BOJONEGORO – Fajar belum benar-benar menyingsing saat Siti Muniroh sudah memulai aktivitasnya.
Di usia 55 tahun, guru SDN Karangdayu, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro ini tetap konsisten menjalankan tugas mulianya dengan cara yang tak biasa, yakni bersepeda puluhan kilometer setiap hari.
Perempuan yang akrab disapa Bu Muniroh ini tinggal di Dusun Tanggungan, Desa Plumpang, Kabupaten Tuban.
Jarak dari rumah ke sekolah yang mencapai sekitar 25 kilometer tak menjadi alasan untuk mengendurkan semangatnya.
Dengan sepeda ontel sederhana, ia mengayuh penuh tekad demi sampai ke ruang kelas.
Perjalanan tersebut bukan hanya jauh, tetapi juga penuh tantangan.
Setiap hari, ia harus melintasi perbatasan Tuban–Bojonegoro dan menyeberangi Bengawan Solo menggunakan perahu tambangan.
Momen ini menjadi bagian paling menegangkan dalam rutinitasnya.
Risiko semakin besar saat musim hujan tiba. Jalan licin, hujan deras, hingga arus sungai yang kuat menjadi rintangan yang harus ia hadapi.
Bahkan, pengalaman pahit sempat dia alami ketika terjatuh ke sungai.
“Pernah jatuh ke Bengawan. Sepeda masih di atas perahu. Waktu itu benar-benar takut, seperti di ambang maut,” ungkapnya mengenang kejadian tersebut, Senin (4/5/2026).
Meski pernah mengalami kejadian berbahaya, Muniroh tidak pernah mundur.
Baginya, perjalanan itu adalah bagian dari pengabdian. Bengawan Solo bukan penghalang, melainkan jalur yang harus dilalui demi menemui murid-muridnya.
Menariknya, keputusan bersepeda bukan semata karena keterbatasan.
Dirinya melakukannya sebagai bentuk kesadaran untuk mendukung efisiensi energi.
Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), ia ingin memberi teladan nyata melalui tindakan sederhana.
“Bersepeda itu menyehatkan sekaligus bentuk kontribusi kecil saya dalam penghematan energi. Menyeberang Bengawan sudah jadi bagian dari perjuangan tiap hari,” ujarnya.
Dedikasi Muniroh mencerminkan semangat seorang pendidik sejati.
Di usia yang tidak lagi muda, dirinya tetap disiplin, tangguh, dan penuh tanggung jawab.
Tak ada keluhan, hanya komitmen untuk terus hadir mendidik generasi penerus bangsa.
Di bulan kelahirannya, ria tidak mengharapkan hadiah besar. Baginya, perjalanan yang lancar setiap hari sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.
Kisah Bu Muniroh menjadi bukti bahwa pengabdian sejati tidak selalu hadir dalam hal besar.
Dari kayuhan sepeda yang sederhana, lahir inspirasi tentang keteguhan, keberanian, dan kecintaan pada profesi. Sebuah cerita yang layak menjadi teladan bagi banyak orang. (Er)






