Daerah

Tilik Dulur ke Cengkir Kepohbaru, Bupati Bojonegoro Ungkap Fokus Pertanian

aksesadim01
6495
×

Tilik Dulur ke Cengkir Kepohbaru, Bupati Bojonegoro Ungkap Fokus Pertanian

Sebarkan artikel ini
IMG 20260813 WA0002

BOJONEGORO — Semangat “Tilik Dulur, Nyambung Roso, Monggo Nandur” mewarnai Dialog Interaktif Medhayoh Edisi IX di Desa Cengkir, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, Rabu (12/8/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang bagi Pemkab Bojonegoro untuk turun langsung mendengar suara masyarakat sekaligus melihat potensi yang dimiliki desa.

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono bersama Wakil Bupati Nurul Azizah tidak hanya berdialog, tetapi juga meninjau sejumlah titik potensial yang berkaitan dengan pertanian dan pengembangan wisata lokal.

Mengusung tema “Pembangunan Infrastruktur Pertanian Guna Meningkatkan Potensi Wisata Lokal”, rangkaian Medhayoh diawali dengan kunjungan ke Pondok Pesantren Darul Istiqomah Woro, dilanjutkan panen tembakau bersama petani, peninjauan Embung Cengkir, hingga melihat langsung greenhouse melon.

Dari sejumlah lokasi tersebut, sektor pertanian menjadi perhatian utama.

Sebab, sebagian besar masyarakat Kecamatan Kepohbaru menggantungkan perekonomian dari sektor pertanian, dengan komoditas unggulan seperti tembakau, padi dan hortikultura.

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menilai pengembangan sektor tersebut tidak bisa dilepaskan dari ketersediaan infrastruktur pengairan.

Menurutnya, air menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga produktivitas pertanian, terutama ketika memasuki musim kemarau.

“Mayoritas warga Kepohbaru bertani, dan komoditas utamanya adalah tembakau. Karena itu, ketersediaan air menjadi hal yang sangat krusial,” ujar Setyo Wahono.

Ia juga meminta pemerintah desa aktif mengusulkan pembangunan embung apabila memang dibutuhkan untuk mendukung pertanian masyarakat.

“Pemerintah desa tidak perlu ragu mengusulkan pembangunan embung sesuai kebutuhan wilayah. Nantinya akan kita verifikasi dan kaji kelayakannya,” tegasnya.

Dalam dialog tersebut, kondisi Embung Cengkir turut menjadi perhatian warga.

Embung yang selama ini memiliki fungsi penting bagi pertanian mulai mengalami pendangkalan sehingga kapasitas tampung air dinilai perlu dikembalikan.

Pemkab Bojonegoro berupaya mendorong normalisasi Embung Cengkir pada tahun ini melalui koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

Selain normalisasi, solusi teknis juga akan dikaji oleh perangkat daerah terkait.

Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga kondisi tanggul sekaligus mengurangi potensi kehilangan air akibat penguapan saat musim kemarau.

Bagi Pemkab Bojonegoro, penguatan infrastruktur air bukan sekadar pembangunan fisik.

Keberadaannya diharapkan mampu menjaga kesinambungan produksi pertanian sekaligus membuka peluang pengembangan potensi wisata berbasis desa.

Dialog Medhayoh juga berkembang menjadi forum penyampaian berbagai persoalan masyarakat.

Warga, pemerintah desa, kelompok tani, serta tokoh masyarakat menyampaikan sejumlah aspirasi yang tidak hanya berkaitan dengan pertanian.

Beberapa di antaranya menyangkut penguatan UMKM, bantuan peternakan, Program GAYATRI (Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri), hingga sektor pendidikan.

Bupati Setyo Wahono menegaskan bahwa setiap program pemerintah harus mendapat pengawasan agar manfaatnya benar-benar diterima masyarakat yang berhak.

Dia meminta program bantuan, mulai dari sektor peternakan hingga GAYATRI, dikawal sejak proses pelaksanaan hingga pemanfaatannya.

Hal serupa berlaku pada sektor pendidikan, Pemkab Bojonegoro terus menjalankan program satu desa 10 sarjana, sementara usulan penambahan kuota akan dipertimbangkan dengan memperhatikan kemampuan anggaran daerah.

“Semua program harus dikawal, mulai dari bantuan ternak hingga Program Gayatri. Begitu pula sektor pendidikan, program satu desa 10 sarjana terus kita jalankan dan usulan penambahan kuota akan dikaji sesuai kemampuan anggaran daerah,” katanya.

Bupati menegaskan, Medhayoh bukan hanya kegiatan kunjungan kerja.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana pemerintah daerah untuk mendekatkan diri kepada masyarakat dan mencari solusi atas persoalan yang dihadapi warga.

Melalui dialog secara langsung, pemerintah dapat memperoleh gambaran mengenai kebutuhan masyarakat sekaligus menyesuaikan kebijakan dengan kondisi di lapangan.

“Saya ingin mendengar langsung masukan, saran, maupun keluhan dari panjenengan. Ini menjadi bahan bagi kami untuk menghadirkan solusi konkret yang sesuai dengan regulasi,” pungkas Setyo Wahono.

Kegiatan di Desa Cengkir tersebut sekaligus mempertegas semangat “Tilik Dulur, Nyambung Roso, Monggo Nandur”, yakni membangun Bojonegoro dengan memperkuat hubungan pemerintah dan masyarakat, menggali potensi desa, serta mendorong sektor pertanian agar semakin produktif dan berkelanjutan. (Pro/er)