BOJONEGORO – Peringatan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349 tidak hanya menghadirkan hiburan dan pertunjukan seni budaya bagi masyarakat.
Momentum perayaan tersebut juga membuka peluang ekonomi bagi pedagang kecil yang mendapatkan kesempatan berjualan di kawasan Alun-Alun Bojonegoro, Sabtu (24/10/2026).
Kesempatan itu mendapat sambutan positif dari Paguyuban Pedagang Kaki Lima Budal Makmur (PKL BM).
Para pedagang menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro atas ruang usaha yang diberikan dalam rangkaian puncak peringatan hari jadi daerah tersebut.
Bagi pedagang kaki lima, kegiatan yang melibatkan banyak pengunjung menjadi peluang untuk memperkenalkan produk, menjangkau konsumen baru, sekaligus menambah penghasilan.
Karena itu, keterlibatan mereka dalam agenda HJB ke-349 dinilai memiliki arti penting bagi keberlangsungan usaha kecil.
Ketua PKL BM Budal Makmur, Ayik, melalui perwakilannya, Eko, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, Wakil Bupati Nurul Azizah, Kepala Satpol PP Bojonegoro Anie, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) yang turut mendukung kegiatan tersebut.
Menurutnya, kesempatan berjualan di pusat keramaian daerah merupakan bentuk perhatian terhadap pelaku usaha kecil yang membutuhkan ruang untuk mengembangkan usahanya.
“Kami dari PKL BM Budal Makmur mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati Setyo Wahono, Ibu Wakil Bupati Nurul Azizah, Ibu Ani selaku Kasatpol PP, serta seluruh dinas terkait. Kami bersyukur telah diberikan kesempatan untuk berjualan di kawasan Alun-Alun Bojonegoro pada perayaan HJB ke-349. Semoga kesempatan seperti ini membawa manfaat bagi para pedagang kecil,” ujar Ayik, Minggu (25/10/2026).
Puncak peringatan HJB ke-349 pada Sabtu malam dikemas melalui Festival Sandur dan Pesta Rakyat di Alun-Alun Bojonegoro.
Kegiatan tersebut menghadirkan kesenian tradisional khas Bojonegoro dengan lakon teater Lemah Nunggal.
Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian budaya lokal sekaligus memberikan hiburan kepada masyarakat.
Di sisi lain, ramainya kegiatan publik turut membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk menawarkan produk mereka kepada pengunjung.
Melalui agenda Bojonegoro Bahagia Car Free Night, pemerintah daerah juga menyediakan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memasarkan dagangannya.
Kegiatan ini menggantikan Bojonegoro Night Carnival dan melibatkan sekitar 100 UMKM lokal.
Selain menghadirkan hiburan rakyat, kegiatan tersebut turut dimeriahkan dengan pembagian kupon undian bagi masyarakat.
Kehadiran pedagang di tengah rangkaian acara memperlihatkan bahwa perayaan hari jadi daerah dapat menjadi ruang pertemuan antara pelestarian budaya, hiburan publik dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Bagi PKL BM Budal Makmur, kesempatan tersebut bukan hanya berkaitan dengan aktivitas jual beli selama acara berlangsung.
Momentum itu juga dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan produk kepada calon pelanggan yang sebelumnya belum mengetahui usaha mereka.
Dengan jangkauan konsumen yang lebih luas, pedagang diharapkan memiliki peluang untuk memperluas pasar dan membangun hubungan dengan pelanggan baru.
Ayik berharap kesempatan serupa dapat terus diberikan kepada pedagang kecil dalam berbagai agenda yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
Menurutnya, dukungan terhadap UMKM akan memberikan manfaat lebih besar apabila tidak berhenti pada perayaan hari jadi daerah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat ekonomi masyarakat.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan dan semakin banyak melibatkan UMKM lokal. Kesempatan berjualan seperti ini sangat berarti bagi pedagang kecil karena dapat membantu menambah penghasilan, mengembangkan usaha, dan ikut berkontribusi terhadap perekonomian Kabupaten Bojonegoro,” katanya.
Dia menilai, keberadaan ruang usaha dalam kegiatan publik dapat membantu pedagang kecil memperoleh kesempatan yang lebih luas untuk memperkenalkan produk mereka.
Namun, pengembangan UMKM juga membutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, dinas terkait, paguyuban pedagang, dan masyarakat.
Kerja sama yang baik diperlukan agar penyelenggaraan kegiatan publik dapat berjalan tertib sekaligus memberikan manfaat bagi pelaku usaha.
Ayik berharap komunikasi antara pemerintah dan para pedagang terus diperkuat sehingga kesempatan untuk berjualan dapat dikelola secara baik dan memberikan manfaat bagi semua pihak.
“Kami berharap sinergi antara pemerintah dan masyarakat terus terjalin dengan baik. Semoga UMKM di Bojonegoro semakin berkembang, semakin maju dan mampu meningkatkan kesejahteraan para pelaku usaha kecil,” pungkasnya.
Apresiasi dari PKL BM Budal Makmur menjadi gambaran pentingnya keterlibatan pelaku usaha lokal dalam kegiatan perayaan daerah.
HJB ke-349 diharapkan tidak hanya menjadi momentum untuk memperkuat identitas, kebanggaan dan kecintaan masyarakat terhadap Bojonegoro, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari usaha kecil.
Kegiatan yang menggabungkan seni budaya, hiburan rakyat, dan pemberdayaan UMKM berpotensi menjadi ruang produktif bagi masyarakat apabila didukung dengan perencanaan yang baik dan pelibatan pelaku usaha lokal.
Bagi para pedagang kaki lima, kesempatan berjualan di tengah perayaan besar daerah menjadi peluang untuk terus bertumbuh.
Sementara bagi pemerintah, kolaborasi semacam ini dapat menjadi salah satu upaya memperluas partisipasi masyarakat dalam pembangunan ekonomi daerah.
Dengan dukungan yang berkelanjutan, momentum HJB diharapkan mampu menghadirkan manfaat yang lebih luas, mulai dari menjaga warisan budaya, menghidupkan aktivitas ekonomi lokal, hingga memperkuat kemandirian UMKM di Kabupaten Bojonegoro. (er)






