Daerah

Jambore Posyandu di Kediri, Kader Didorong Pantau Balita dan Keluarga Stunting

aksesadim01
×

Jambore Posyandu di Kediri, Kader Didorong Pantau Balita dan Keluarga Stunting

Sebarkan artikel ini
IMG 20260929 WA0020

KEDIRI – Sebanyak 150 kader Posyandu dari enam desa di wilayah kerja Puskesmas Pranggang, Kabupaten Kediri, mengikuti Jambore Kader Posyandu di kawasan Sumber Ubalan, Kecamatan Plosoklaten, Selasa (29/9/2026).

Kegiatan yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri ini menjadi momentum untuk meningkatkan kapasitas kader dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, terutama dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting.

Enam desa yang mengirimkan kader dalam kegiatan tersebut meliputi Sepawon, Ploso Lor, Punjul, Pranggang, Wonorejo Trisulo, dan Sumber Agung.

Jambore ini difokuskan pada penguatan 25 keterampilan dasar kader Posyandu.

Salah satu kemampuan yang menjadi perhatian adalah pelaksanaan kunjungan rumah bagi balita yang dua kali berturut-turut tidak hadir di Posyandu serta keluarga yang memiliki anak dengan kondisi stunting.

Kepala Dinkes Kabupaten Kediri dr. Ahmad Khotib melalui Katimker Promkes Eny Soehartini mengatakan, penguasaan keterampilan dasar menjadi bekal penting bagi kader untuk menjalankan tugas pelayanan kesehatan di lingkungan masyarakat.

Menurut Eny, meskipun jumlah kasus stunting di wilayah kerja Puskesmas Pranggang relatif sedikit, pemantauan terhadap anak dan keluarganya tetap harus dilakukan secara berkelanjutan.

“Kasus stunting di wilayah Puskesmas Pranggang masih ada, meski hanya satu, dua atau tiga kasus. Oleh karena itu, kunjungan rumah diperlukan untuk memastikan bagaimana pola asuh keluarga agar kondisi anak tidak semakin buruk,” ujar Eny.

Ia menjelaskan, kunjungan rumah juga menjadi langkah untuk memastikan kelompok sasaran prioritas tetap mendapatkan pelayanan kesehatan.

Melalui pemantauan secara langsung, kader diharapkan lebih aktif mengetahui kondisi balita dan keluarga yang membutuhkan perhatian maupun pendampingan khusus.

Dalam jambore tersebut, materi keterampilan dibagi menjadi lima kelompok sasaran, yakni pelayanan Posyandu, bayi dan balita, ibu hamil, remaja, serta lanjut usia (lansia).

Pembekalan disampaikan oleh narasumber dari tingkat kecamatan, Puskesmas Pranggang, hingga kader senior yang telah berpengalaman dalam memberikan pelayanan Posyandu.

Eny berharap kegiatan ini mampu meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi kader agar semakin aktif menjalankan perannya sebagai penggerak kesehatan masyarakat.

“Harapannya kader semakin percaya diri, semakin semangat, semakin termotivasi menjadi kader yang lebih baik, dan akan terus berkarya, mengabdi, serta menjadi penggerak kesehatan masyarakat,” katanya.

Di balik upaya peningkatan kapasitas kader, masih terdapat sejumlah persoalan yang membutuhkan perhatian, terutama terkait dukungan operasional dan transportasi bagi warga yang memerlukan pelayanan kesehatan lanjutan.

Kristin Mujawati (61), kader Posyandu Salak, Desa Ploso Lor, Kecamatan Plosoklaten, mengatakan kader memiliki peran penting karena menjadi salah satu pihak yang paling dekat dengan masyarakat.

Namun, menurutnya, masih ada warga yang kesulitan mendapatkan pendampingan transportasi ketika harus menjalani pemeriksaan atau pengobatan lanjutan di puskesmas.

“Kader itu tonggak paling depan di masyarakat. Kadang ada warga yang dapat rujukan, tapi tidak ada yang mengantar. Kami butuh dukungan semacam mobil yang bisa mengantarkan mereka ke puskesmas,” jelas Kristin.

Ia berharap dukungan transportasi dapat membantu warga yang membutuhkan layanan kesehatan agar lebih mudah menjangkau fasilitas kesehatan.

Kristin juga menginginkan Posyandu semakin berkembang dan tidak hanya identik dengan kegiatan penimbangan balita.

Menurutnya, Posyandu perlu menjadi tempat pelayanan kesehatan pertama yang mudah dijangkau masyarakat, baik untuk menyampaikan keluhan kesehatan maupun melakukan pemeriksaan awal.

“Kalau ada masyarakat yang mengeluh atau merasa sakit, kader bisa diajak. Kemudian mereka bisa datang ke Posyandu untuk cek kesehatan,” katanya.

Sementara itu, Eny mengungkapkan bahwa dukungan anggaran masih menjadi salah satu kebutuhan untuk menunjang keberlangsungan kegiatan Posyandu.

Selain persoalan operasional, regenerasi kader juga menjadi perhatian.

Sejumlah kader yang telah berusia lanjut memilih mengundurkan diri sehingga perlu ada kader baru yang melanjutkan pelayanan kepada masyarakat.

Saat ini, posisi tersebut mulai diisi oleh kader-kader muda yang bersedia terlibat aktif dalam kegiatan Posyandu.

Eny menilai, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), diperlukan untuk memperkuat fasilitas dan pelayanan Posyandu.

“Ke depan kami berharap ada kerja sama dengan pengusaha dan CSR, sehingga Posyandu bisa menjadi tempat yang nyaman bagi balita, lansia dan seluruh sasaran sesuai siklus hidup,” jelasnya.

Dia pun berpesan agar seluruh kader tetap menjaga semangat pengabdian dan terus berperan aktif dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Melalui penguatan keterampilan, pendampingan keluarga, serta dukungan berbagai pihak, Posyandu diharapkan semakin optimal dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Kabupaten Kediri. (ji)