Infotaiment

Tembakau Bojonegoro Kembali Jadi Andalan, Ini Data Terbarunya

aksesadim01
2
×

Tembakau Bojonegoro Kembali Jadi Andalan, Ini Data Terbarunya

Sebarkan artikel ini
IMG 20260903 WA0053

BOJONEGORO — Kabar positif datang dari sektor perkebunan Kabupaten Bojonegoro.

Budidaya tembakau pada musim tanam 2026 menunjukkan peningkatan cukup signifikan.

Hingga Agustus 2026, luas tanam komoditas tersebut telah mencapai 15.672,68 hektare.

Capaian itu meningkat dibandingkan realisasi tahun 2025 yang tercatat sekitar 12.041 hektare.

Selain luas tanam yang bertambah, petani juga mendapat angin segar dari harga jual tembakau yang masih berada pada level cukup tinggi.

Pengawas Mutu Hasil Pertanian Ahli Muda sekaligus Subkoordinator Tanaman Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, Bambang Wahyudi, menyebut kondisi iklim menjadi salah satu faktor yang turut mendorong peningkatan luas tanam tahun ini.

“Untuk tahun 2026 sampai hari ini luas tanam tembakau mencapai 15.672,68 hektare. Ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 12.041 hektare,” kata Bambang.

Ia menjelaskan, kondisi iklim memiliki pengaruh besar terhadap keputusan petani dalam menentukan komoditas yang akan dibudidayakan.

Perubahan cuaca dan kondisi musim dapat membuat luas tanam tembakau mengalami peningkatan maupun penurunan dari tahun ke tahun.

Tak hanya dari sisi luas lahan, perkembangan harga juga menjadi perhatian.

Saat ini, tembakau rajangan di tingkat petani berada di kisaran Rp40.000 hingga Rp45.000 per kilogram, tergantung kualitas.

Bahkan, di tingkat petani tertentu, harga rajangan kering dilaporkan mencapai Rp45.000-Rp48.000 per kilogram.

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Sukro, petani tembakau asal Desa Sitiaji, Kecamatan Sukosewu.

Dia menyebut harga tembakau saat ini cukup menggembirakan bagi petani.

Untuk tembakau daun basah, harga yang diterimanya berkisar Rp2.000-Rp4.000 per kilogram.

Sementara tembakau rajangan kering berada di kisaran Rp45.000-Rp48.000 per kilogram.

“Alhamdulillah, kami merasa senang dengan harga tembakau saat ini yang mencapai Rp45.000. Semoga ke depan pupuk semakin mudah didapat dengan harga yang lebih terjangkau,” ujar Sukro.

Menurutnya, harga yang relatif baik dapat menjadi tambahan semangat bagi petani untuk mempertahankan sekaligus mengembangkan usaha budidaya tembakau.

Namun, petani masih berharap kondisi tersebut tidak hanya berlangsung sementara.

Sukro berharap harga tetap stabil ketika memasuki masa panen raya, saat pasokan tembakau dari petani biasanya meningkat.

“Kami juga berharap saat panen raya nanti harga tembakau tetap bagus, sehingga petani bisa mendapatkan hasil yang sepadan dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan,” harapnya.

Peningkatan luas tanam dan harga jual yang cukup menjanjikan menjadi sinyal positif bagi komoditas tembakau di Bojonegoro.

Momentum ini sekaligus memberikan harapan bagi petani untuk memperoleh hasil yang lebih baik pada musim tanam 2026.

Meski demikian, keberlanjutan budidaya tembakau tidak hanya bergantung pada harga jual.

Ketersediaan pupuk dan sarana produksi dengan harga terjangkau, kondisi iklim, produktivitas tanaman, serta kepastian harga ketika panen raya tetap menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.

Dengan dukungan berbagai pihak dan kondisi pasar yang tetap kondusif, sektor tembakau diharapkan mampu terus memberikan kontribusi terhadap perekonomian petani serta menjaga geliat pertanian perkebunan di Kabupaten Bojonegoro. (er)