BOJONEGORO — Tradisi Sedekah Bumi di Dusun Gembol dan Dusun Mlaten, Desa Sidomulyo, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, berlangsung semarak.
Puncak kegiatan yang digelar Selasa (18/8/2026) malam itu tidak hanya menjadi ajang ungkapan syukur warga, tetapi juga panggung untuk merawat kesenian tradisional.
Beragam pertunjukan disuguhkan di kediaman Kepala Dusun Gembol, Subakir.
Ratusan warga tampak antusias menyaksikan rangkaian hiburan yang menghadirkan penampilan seniman sekaligus generasi muda.
Salah satu pertunjukan yang langsung mencuri perhatian adalah Tari Rampak.
Tarian tersebut dibawakan para siswi Muhammadiyah 2 Sumberrejo yang tergabung dalam Sanggar Seni Tari Senggara Tasik.
Kekompakan gerakan para penari muda membuat suasana panggung semakin hidup.
Penonton pun memberikan sambutan meriah sepanjang penampilan berlangsung.
Bagi masyarakat, kehadiran para pelajar dalam panggung Sedekah Bumi memiliki makna lebih dari sekadar hiburan.
Penampilan mereka menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di kalangan generasi muda.
Tak hanya Tari Rampak, panggung budaya tersebut juga diramaikan sekitar 20 grup tari.
Masing-masing kelompok membawa kreativitas dan karakter pertunjukan yang berbeda untuk menghibur masyarakat Desa Sidomulyo dan wilayah sekitarnya.
Keterlibatan anak-anak dan generasi muda sekaligus menjadi ruang untuk mengasah bakat, mengekspresikan kreativitas, serta mengenalkan budaya lokal kepada generasi sebaya.
Kemeriahan Sedekah Bumi kemudian berlanjut melalui Gebyar Langen Tayub.
Pertunjukan tersebut menghadirkan Seni Karawitan New Margo Laras dari Bluluk, Kabupaten Lamongan.
Sejumlah waranggono turut tampil, yakni Nyi Wariati, Nyi Supriati, Nyi Ariati dan Nyi Tutik.
Mereka tampil bersama pramugari Ki Gento dan Ki Juki, menambah semarak suasana malam Sedekah Bumi.
Kepala Desa Sidomulyo, Hari Agus Sugiharto, S.E., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam kegiatan tersebut.
“Saya atas nama Pemerintah Desa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang berpartisipasi dalam acara ini sehingga terlaksana dengan lancar dan aman. Semoga untuk tahun mendatang kita adakan lagi yang lebih meriah,” ujarnya.
Menurut Hari, Sedekah Bumi bukan sekadar tradisi tahunan. Di balik rangkaian kegiatan tersebut terdapat nilai syukur, kebersamaan, dan kepedulian sosial yang perlu terus diwariskan.
Ia menilai kegiatan budaya seperti ini juga menjadi kesempatan penting bagi generasi muda untuk mengenal kesenian daerah secara langsung.
“Dengan adanya kegiatan seperti ini, anak-anak muda juga memiliki ruang untuk menunjukkan kreativitas sekaligus mengenal dan mencintai budaya lokal,” tambahnya.
Puncak Sedekah Bumi 2026 di Dusun Gembol dan Dusun Mlaten akhirnya menjadi perayaan yang mempertemukan tradisi, seni, dan kebersamaan warga.
Di tengah perkembangan zaman, semaraknya panggung budaya di Sidomulyo menjadi bukti bahwa tradisi lokal masih mampu menarik perhatian masyarakat sekaligus menjadi ruang bagi generasi muda untuk ikut menjaga warisan budaya. (er)












