Daerah

Ketum PJI Hartanto Boechori: Haedar Nashir Bagian dari Sejarah Pers Indonesia

aksesadim01
×

Ketum PJI Hartanto Boechori: Haedar Nashir Bagian dari Sejarah Pers Indonesia

Sebarkan artikel ini
IMG 20260815 WA0021

TANGERANG — Dukungan dan apresiasi datang dari kalangan insan pers untuk Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir.

Ketua Umum Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI), Hartanto Boechori, hadir langsung dalam acara Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8/2026).

Kehadiran Hartanto Boechori dari Surabaya secara khusus menjadi bentuk dukungan atas penyerahan Kartu Wartawan Utama Khusus kepada Prof. Haedar Nashir.

Kartu tersebut diserahkan Ketua Dewan Pers Prof. Komaruddin Hidayat dalam rangkaian acara yang digelar di UMJ.

Bagi Hartanto, momen tersebut memiliki makna tersendiri, selain menjadi bentuk penghargaan terhadap perjalanan Haedar Nashir di dunia jurnalistik, acara itu juga mempertemukan sejumlah tokoh senior pers nasional yang memberikan penghormatan.

Di antara tokoh yang hadir terdapat mantan Ketua Dewan Pers Ninik Rahayu, mantan Wakil Ketua Dewan Pers sekaligus Ketua Umum PWI Hendry Ch. Bangun, serta mantan Anggota Dewan Pers Asep Setiawan.

Sejumlah tokoh pers senior lainnya turut hadir dalam momentum tersebut.

Kehadiran para tokoh pers itu memperlihatkan kuatnya solidaritas dan penghargaan terhadap perjalanan panjang profesi jurnalistik.

Pengakuan terhadap Haedar Nashir sekaligus menjadi pengingat bahwa rekam jejak dan kontribusi di dunia pers tetap memiliki nilai penting di tengah perubahan lanskap media.

Hartanto Boechori menilai kiprah Haedar Nashir di dunia jurnalistik memang layak memperoleh apresiasi.

Haedar disebut telah mengenal dunia pers sejak masa mahasiswa dan aktif menulis di Suara Muhammadiyah, media yang telah terbit sejak 1915.

“Ini bentuk penghargaan yang patut kita hormati. Beliau bukan hanya tokoh Muhammadiyah. Beliau juga bagian dari perjalanan panjang pers Indonesia,” ujar Hartanto Boechori.

Di usia 66 tahun, Hartanto tetap menunjukkan perhatian terhadap perkembangan dunia jurnalistik.

Ia menilai pengalaman panjang para tokoh pers dapat menjadi bagian penting dalam menjaga marwah dan kualitas profesi wartawan.

Kartu Wartawan Utama Khusus untuk Haedar Nashir sebelumnya mendapat persetujuan Dewan Pers pada Maret 2026 sebagai bentuk pengakuan terhadap kiprahnya yang panjang sebagai insan pers.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Dewan Pers Prof. Komaruddin Hidayat menekankan pentingnya keberadaan insan pers yang memiliki dedikasi, tanggung jawab, reputasi, serta kualitas di tengah derasnya arus informasi, termasuk ancaman hoaks dan disinformasi.

Pesan itu dinilai relevan dengan tantangan pers saat ini, Hartanto menyebut profesi jurnalistik membutuhkan wartawan yang tidak hanya mampu menghasilkan berita, tetapi juga menjunjung tinggi integritas dan tanggung jawab.

“Pers membutuhkan wartawan yang berintegritas. Penghormatan kepada Prof. Haedar Nashir juga menjadi bagian dari penghormatan terhadap perjalanan panjang profesi jurnalistik Indonesia,” tegasnya.

Acara tersebut turut dihadiri Rektor UMJ Prof. Dr. Ma’mun Murod, M.Si., Direktur LUKW UMJ Dr. Tria Patrianti, S.Sos., M.I.Kom., mantan Ketua Dewan Pers Dr. Ninik Rahayu, mantan Wakil Ketua Dewan Pers sekaligus Ketua Umum PWI Hendry Ch. Bangun, Anggota Dewan Pers dua periode Dr. Asep Setiawan, MA, Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Wakil Ketua MUI Dr. Anwar Abbas, jajaran PP Muhammadiyah, serta sejumlah tokoh pers nasional.

Momentum tersebut menjadi catatan tersendiri bagi perjalanan pers Indonesia.

Bukan hanya penyerahan sebuah kartu, tetapi juga simbol penghargaan terhadap dedikasi, pengalaman, dan kontribusi panjang seorang tokoh dalam dunia jurnalistik. (Er)