Infotaiment

Dari Bangkai Ayam hingga Bom Molotov, Mahfud MD Soroti Teror Influencer

aksesadim01
6238
×

Dari Bangkai Ayam hingga Bom Molotov, Mahfud MD Soroti Teror Influencer

Sebarkan artikel ini
IMG 20260107 WA0033

JAKARTA – Rentetan aksi teror terhadap aktivis dan influencer kembali menjadi sorotan publik di akhir 2025. Teror tersebut diduga berkaitan dengan kritik keras terhadap penanganan bencana di wilayah Sumatera yang terjadi pada November 2025 lalu.

Sejumlah figur publik dengan jutaan pengikut di media sosial secara terbuka menyuarakan kekecewaan atas lambannya respon pemerintah dalam menangani bencana.

Namun, kritik tersebut justru berujung pada intimidasi yang kian mengkhawatirkan.

Bentuk teror yang dialami para influencer pun beragam, mulai dari serangan digital, ancaman langsung, vandalisme, hingga teror fisik berupa pengiriman bangkai hewan dan pelemparan bom molotov.

Situasi ini menuai perhatian mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD.

Dalam kanal YouTube Mahfud MD Official pada Rabu, 7 Januari 2026, Mahfud menegaskan bahwa negara memiliki kewajiban mutlak untuk menjamin rasa aman bagi setiap warga negara.

“Kita semua sepakat, negara ini harus aman. Harus ada ketertiban bagi siapa pun yang menyampaikan pendapat,” ujar Mahfud.

Guru Besar Hukum Tata Negara tersebut menilai, negara tidak boleh membiarkan praktik teror, baik yang dilakukan secara terselubung maupun terang-terangan, terhadap warga yang sedang menjalankan hak konstitusionalnya.

“Ini tidak boleh terjadi lagi. Bicara sedikit di media sosial langsung diteror,” tegasnya.

Mahfud juga mengingatkan bahwa pembiaran terhadap kasus-kasus teror semacam ini dapat menjadi preseden berbahaya di masa depan.

“Kalau satu kasus dibiarkan, suatu saat Anda sendiri bisa mengalami hal yang sama,” tandasnya.

Sebelumnya, publik dihebohkan oleh sejumlah kasus teror yang menimpa aktivis dan influencer.

Pada 30 Desember 2025, Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, menerima teror berupa kiriman bangkai ayam ke rumahnya.

Bangkai ayam tersebut ditemukan di teras rumah tanpa pembungkus. Pada kaki bangkai, terikat secarik kertas berisi pesan bernada ancaman.

“Jagalah ucapanmu apabila anda ingin menjaga keluargamu. Mulutmu harimaumu,” demikian isi pesan tersebut.

Greenpeace menilai aksi ini sebagai bentuk intimidasi serius terhadap kebebasan berpendapat dan kerja advokasi lingkungan.

Kemudian kreator konten asal Aceh, Sherly Annavita, juga mengaku menjadi korban teror setelah menyampaikan pandangannya terkait penanganan bencana di Sumatera.

Melalui unggahan di akun Instagram @sherlyannavita pada 30 Desember 2025, Sherly mengungkapkan bahwa dirinya menerima ancaman berulang melalui pesan pribadi dan media sosial.

Teror tersebut kemudian meningkat ke aksi nyata. “Malam tadi teror jadi semakin jelas ditunjukkan,” tulis Sherly dalam unggahannya.

Selanjutnya, kasus teror paling ekstrem dialami influencer Ramond Donny Adam alias DJ Donny.

Rumahnya menjadi sasaran pelemparan bom molotov oleh dua orang tak dikenal pada Rabu, 31 Desember 2025 dini hari.

Rekaman CCTV menunjukkan dua pelaku bermasker melempar bom molotov yang mengenai kap mobil Donny. Beruntung, api padam sebelum terjadi ledakan besar.

“Untung Allah masih baik sama saya. Apinya mati duluan sebelum meledak,” ujar Donny saat melapor ke Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Donny menegaskan bahwa aksi tersebut membahayakan keselamatan dirinya, keluarga, dan warga sekitar, sehingga ia memutuskan menempuh jalur hukum.

Rangkaian peristiwa ini kembali memantik diskusi publik soal kebebasan berekspresi, keamanan warga negara, serta peran negara dalam melindungi mereka yang menyuarakan kritik. (dpw)