BOJONEGORO – Kanker prostat menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian, terutama pada pria yang memasuki usia lanjut.
Penyakit ini kerap berkembang tanpa menimbulkan gejala khas pada tahap awal sehingga pemeriksaan dini menjadi langkah penting untuk meningkatkan kewaspadaan.
Hal tersebut disampaikan Dokter Spesialis Urologi, dr. Roy Antariksa Kristianto, Sp.U, dalam program SAPA Bojonegoro di Radio Malowopati FM 95,8 MHz, Jumat (25/9/2026).
Dialog kesehatan tersebut digelar Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Kabupaten Bojonegoro bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro dengan mengangkat tema “Silent Killer Kanker Prostat.”
Dr. Roy menjelaskan, prostat merupakan organ reproduksi yang hanya dimiliki laki-laki.
Letaknya berada di bawah kandung kemih dan mengelilingi saluran kencing.
Seiring bertambahnya usia, prostat dapat mengalami pembesaran.
Kondisi tersebut bisa bersifat jinak atau berkembang menjadi kanker.
Menurutnya, kanker prostat perlu diwaspadai karena pada fase awal sering tidak memberikan tanda yang jelas.
Seseorang bahkan dapat tetap merasa sehat dan menjalani aktivitas sehari-hari meski proses penyakit telah berlangsung.
Gejala biasanya mulai terasa ketika penyakit sudah berkembang lebih lanjut.
Beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain gangguan buang air kecil hingga nyeri pada tulang apabila kanker telah menyebar.
Risiko kanker prostat cenderung meningkat seiring pertambahan usia, terutama pada pria berusia di atas 50 tahun.
Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan apabila terdapat anggota keluarga, khususnya ayah atau saudara laki-laki, yang pernah mengalami kanker prostat.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala penting dipertimbangkan meskipun belum merasakan keluhan.
Deteksi dini dapat dilakukan melalui pemeriksaan fisik oleh dokter serta pemeriksaan darah Prostate Specific Antigen (PSA).
Namun, dr. Roy menegaskan bahwa kadar PSA yang meningkat tidak otomatis berarti seseorang terkena kanker prostat.
Kondisi lain, seperti infeksi prostat maupun infeksi saluran kemih, juga dapat menyebabkan peningkatan kadar PSA.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kecurigaan, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lanjutan, antara lain MRI prostat dan biopsi untuk memastikan diagnosis.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa gangguan buang air kecil pada pria lanjut usia tidak selalu berkaitan dengan kanker prostat.
Keluhan seperti sering terbangun pada malam hari untuk buang air kecil dapat disebabkan oleh Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak.
Karena gejala beberapa gangguan prostat dapat terlihat serupa, pemeriksaan medis tetap diperlukan agar penyebabnya dapat diketahui secara tepat.
Melalui program SAPA Bojonegoro, Dinkominfo bersama Dinas Kesehatan berupaya memperluas edukasi kesehatan kepada masyarakat melalui media publik.
Program yang disiarkan Radio Malowopati tersebut menjadi ruang dialog antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk membahas berbagai persoalan kesehatan secara lebih mudah dipahami.
Dr. Roy pun mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu sampai muncul keluhan untuk mulai memperhatikan kesehatan prostat.
“Jangan menunggu prostat berbicara melalui gejala. Dengarkan lebih awal melalui pemeriksaan yang tepat. Kanker prostat bukan sesuatu yang harus ditakuti secara berlebihan, tetapi juga bukan sesuatu yang boleh kita abaikan,” pesannya. (er)






