Daerah

Puluhan Produk Rajutan Warga Binaan Lapas Kediri Dikirim ke Solo

aksesadim01
×

Puluhan Produk Rajutan Warga Binaan Lapas Kediri Dikirim ke Solo

Sebarkan artikel ini
IMG 20260929 WA0008

KEDIRI – Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kediri mulai mengembangkan keterampilan merajut menjadi produk bernilai ekonomi.

Melalui kerja sama dengan PT Arta Jayandra Perkasa, mereka tidak hanya belajar membuat kerajinan, tetapi juga berkesempatan terlibat dalam proses produksi perusahaan.

Program pembinaan kemandirian tersebut diwujudkan melalui pelatihan merajut yang digelar pada Sabtu (26/9/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membekali warga binaan dengan keterampilan produktif yang dapat dimanfaatkan selama menjalani masa pembinaan maupun setelah kembali ke masyarakat.

Sebanyak 14 warga binaan mengikuti pelatihan tersebut, terdiri dari tujuh perempuan dan tujuh laki-laki.

Mereka mendapatkan pembelajaran teknik dasar merajut hingga memahami standar produksi agar hasil kerajinan memiliki kualitas dan nilai jual.

Materi pelatihan mencakup teknik pengerjaan, ketepatan pola, kerapian, serta kualitas produk akhir.

Seluruh tahapan tersebut menjadi perhatian penting agar hasil rajutan memenuhi standar yang ditetapkan perusahaan.

Pelatihan ini bukan hanya kegiatan mengisi waktu selama masa pembinaan.

Hasil karya warga binaan bahkan telah masuk dalam rantai produksi PT Arta Jayandra Perkasa.

Sepanjang September 2026, Lapas Kediri telah mengirimkan puluhan produk rajutan ke Solo untuk diproses lebih lanjut oleh perusahaan tersebut.

Produk yang dihasilkan cukup beragam, mulai dari tas, dompet, boneka, hingga berbagai kerajinan lainnya.

Kegiatan pelatihan dilaksanakan secara rutin setiap minggu dengan pendampingan langsung dari Manda Handayani, pemilik sekaligus CEO usaha kerajinan rajut.

Pemateri didatangkan dari Solo untuk memberikan bimbingan secara terperinci, sehingga warga binaan dapat menguasai proses pembuatan produk sesuai standar produksi.

Selain mendapatkan keterampilan, warga binaan juga berpeluang memperoleh premi atau upah dari hasil karya yang memenuhi standar.

Skema ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat kerja produktif sekaligus memberikan penghargaan atas hasil kerja mereka.

Komisaris PT Arta Jayandra Perkasa, Arja Rusli, mengatakan pelatihan tersebut merupakan tindak lanjut dari kerja sama yang telah disepakati melalui nota kesepahaman atau MoU dengan Lapas Kediri.

Ia berharap program ini dapat membuka kesempatan bagi warga binaan untuk mengembangkan keterampilan secara berkelanjutan sekaligus menghasilkan produk berkualitas.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi jalan baru bagi Warga Binaan untuk berkarya dan memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Setiap hasil karya harus memenuhi standar produksi, mulai dari teknik dasar, presisi pola, kerapian, hingga kualitas akhir. Bagi Warga Binaan yang telah mahir dan memenuhi standar, tentu akan kami pertimbangkan untuk terus dilibatkan dalam proses produksi perusahaan,” ungkap Arja.

Kerja sama tersebut diharapkan mampu memberikan pengalaman kerja nyata kepada warga binaan, sekaligus membuka peluang keterlibatan mereka dalam kegiatan produksi perusahaan.

Kepala Lapas Kelas IIA Kediri, Gatot Tri Rahardjo, menegaskan bahwa pembinaan kemandirian harus memberikan manfaat nyata bagi warga binaan.

Menurutnya, keterampilan yang diperoleh selama menjalani masa pembinaan diharapkan dapat menjadi bekal untuk membangun kehidupan yang lebih produktif setelah kembali ke masyarakat.

“Kami ingin setiap pelatihan tidak berhenti pada proses belajar, tetapi menjadi bekal produktif yang dapat dikembangkan setelah Warga Binaan kembali ke masyarakat. Kami mengapresiasi PT Arta Jayandra Perkasa yang telah memberikan kesempatan kepada Warga Binaan untuk belajar dengan standar produksi sekaligus menghasilkan karya bernilai ekonomi,” ujar Gatot.

Melalui kolaborasi tersebut, Lapas Kediri terus mendorong warga binaan agar mampu mengembangkan keterampilan, menghasilkan karya bernilai jual, dan membangun kemandirian ekonomi.

Dari keterampilan merajut, diharapkan lahir peluang baru bagi warga binaan untuk kembali ke tengah masyarakat dengan bekal kemampuan yang bermanfaat dan produktif. (ji)