TNI/POLRI

Janji Kapolresta Malang Terwujud, Aremania dan Bonek Dipertemukan

aksesadim01
×

Janji Kapolresta Malang Terwujud, Aremania dan Bonek Dipertemukan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260813 WA0059

MALANG – Rivalitas Aremania dan Bonek kembali diarahkan ke jalur yang lebih sehat.

Janji Kapolresta Malang Kota Kombes Pol. Danang Setiyo Pambudi Soekarno bersama Dirintelkam Polda Jawa Timur Kombes Pol.

Bondan Witjaksono untuk mempertemukan dua kelompok suporter terbesar di Jawa Timur akhirnya terealisasi.

Pertemuan berlangsung di sebuah rumah makan di Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Rabu malam (12/8/2026).

Sebanyak 25 perwakilan Bonek dan 30 perwakilan Aremania duduk bersama dalam forum silaturahmi dan dialog yang difasilitasi Kapolres Pasuruan AKBP Harto Agung Cahyono.

Forum tersebut digelar di tengah upaya menjaga situasi keamanan tetap kondusif setelah insiden kericuhan saat perayaan HUT Aremania di Sukorejo, Kabupaten Pasuruan.

Salah satu poin penting yang mengemuka adalah penanganan hukum diarahkan kepada individu yang terbukti melakukan pelanggaran, bukan menyasar kelompok suporter secara keseluruhan.

Kesepakatan itu dinilai penting untuk mencegah persoalan individu berkembang menjadi konflik antarkelompok.

Dialog juga menjadi ruang untuk membuka komunikasi langsung, meredam emosi, sekaligus membangun kembali kepercayaan di antara Aremania dan Bonek.

Kapolresta Malang Kota Kombes Pol. Danang Setiyo Pambudi Soekarno mengatakan pertemuan tersebut merupakan bentuk nyata dari komitmen yang sebelumnya disampaikan kepada publik.

Menurut Danang, rivalitas dalam sepak bola merupakan hal yang wajar selama berlangsung secara sportif dan hanya terjadi ketika kedua tim bertanding.

Di luar lapangan, Aremania dan Bonek tetap memiliki ikatan sebagai sesama masyarakat Jawa Timur.

“Bonek dan Aremania adalah saudara sesama warga Jawa Timur. Pertemuan ini menjadi momentum untuk memutus rantai permusuhan dan tidak mewariskan dendam kepada generasi berikutnya,” tegas Danang saat dikonfirmasi.

Ia menilai perdamaian tidak bisa dibangun hanya melalui imbauan.

Diperlukan komunikasi langsung dengan tokoh suporter hingga komunitas di tingkat akar rumput agar potensi persoalan dapat diselesaikan sebelum berubah menjadi konflik.

Danang juga mendorong para tokoh suporter menjadi contoh bagi anggotanya dalam mengedepankan kedewasaan, sportivitas dan sikap saling menghormati.

“Rivalitas harus tetap berada di lapangan. Di luar lapangan, kita harus menjaga persaudaraan dan keamanan Jawa Timur,” ujarnya.

Sementara itu, Dirintelkam Polda Jatim Kombes Pol. Bondan Witjaksono mengajak Aremania dan Bonek memperkuat semangat “Jogo Jawa Timur”.

Bondan menegaskan bahwa menjaga keamanan bukan hanya tugas kepolisian.

Komunitas suporter juga memiliki peran besar karena memiliki pengaruh kuat terhadap anggotanya.

Dia secara khusus menyoroti potensi provokasi melalui media sosial.

Informasi yang belum terverifikasi dapat menyebar cepat dan memicu kesalahpahaman yang berujung pada gesekan.

“Tokoh dan komunitas suporter harus aktif mengingatkan anggotanya agar tidak mudah terpancing provokasi di media sosial. Mari bersama menjaga Jawa Timur tetap aman dan kondusif,” kata Bondan.

Menurutnya, komitmen menjaga kerukunan semakin penting karena Jawa Timur akan menghadapi berbagai agenda besar.

Soliditas masyarakat harus terus diperkuat agar rivalitas olahraga tidak bergeser menjadi persoalan sosial.

Dukungan terhadap langkah tersebut disampaikan perwakilan Aremania, Dedi Arisandi.

Dia menilai penegakan hukum terhadap pelaku pelanggaran tetap diperlukan untuk memberikan efek jera sekaligus menjaga kepercayaan dalam proses perdamaian.

Tokoh Aremania dari Presidium Arema Bidang SDM, Tedi Kresna, juga menyatakan dukungan terhadap penguatan komunikasi antarsuporter.

Dari kubu Bonek, Tokoh Bonek Pandaan, Reza, menyampaikan keprihatinan atas insiden di Sukorejo.

Dirinya mendorong komunikasi di tingkat akar rumput terus diperkuat sehingga persoalan tidak langsung berkembang menjadi gesekan.

Pertemuan Aremania dan Bonek ini menjadi salah satu langkah preventif Polda Jatim bersama jajaran kewilayahan untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan yang melibatkan massa suporter.

Pesan yang dibawa dari Pandaan cukup jelas, yakni sepak bola boleh menghadirkan rivalitas, tetapi jangan sampai rivalitas menghapus persaudaraan.

Kecintaan terhadap klub tetap bisa ditunjukkan dengan fanatisme dan kreativitas, sementara keamanan serta kenyamanan masyarakat harus menjadi kepentingan bersama.

Semangat “Jogo Malang, Jogo Jawa Timur” pun diharapkan tidak berhenti sebagai slogan.

Komitmen itu harus diwujudkan melalui komunikasi, sikap dewasa, sportivitas dan keberanian untuk menolak provokasi demi masa depan sepak bola Jawa Timur yang lebih aman dan bermartabat. (Fur)