BOJONEGORO – Musim kemarau yang selama bertahun-tahun menjadi momok bagi petani Desa Lengkong, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, kini perlahan berubah menjadi peluang.
Kehadiran sumur bor dalam yang dibangun Pemerintah Desa (Pemdes) Lengkong membuat lahan pertanian tetap mendapatkan pasokan air meski memasuki puncak musim kemarau.
Kondisi tersebut membawa perubahan besar bagi petani, sawah yang sebelumnya bergantung pada hujan kini tetap dapat ditanami, bahkan pola tanam meningkat menjadi tiga kali padi dalam setahun, ditambah tanaman palawija.
Kepala Desa Lengkong, Drs. H. Ahmad Sholihin, mengatakan persoalan air selama ini menjadi tantangan serius bagi wilayahnya.
Menurutnya, kawasan bagian utara Desa Lengkong memiliki kondisi geografis yang cukup unik. Ketika musim hujan datang, wilayah tersebut rawan banjir.
Namun saat kemarau tiba, persoalannya berbalik menjadi kekeringan.
Sumber air dari Waduk Pacal maupun Bengawan Solo juga relatif jauh dari desa, dengan jarak sekitar 8 kilometer.
“Alhamdulillah, sekarang petani di Desa Lengkong saat musim kemarau tidak lagi kekurangan air. Dengan adanya sumur bor, sawah masih bisa dialiri sehingga tetap bisa ditanami. Dulu banjir, sekarang tidak. Dulu kering, sekarang juga tidak,” ujar Solihin, Rabu (23/9/2026).
Bisa Tanam Padi Tiga Kali
Ketersediaan air membuat pola pertanian warga berubah cukup signifikan.
Sebelumnya, petani umumnya hanya mampu menanam padi dua kali dan dilanjutkan satu kali tanaman palawija.
Kini, mereka bisa meningkatkan intensitas tanam menjadi tiga kali padi dalam setahun.
Setelahnya, lahan masih dapat dimanfaatkan untuk tanaman palawija seperti jagung, kedelai hingga berbagai jenis kacang-kacangan.
Kondisi tersebut menjadi semakin terasa ketika memasuki September.
Saat sebagian lahan pertanian mulai mengalami kekurangan air, sawah di Desa Lengkong masih dapat ditanami.
“Kalau airnya tersedia, petani bisa terus menanam. Bahkan dalam satu tahun bisa tiga kali padi. Keuntungannya dobel, karena panen saat kemarau harga gabah justru lebih tinggi,” jelasnya.
Bagi petani, keberadaan sumur bor bukan hanya menyediakan air.
Infrastruktur tersebut juga memberikan kepastian dalam menentukan musim tanam dan mengurangi ketergantungan terhadap curah hujan.
Manfaat program tersebut turut dirasakan langsung oleh petani Desa Lengkong.
H. Muhaimin mengaku keberadaan sumur bor sangat membantu aktivitas pertanian warga.
Lahan yang sebelumnya terkendala ketersediaan air kini dapat kembali dimanfaatkan secara lebih optimal.
“Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah desa. Adanya sumur bor ini sangat membantu petani. Sawah tetap bisa ditanami dan hasilnya juga bisa lebih baik,” ungkap Muhaimin.
Hal senada disampaikan Toyib, petani setempat, ia menyebut produktivitas lahannya mengalami peningkatan setelah pasokan air lebih terjamin.
“Dulu biasanya hanya bisa panen dua kali padi, kemudian satu kali sayuran. Sekarang bisa tiga kali padi dan masih bisa menanam palawija. Kami tidak lagi tergantung hujan,” kata Toyib.
Menurutnya, keberlanjutan program pengairan menjadi hal penting agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas.
Dirinya berharap pengembangan sumur bor dan jaringan pengairan dapat terus dilakukan sehingga semakin banyak lahan pertanian di Desa Lengkong yang memperoleh akses air.
Dengan ketersediaan air yang lebih terjamin, petani tidak hanya dapat meningkatkan intensitas tanam, tetapi juga memiliki peluang memperbesar hasil pertanian dan pendapatan keluarga.
Bagi Desa Lengkong, sumur bor kini menjadi salah satu kunci untuk mengubah persoalan klasik air menjadi peluang produktivitas pertanian.
Musim kemarau yang dulu identik dengan lahan kering, perlahan berubah menjadi musim panen bagi petani. (er)






