Daerah

Dari Agroforestry Sukoharjo, Bojonegoro Perkuat Ketahanan Pangan

aksesadim01
×

Dari Agroforestry Sukoharjo, Bojonegoro Perkuat Ketahanan Pangan

Sebarkan artikel ini
IMG 20261007 WA0029

BOJONEGORO – Peringatan Hari Tani Nasional di Kabupaten Bojonegoro menjadi momentum untuk memperkuat kemandirian petani sekaligus mendorong sektor pertanian semakin efisien dan ramah lingkungan.

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menghadiri peringatan Hari Tani Nasional yang digelar Pemerintah Desa Sukoharjo bersama ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) di kawasan Agroforestry Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu, Rabu (6/10/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bojonegoro Zainal Fanani, jajaran Forkopimcam Kalitidu dan Gayam, serta ratusan petani dari delapan desa yang berada di sekitar wilayah operasi hulu migas.

Kepala Desa Sukoharjo Sulistyawan mengatakan, kawasan agroforestry di bantaran Sungai Bengawan Solo tersebut dikembangkan sebagai ruang konservasi lingkungan sekaligus upaya menyerap emisi karbon.

Selain aspek lingkungan, kawasan itu juga diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat desa.

Sementara itu, perwakilan EMCL Rizki Ramadan memaparkan hasil program Sekolah Lapang Pertanian yang dilaksanakan bersama Yayasan Field Indonesia sejak 2020.

Program tersebut telah menjangkau lebih dari 600 petani di delapan desa di wilayah Kecamatan Kalitidu dan Gayam.

Berdasarkan hasil yang dipaparkan, pendampingan tersebut mampu meningkatkan produktivitas panen hingga 23 persen dengan rata-rata hasil mencapai 8,1 ton per hektare.

Tak hanya meningkatkan hasil panen, program tersebut juga disebut mampu menekan biaya operasional hingga 30 persen serta mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen.

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono mengapresiasi program yang dijalankan EMCL bersama masyarakat tersebut.

Menurutnya, pertanian harus menjadi salah satu fokus utama pembangunan daerah karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.

Dia menekankan pentingnya membangun kemandirian petani melalui efisiensi biaya produksi serta pemanfaatan limbah untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

“Khusus untuk pertanian, saya di mana pun selalu berusaha untuk hadir. Tujuannya cuma satu, hanya ingin memberikan spirit, semangat, dan memastikan bahwa kita itu pengin bermimpi sebagai kabupaten yang lumbung pangan,” tegas Setyo Wahono.

Bupati juga meminta EMCL bersama tim pendamping tidak berhenti pada keberhasilan demplot atau lahan percontohan.

Hasil yang telah dicapai perlu diperinci sehingga metode dan pengetahuan yang digunakan dapat dipelajari, ditiru, dan diterapkan oleh petani lainnya.

Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya menjadi capaian di lokasi percontohan, tetapi bisa berkembang menjadi praktik pertanian yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat Bojonegoro.

Di sisi lain, Pemerintah Desa Sukoharjo menyiapkan rencana pengembangan kawasan agroforestry menjadi destinasi wisata edukasi dan outbound berbasis lingkungan.

Pengembangan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat fungsi konservasi dan edukasi pertanian, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Peringatan Hari Tani Nasional kali ini mengusung slogan “Petani Berjaya, Alam Sehat, Pangan Selamat.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa penguatan sektor pertanian perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan petani. (Pro/er)