LAMONGAN – Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten Lamongan untuk penyusunan RKPD tahun 2027 menuai sorotan.
Di balik ajakan Bupati Lamongan Yuhronur Efendi untuk menyelaraskan arah pembangunan, muncul fakta bahwa ribuan usulan masyarakat justru tidak lolos dalam proses verifikasi.
Dalam forum yang diselenggarakan pada Selasa 31 Maret 2026 tersebut, Bupati Lamongan yang akrab disapa Pak Yes memang menekankan pentingnya program pembangunan yang berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Ia juga menyampaikan tema pembangunan tahun 2027 yang berfokus pada percepatan pemerataan infrastruktur dasar dan ekonomi strategis berwawasan lingkungan.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan antara aspirasi masyarakat dengan hasil akhir perencanaan.
Dari total 8.293 usulan masyarakat yang masuk melalui aplikasi SIPD-RI, hanya 2.276 usulan yang dinyatakan memenuhi syarat.
Artinya, lebih dari 70 persen usulan masyarakat Lamongan tidak terakomodasi.
Hal serupa juga terjadi pada usulan pokok pikiran (pokir) DPRD.
Dari 3.077 usulan yang diajukan, hanya 1.650 yang dinyatakan lolos verifikasi.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar terkait transparansi dan efektivitas proses penyaringan usulan.
Di sisi lain, pemerintah daerah tetap memaparkan sembilan agenda pembangunan prioritas tahun 2027.
Agenda tersebut meliputi pengendalian banjir dan kekeringan, peningkatan kualitas jalan melalui Program Jamula, penguatan ketahanan pangan, peningkatan kualitas SDM, hingga transformasi digital pelayanan publik.
Meski demikian, sejumlah pihak menilai agenda tersebut terkesan ambisius dan belum tentu sejalan dengan kebutuhan riil masyarakat Lamongan, mengingat banyaknya usulan warga yang tidak terakomodasi.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi dalam sambutannya menegaskan bahwa Musrenbang seharusnya menjadi ruang penyempurnaan rencana pembangunan.
Namun kritik muncul karena forum ini dinilai belum sepenuhnya menjadi wadah efektif dalam menjaring aspirasi masyarakat secara menyeluruh.
“Yang diingat bukan seberapa banyak yang direncanakan, tapi seberapa nyata yang dapat diwujudkan,” ujar Pak Yes.
Ironisnya, pernyataan tersebut justru berbanding terbalik dengan fakta banyaknya usulan yang gugur dalam proses seleksi.
Meski berbagai aspirasi telah disampaikan, efektivitas implementasi hasil Musrenbang masih menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat Lamongan. (fs)






