kesenian tersebut menjadi salah satu daya tarik utama sepanjang rangkaian kirab.

Tak hanya Reog, warga juga membawa beragam kreasi budaya Nusantara dan hasil kreativitas Karang Taruna.

Gunungan hasil bumi turut diarak sebagai simbol rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang diperoleh.

Antusiasme warga terlihat di sepanjang rute kirab, masyarakat tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi juga terlibat sejak persiapan hingga pelaksanaan kegiatan.

Kepala Dusun Sawahan Zaenal Muttaqin mengapresiasi kekompakan warga dalam menyukseskan tradisi tahunan tersebut.

“Atas nama Pemerintah Desa Kedungadem, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh panitia dan masyarakat Dusun Sawahan yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini. Kegiatan yang dilaksanakan setahun sekali ini merupakan hasil swadaya masyarakat, gotong royong, kekompakan, dan keguyuban warga,” ungkap Zaenal.

Zaenal menegaskan, Sedekah Bumi tidak sebatas agenda tahunan atau hiburan masyarakat.

Tradisi tersebut menjadi sarana untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus menjaga warisan budaya dari generasi sebelumnya.

“Tujuan Sedekah Bumi adalah nguri-uri budaya yang sudah berlangsung dari leluhur kami. Bersih Desa atau Sedekah Bumi merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas panen yang berlimpah. Tradisi ini sudah menjadi warisan dari leluhur kami,” jelasnya.

Menurut Zaenal, keterlibatan masyarakat menjadi modal penting agar tradisi tersebut tetap bertahan di tengah perkembangan zaman.

Ia berharap generasi muda ikut mengambil peran sehingga Sedekah Bumi tidak berhenti sebagai tradisi masa lalu, tetapi terus berkembang tanpa kehilangan nilai kebersamaan dan gotong royong.

“Harapan kami, semoga kegiatan yang sama pada tahun depan bisa kita adakan dengan lebih meriah lagi,” harapnya.

Salah seorang warga Dusun Sawahan RT 02, Mono, juga mengaku senang dapat terlibat dalam kegiatan tersebut.

“Alhamdulillah, saya bersyukur dan senang bisa ikut berpartisipasi dalam acara Sedekah Bumi setahun sekali ini,” ujarnya.

Kemariahan Sedekah Bumi Dusun Sawahan tidak berhenti pada pelaksanaan kirab.

Pada malam hari, rangkaian acara dilanjutkan dengan hiburan Campursari.

Atraksi Reog Ponorogo Gembong Singo Joyo dari Desa Panjang yang dipimpin Sugeng juga kembali menjadi bagian dari hiburan masyarakat.

Bagi warga Dusun Sawahan, Sedekah Bumi menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi sekaligus menjaga semangat guyub dan gotong royong.

Tradisi tersebut juga menjadi sarana mengenalkan kembali kekayaan budaya lokal kepada generasi muda.

Di tengah perubahan zaman, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan budaya menjadi bagian dari upaya mempertahankan identitas dan warisan leluhur.

Melalui kirab budaya, gunungan hasil bumi, kesenian tradisional, serta keterlibatan lintas generasi, Sedekah Bumi Dusun Sawahan tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga menjadi momentum untuk meneruskan nilai syukur, kebersamaan dan kepedulian terhadap budaya lokal. (er)