Daerah

Tradisi Buyut Dalem Bojonegoro Juara 1 Jatim, Begini Prosesi Uniknya

aksesadim01
×

Tradisi Buyut Dalem Bojonegoro Juara 1 Jatim, Begini Prosesi Uniknya

Sebarkan artikel ini
IMG 20261016 WA0073

BOJONEGORO – Di balik rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro (HJB) ke-349 tahun 2026, tersimpan tradisi leluhur yang terus dijaga masyarakat.

Salah satunya adalah perawatan cungkup makam Buyut Dalem di Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Bojonegoro, yang memiliki tata cara khusus dan diwariskan secara turun-temurun.

Makam Pangeran Aryo Dalem atau Buyut Dalem tersebut menjadi salah satu tujuan ziarah Bupati Bojonegoro Setyo Wahono bersama Wakil Bupati Nurul Azizah dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Jumat (16/10/2026).

Mengenakan busana bernuansa putih, rombongan disambut juru kunci makam sebelum mengikuti doa bersama dan tabur bunga.

Prosesi ini menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur yang memiliki peran dalam perjalanan sejarah Kabupaten Bojonegoro.

Suasana berlangsung khidmat. Menjelang penutupan acara, rombongan menyerahkan bingkisan kepada juru kunci makam dan imam tahlil.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan makan tumpeng bersama dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan.

Di balik kegiatan ziarah tersebut, perhatian juga tertuju pada tradisi mayu cungkup, yakni memperbaiki dan merawat bagian pelindung makam Buyut Dalem.

Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan Dzulhijah, tepatnya Rabu Pahing.

Sutiyono, juru kunci makam yang merupakan keturunan keempat dari penjaga makam tersebut, menjelaskan bahwa proses penggantian cungkup memiliki aturan tersendiri.

Bahan yang digunakan berupa alang-alang dari wilayah Ngasem.

“Dari pagi sudah mulai dipasang dari bawah. Penggantian cungkup ini menggunakan bahan alang-alang dari Ngasem. Kemudian, bagian wuwung harus diganti tepat pukul 12.00 WIB dan diiringi gending Kodok Ngorek, yang merupakan kesukaan Mbah Buyut Dalem,” terang Sutiyono.

Salah satu bagian yang menjadi perhatian adalah penggantian wuwung, yakni bagian puncak atau bubungan cungkup, yang harus dilakukan tepat tengah hari.

Prosesi tersebut diiringi gending Kodok Ngorek sebagai bagian dari tradisi yang masih dipertahankan.

Rangkaian adat tidak berhenti pada perawatan cungkup, pada Rabu Wage, masyarakat melanjutkannya dengan tradisi manganan atau sedekah bumi sebagai wujud rasa syukur sekaligus upaya menjaga hubungan sosial dan kebersamaan warga.

Pelestarian tradisi di makam Buyut Dalem tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat setempat.

Pada 2026, tradisi tersebut juga berhasil meraih juara pertama dalam lomba tingkat Provinsi Jawa Timur.

Pencapaian ini menjadi bukti bahwa warisan budaya lokal memiliki nilai penting untuk terus dirawat dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

Tradisi mayu cungkup memperlihatkan bagaimana masyarakat menjaga peninggalan leluhur melalui praktik adat yang masih dijalankan hingga sekarang.

Setiap tahapan memiliki ketentuan tersendiri, mulai dari waktu pelaksanaan, penggunaan bahan alami, hingga iringan musik tradisional.

Kunjungan Bupati Setyo Wahono dan rombongan ke makam Buyut Dalem menjadi bagian dari rangkaian ziarah leluhur untuk memperingati HJB ke-349.

Kegiatan tersebut tidak hanya mengajak masyarakat mengenang tokoh-tokoh terdahulu, tetapi juga memperkuat perhatian terhadap keberadaan tradisi dan situs bersejarah di Bojonegoro.

Di tengah perkembangan zaman, pelestarian budaya menjadi tanggung jawab bersama agar nilai-nilai sejarah tidak terputus oleh pergantian generasi.

Melalui ziarah dan keberlanjutan tradisi seperti mayu cungkup serta manganan, warisan leluhur diharapkan tetap hidup sebagai identitas budaya sekaligus kebanggaan masyarakat Bojonegoro. (Er)